Bertekun Dalam Pengajaran dan Dalam Persekutuan
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus,
Dunia ini sesungguhnya adalah dunia yang terus mencari sebuah model yang benar di tengah kebobrokan dan kerusakan dunia itu sendiri. Dunia ini adalah dunia yang mencari model-model tertentu seperti model kasih yang benar di tengah fakta bahwa dunia ini dipenuhi dengan kasih yang tidak tulus dan hanya bersifat transaksional (aku mengasihimu selama kamu memiliki sesuatu yang aku inginkan). Dunia ini juga adalah dunia yang terus mencari model komunitas yang memiliki sukacita dan damai sejahtera dalam arti yang sebenarnya, bukan sekadar komunitas yang menawarkan kesenangan belaka yang bersifat sementara, yang cepat-cepat pergi dan hilang. Bukankah kita pun mencari hal yang sama, sebuah model sejati dalam hidup ini?
Kisah Para Rasul pasal 2 menunjukkan model yang benar dari apa yang selama ini dicari manusia, yakni model yang benar dari kasih yang benar, di tengah komunitas yang benar.
Dampak yang luar biasa karena Roh Kudus telah dicurahkan atas orang percaya segera nyata terlihat oleh orang banyak. Rasul Petrus yang dikuasai Roh Kudus berkhotbah di hadapan banyak orang di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:14-40), lalu Alkitab menunjukkan apa yang terjadi selanjutnya, "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa" (Ayat 41). Pada orang-orang yang percaya dan dibaptis inilah model yang benar dari kasih yang benar, di tengah komunitas yang benar, akan terlihat. Mereka disebut sebagai gereja, yakni orang-orang yang "berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah" (Kisah Para Rasul 2:11). Dengan kata-kata mereka memberitakan Injil Yesus Kristus, yakni karya kematian dan kebangkitan-Nya yang menyelamatkan itu, lalu menyatakan Injil itu dalam hidup setiap hari lewat tingkah laku dan perbuatan mereka. Model dan karakter jemaat mula-mula nyata dalam empat hal esensi yang mereka jalankan dan praktikkan: (1) bertekun dalam pengajaran para rasul, (2) persekutuan, (3) berkumpul untuk memecahkan roti, dan (4) doa.
Model dan karakter yang ditunjukkan jemaat mula-mula telah membawa dampak sangat besar di masa itu, tetapi seharusnya bukan hanya di masa itu. Model dan karakter tersebut harus menjadi contoh jemaat di masa kini, termasuk dalam pelayanan pembina dan remaja hari-hari ini, agar berdampak nyata di tengah dunia. Hal pertama yang menunjukkan karakter jemaat mula-mula adalah komitmen mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka mendengar dan mengikuti khotbah-khotbah dan pengajaran para rasul yang jelas berdasar pada Kitab Suci dan penggenapannya dalam hidup, pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Para rasul telah lebih dahulu menerima hal itu dari Guru mereka, sebagaimana dikatakan Lukas 24:27, "Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi." Itulah yang diteruskan para rasul kepada jemaat mula-mula, yang mereka beritakan dan saksikan tentang Kabar Baik bagi seluruh dunia dan sampai ke ujung dunia (band. Kisah Para Rasul 1:8).
Selanjutnya, jemaat mula-mula menunjukkan komitmen mereka pada persekutuan, koinonia. Mereka menunjukkan arti gereja sejati sebagai kumpulan orang-orang percaya yang saling terhubung satu sama lain sebagai tubuh Kristus. Di tengah dunia yang makin individualistis dan menekankan kerohanian untuk diri sendiri saja, jemaat mula-mula menunjukkan bahwa kasih yang benar hanya dapat nyata dalam komunitas, yakni hidup bersama dengan orang lain. Adalah sangat penting untuk melihat bagaimana keadaan kita hari-hari ini. Mungkinkah kita semakin jauh satu sama lain dan lepas dari persekutuan yang dikehendaki Tuhan? Bila kita masih memandang muka dan menilai orang dari hal-hal lahiriah, bila bullying secara verbal dan kekerasan masih terjadi di antara kita, dan bila kepekaan terhadap keadaan orang di sekitar kita tidak ada lagi, maka takkan ada persekutuan yang benar di antara kita.
Itulah sebabnya jemaat mula-mula perlu menjadi model dari apa yang harus nyata pada kita. Mereka adalah orang-orang yang membangun kepekaan satu sama lain, terutama kebutuhan dan persoalan orang lain di sekitar mereka. Saat mereka berkumpul, mereka berkumpul untuk memecahkan roti. Frasa ini dapat diselamatkan dalam dua pengertian, yakni bahwa mereka memecahkan roti dalam Perumahan Kudus dan bahwa mereka memecahkan roti untuk berbagai makanan dan minuman dengan satu sama lain. Dua hal ini dipraktikkan oleh jemaat mula-mula. Ibadah kita kepada Tuhan seharusnya mendorong kita memperhatikan kebutuhan orang lain juga. Di sinilah diakonia menjadi gaya hidup jemaat mula-mula. Hal ini ditegaskan oleh Kisah Para Rasul 2:44-46, "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah." Penting untuk merenungkan hal ini, sebagaimana dikatakan 1 Yohanes 4:20, "barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."
Karakter selanjutnya yang menandai jemaat mula-mula adalah komitmen mereka terhadap hidup dalam doa, a life of prayer. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kebergantungan orang percaya kepada Tuhan, harapan akan masa depan, dan hasrat bagi kemajuan pekerjaan pemberitaan Injil, ditunjukkan mereka dalam doa yang terus-menerus. Tak ada orang percaya yang sungguh-sungguh dalam hidup mereka yang tidak hidup dalam doa. Ketekunan mereka dalam doa menjadi jalan bagi kuasa Allah dinyatakan kepada mereka dan melalui mereka. Doa menjadi alasan banyaknya mujizat dan tanda di dalam kehidupan jemaat, termasuk melalui mereka kepada orang banyak. Orang banyak yang melihat pekerjaan Tuhan melalui jemaat mula-mula dan model kehidupan yang mereka tunjukkan, pada akhirnya menjadi percaya dan ditambahkan ke dalam komunitas orang-orang yang telah diselamatkan itu (ayat 47).
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, bukankah kita juga harus menyatakan dampak yang sama seperti jemaat mula-mula? Sebelum kita mengeluh dan mengatakan segala kekurangan kita yang mungkin menghalangi dampak kita bagi dunia, biarlah kita diyakinkan oleh satu hal ini: jemaat mula-mula menjadi berdampak melalui model dan karakter hidup mereka karena satu alasan besar, yakni Roh Kudus yang bekerja secara luar biasa di dalam dan melalui mereka. Bukankah kita juga adalah Bait Roh Kudus? Maka sudah seharusnya kita dapat membawa dampak yang sama di mana kita pergi dan berada. Hidup yang berakar dalam firman Tuhan, yang memandang penting persekutuan, yang peka terhadap orang lain, dan yang bertekun dalam doa, kelak membawa dampak besar, bahkan bila hal itu dimulai dari lingkungan terkecil kita. Oleh kuat kuasa Roh Kudus, kita akan dimampukan, jadilah model! Tuhan menolong kita. Amin.