Bina Remaja GMIM
MENU
Bina Remaja GMIM, 22-28 Februari 2026, - Bina Remaja GMIM

Bina Remaja GMIM, 22-28 Februari 2026,

Mazmur 130:1-8

Pada Tuhan Ada Pengampunan

Pada Tuhan Ada Pengampunan

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus,

Kebahagiaan sejati tidak ditentukan pertama-tama oleh hal-hal lahiriah, melainkan oleh hal-hal batiniah seseorang. Tidak percaya? Jelaslah bahwa semua orang mencari lebih dari sekadar kebahagiaan karena hal-hal lahiriah. Kata orang, memiliki bangunan rumah belum tentu membuat seseorang memiliki rumah dalam artian yang sebenarnya. People looking for home sweet home, not just for a house. Walaupun materi itu penting, namun uang tak dapat membeli sukacita dan damai sejahtera yang kelak membuat rumah menjadi tempat penuh kebahagiaan dalam artian yang sebenarnya. Berbicara diri manusia, setiap orang memiliki hal-hal dalam dirinya yang harus diselesaikan dan dibereskan agar kebahagiaan sejati dapat dirasakan. Materi takkan dapat menyelesaikan hal-hal seperti rasa bersalah dan penyesalan dalam diri seseorang terhadap hal-hal yang sudah berlalu.

Mazmur 130 adalah mazmur ratapan yang masuk dalam kumpulan mazmur ziarah (Mazmur pasal 120-134). Mazmur ini dinyanyikan oleh umat Allah yang sedang mengadakan ziarah, sebuah perjalanan suci menuju ke Yerusalem. Walaupun dinyanyikan secara komunal, namun isi mazmur ini berfokus pada pengalaman pribadi pemazmur, pergulatan batinnya, dan seruannya kepada Tuhan. Situasi dan kondisinya dibahasakan pemazmur dengan menggunakan frasa "jurang yang dalam." Kata Ibrani yang dipakai adalah ma'amaqqim, menunjuk bukan hanya pada jurang yang dalam, melainkan pada samudera yang dalam. Dalam pandangan Israel, samudera yang dalam adalah simbol kekacauan dan bahaya yang besar. Inilah yang membuat pemazmur berseru kepada Tuhan, dan memohon "Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku."

Pergumulan menghadapi bahaya yang membuat pemazmur berseru kepada Tuhan dikaitkannya dengan kesadaran akan dosa dan hukuman atas dosa-dosa dan pelanggaran yang dilakukannya. Pemazmur berkata, "Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?" Kata Ibrani dari kata "kesalahan" adalah awon, menunjuk pada dosa sekaligus konsekuensi atas dosa. Kesadaran akan dosa dan konsekuensinya adalah sesuatu yang baik, sebab hal itu melahirkan kerendahan hati yang benar dan mendorong seseorang untuk mencari pengampunan dan kelepasan dari Tuhan. Pemazmur yang mencari Tuhan membuatnya memandang pada sifat dan karakter Allah yang penuh kasih setia dan karenanya mau mengampuni. "Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang," kata pemazmur. Tidak ada yang dapat tahan pada penghukuman Tuhan atas dosa, maka orang yang menyadari hal ini akan bergegas, tanpa menunda-nunda lagi, mencari pengampunan Tuhan.

Semua pergumulan dalam batinnya membuat pemazmur berharap penuh kepada Tuhan yang sanggup melepaskannya. Pemazmur berkata, "Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya." Pemazmur berharap karena firman-Nya (davaf), yang dapat diterjemahkan sebagai perkataan atau janji Tuhan. Allah telah memberi janji-janji-Nya kepada Israel, umat-Nya, di dalamnya pengampunan kepada mereka yang bersalah dan mencari pengampunan dari-Nya. Inilah yang meneguhkan pemazmur dan membuat jiwanya menanti-nantikan Tuhan. Pemazmur berkata, "Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi." Kata "mengharapkan" datang dari kata Ibrani qawah yang menunjukkan penantian yang penuh antisipasi, sebagaimana pengawal yang berjaga-jaga di sepanjang malam dan mengharapkan segera datangnya pagi.

Inilah yang menguatkan pemazmur bahwa dalam pergumulannya Allah akan datang dengan kelepasan dan pengampunan-Nya. Kasih setia Allah mendapat penekanan di sini. "Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan." Kasih setia Allah adalah alasan Ia mengadakan pembebasan (padah), laksana membebaskan seseorang dari tahanan penjara. Maka, dari pergumulan batinnya dan janji kelepasan yang diterimanya, pemazmur mendorong seluruh umat Israel menaruh harapan mereka kepada Tuhan, bahwa Ia akan membebaskan umat-Nya dari segala belenggu, termasuk yang diakibatkan oleh dosa dan pelanggaran umat Allah sendiri.

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, bukankah Allah itu luar biasa? Kasih setia-Nya nyata bahkan pada kita yang berdosa dan yang menanggung konsekuensi-konsekuensi dari dosa-dosa kita sendiri. Bila kita hendak jujur pada diri kita sendiri, ada banyak hal yang harus kita tanggung, termasuk beban pikiran, tekanan dalam batin, dan penyesalan-penyesalan tertentu, terjadi karena dosa-dosa kita sendiri. Kecerobohan dan kebodohan kita serta pilihan dan keputusan yang keliru telah membawa kita pada situasi dan kondisi yang tidak baik. Ada orang-orang yang hatinya kita sakiti dan kecewakan, beberapa di antaranya menjadi marah dan tidak suka dengan kita. Dari manakah kita dapat memperoleh kelepasan? Bila hati kita sungguh-sungguh menyadari dosa dan pelanggaran kita, dan mau dengan rendah hati mengakuinya tanpa mencari-cari alasan pembenaran atau menyalahkan orang lain, tersedia pengampunan dan kelepasan bagi kita yang percaya kepada-Nya. Allah telah berjanji sebagaimana Yesaya 55:7 mengatakan, "Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya." Di dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan kasih setia-Nya secara penuh. Ia telah mati di atas kayu salib bagi pengampunan dan kelepasan orang berdosa. Maukah kita datang kepada-Nya dan mencari pengampunan dan pertolongan-Nya? Kita tidak akan dikecewakan saat kita datang kepada-Nya dengan penuh harap, sebab Ia setia pada janji-janji-Nya. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (1 Yohanes 1:9). Amin.