Orang Benar Akan Masuk ke Dalam Hidup yang Kekal
Syalom, Damai di hati.
Pembina dan Remaja GMIM apa kabarnya saat ini?
Syukur kepada Allah kita persembahkan sebab kasih dan setiaNya dalam kehidupan kita sekalian sehingga kita dimungkinkan ada dalam persekutuan ibadah disaat ini.
Teens, ada ungkapan dari Om Sam Ratulangi bilang bagini “SITOU T1MOU TUMOU TOU” ada yang tau depe arti? (silahkan mereka menjawab dan setiap jawaban diberikan apresiasi) “Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Yang Lainnya”. Ini adalah ungkapan yang tak asing lagi kan ditelinga kita sebagai orang SULUT, tapi apakah kata yang sering kita dengarkan ini sudah kita lakukan?
Mari kita belajar dari bagian perenungan kita sebagai warga GMIM diminggu berjalan ini tentang ‘Orang Benar Akan Masuk Ke Dalam Hidup Kekal’. Dalam Matius 25:31-46 mengisahkan tentang gambaran akan penghakiman terakhir, dimana Yesus sebagai Hakim akan memisahkan orang-orang seperti gembala yang memisahkan domba dari kambing. Pada ayat-ayat ini, Yesus menggambarkan bagaimana orang-orang akan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka terhadap sesama, terutama yang lemah dan membutuhkan. Mereka yang melakukan perbuatan baik terhadap orang lain dianggap seperti domba dan akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sisi lain, mereka yang mengabaikan atau tidak membantu orang-orang yang membutuhkan dianggap seperti kambing dan akan dihukum ke dalam api yang kekal.
Yesus menekankan pentingnya kasih, belas kasihan, dan pelayanan kepada sesama sebagai tindakan konkret dalam mengasihi Allah: memberikan makan orang lapar, memberikan minum kepada yang haus, menyambut orang asing, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menjenguk orang sakit, dan mengunjungi orang yang dipenjarakan. Bagi Yesus, percaya kepada-Nya saja belum cukup untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus menuntut lebih. Yesus ingin agar kabar sukacita yang kita dengarkan dan kita pahami dengan sangat baik, kita terapkan dalam hidup sehari-hari. Yesus tidak mau kita hanya pandai berbicara tentang kasih, namun saat ada teman, sahabat dan keluarga yang sedang berada dalam kesulitan meminta bantuan, kita tidak membantu, bahkan memilih menjauh dan mencemooh.
Bagi Yesus, kasih tak sekadar kata. Kasih melampaui segala batas yang ada dalam kamus hidup manusia. Kasih harus dibuktikan dalam tindakan nyata sehari-hari. Dengan berbuat baik kepada sesama, kita sebenarnya melayani dan mengasihi Kristus sendiri.
“Torang sebagai remaja GMIM yang hidup karena kasih Allah dan hidup dalam FirmanNya tantu torang suka mo maso sorga toh, makanya katu musti beking tu bagus-bagus. Kalu nemau orang beking pa torang noh jangan lagi torang beking pa orang lain supaya ini hidop yang Tuhan kase penuh makna kasih dan damai. Deng torang yang so tau mana tu butul musti beking jangan cuma babadiam kama kalu torang beking torang mo trima tu hidop kekal”.
Dari gambaran penghakiman terakhir yang kita dengarkan dan renungkan dari bacaan Injil saat ini, kiranya menjadi semacam pengingat bagi kita semua sebagai pembina maupun remaja untuk selalu berbuat baik kepada siapapun yang kita jumpai. Perhatian dan bantuan tidak hanya kita arahkan kepada orang yang dapat membalas kebaikan kita; justru kepada yang paling hina, kepada yang tidak dapat membalas, kepada yang paling membutuhkan. Perbuatan-perbuatan baik kita itu pun hendaknya dilakukan dengan ketulusan, kerendahan hati, dan tidak bermotivasi keuntungan atau kemuliaan diri.
Mari kita praktekan hidup yang saling membantu dan menopang sebagai bentuk kita menjadikan kasih Kristus yang nyata dalam tindakan kita sehari-hari. Amin.