Renungan Lansia GMIM
MENU
Renungan Lansia GMIM, 15-21 Februari 2026 - Renungan Lansia GMIM

Renungan Lansia GMIM, 15-21 Februari 2026

Kisah Para Rasul 2:41-47

Bertekun dalam Pengajaran dan Persekutuan

Bertekun dalam Pengajaran dan Persekutuan

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Pujilah Tuhan, kita mendapat anugerah mencapai usia lanjut karena tidak semua orang menerima anugerah ini. Walaupun sering kali di masa tua ini, kita merasa kesepian, merasa tidak dibutuhkan lagi, tubuh melemah dan anak-anak sibuk dengan urusannya. Namun kita memiliki Tuhan Allah yang tidak pernah berubah, tetap setia berjalan bersama kita. Kitapun bersyukur karena hari ini, Tuhan Allah memberi kesempatan untuk beribadah mendengarkan firman-Nya. Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 menceritakan kehidupan jemaat mula-mula setelah mereka menerima Roh Kudus. Paling tidak ada tiga hal yang kita dapatkan melalui pembacaan Alkitab pada saat ini. Pertama, jemaat bertumbuh karena terbuka pada firman Tuhan Allah (ayat 41-42). Kedua, jemaat yang hidup bertekun dalam pengajaran dan persekutuan (ayat 42-44). Ketiga, jemaat yang saling peduli, berbagi dan memuji Tuhan Allah (ayat 45-48).

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Pemberitaan firman Tuhan Allah melalui khotbah Petrus mendapat respons luar biasa dari para pendengar. Dikatakan: "Orang-orang yang menerima perkataan Petrus itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa." Melalui kesaksian Alkitab ini kita melihat firman Tuhan Allah yang diterima dengan hati yang terbuka, mendapat tempat di hati dan berdampak bagi pertumbuhan jemaat. Dalam hal ini pertumbuhan secara kualitas iman dan kuantitas atau jumlah. Jadi keterbukaan untuk menerima firman Tuhan Allah adalah jalan menerima iman dan jalan menuju pertumbuhan iman.

Selanjutnya, digambarkan ciri khas yang menandai kehidupan persekutuan jemaat mula-mula, "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa." Jemaat mula-mula tidak hidup sendiri-sendiri. Mereka berkumpul, berdoa bersama, makan bersama dan berbagi kehidupan. Kebersamaan jemaat mula-mula ini sangat khas seperti dijelaskan pada ayat 45: "Dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." Kepedulian yang besar terhadap keperluan di antara anggota jemaat adalah tanda kasih Yesus Kristus yang sungguh luar biasa. Tetapi yang perlu dicatat tentang arti dari "sesuai keperluan" di sini adalah sesuai kebutuhan bukan keinginan. Kata Yunani untuk "keperluan" χρεία (chreia), arti secara harfiah adalah kebutuhan, keperluan yang nyata, kekurangan yang harus dipenuhi, sesuatu yang diperlukan agar hidup dapat berjalan. Bukan keinginan dan bukan kemewahan.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Kita sudah lama menjadi orang Kristen dan sudah sering mendengar firman Tuhan Allah. Satu hal yang kita aminkan, bahwa firman Tuhan Allah tetap sama, tidak pernah berubah seperti Tuhan Allah kita tidak pernah berubah. Ketika dahulu Petrus menyampaikan firman Tuhan Allah dan orang yang menerimanya menjadi percaya, demikian juga kita dahulu masih muda dan kini sudah LANSIA mendengar firman Tuhan Allah dan hati kita terbuka menerima di dalam kehidupan membuat iman bertumbuh. Hidup kita lebih tenang, bahkan kita lebih bijaksana memahaminya dan lebih dalam merasakannya. Maka benar kata Mazmur 92:15: "Pada masa tua pun mereka masih berbuah." Artinya: LANSIA tetap bisa bertumbuh secara rohani. Bagi kita Lanjut Usia persekutuan orang-orang percaya adalah obat bagi hati yang sepi. Ketika kita berkumpul hati menjadi hangat, beban terasa ringan, sukacita kembali tumbuh.

Pernahkah kita melihat arang di tempat perapian? Jika arang itu bersama-sama, apinya menyala dan panasnya bertahan lama. Tetapi jika satu arang diambil dan dipisahkan, tidak lama api itu padam dan menjadi dingin. Begitu juga kehidupan iman kita. Ketika kita hidup sendiri, jarang berdoa, jarang bersekutu, iman bisa menjadi lemah. Tetapi saat kita berkumpul, berdoa bersama, saling menguatkan, iman kita tetap menyala.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Selanjutnya marilah kita juga berbagi. Berbagi tidak selalu soal materi atau uang, tetapi kita bisa saling mendoakan dengan tulus, memberi nasihat yang bijaksana, senyum dan sapaan, serta teladan tentang kesetiaan. Ada seorang oma sederhana, tubuhnya sudah lemah, penglihatannya berkurang, dan tidak bisa ke mana-mana. Tetapi setiap pagi, oma ini mendoakan anak-anaknya, mendoakan cucu-cucunya, mendoakan gereja. Beberapa tahun kemudian, anaknya berkata: "Saya percaya, hidup saya disertai Tuhan Allah karena doa mama." Marilah kita hidup demikian, sambil terus bersukacita dan bersyukur. Firman Tuhan Allah berkata: "Dengan gembira dan dengan tulus hati mereka berkumpul." Dengan hati yang bersyukur, kita berterima kasih kepada Tuhan Allah dan mengaminkan semua rencana-Nya di dalam kehidupan, maka damai sejahtera teralami.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Firman Tuhan Allah ini ditutup dengan indah: "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." Kita manusia bekerja melayani-Nya tetapi Tuhan Allah yang menyempurnakan. Sebagai LANSIA, kita mungkin tidak lagi aktif seperti dulu. Tetapi hidup di Lanjut Usia tetap dipakai Tuhan Allah melalui; kesetiaan, doa dan iman sampai akhir hidup. Kisah Para Rasul 2:41-47 mengajarkan kita, bahwa persekutuan hidup beriman tidak mengenal usia yang harus dijalani bersama, dipelihara dengan kasih, sebab Tuhan Allah tetap setia menyertai sampai masa tua. Masa tua bukan akhir pelayanan, tetapi masa menuai iman dan menjadi teladan. Yesus Kristus memberkati. Amin.