Bertekun dalam Pengajaran dan dalam Persekutuan
Wanita/ Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus
Kualitas iman akan turut menentukan cara hidup seseorang. Orang yang setia kepada Tuhan, hidup takut akan Tuhan dan berpegang pada ketetapan Firman Tuhan tentunya akan menampakkan sikap hidup sesuai Firman Tuhan. Seperti itulah kehidupan jemaat mula-mula yang dikisahkan di bacaan kita saat ini.
Khotbah Rasul Petrus tentang Tuhan Yesus membuat banyak orang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat-nya. Orang-orang bertobat dan memberi diri untuk dibaptis seperti yang dapat kita baca dalam ayat 41 "orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis" Baptisan merupakan tanda seseorang menjadi pengikut Tuhan Yesus. Disebutkan bahwa ada kira-kira 3000 jiwa. Suatu peristiwa dahsyat karena kerja Roh Kudus yang mendatangkan pertobatan.
Ketika orang-orang menjadi percaya dan mengikut Tuhan Yesus, mereka tidak hanya dibaptis tetapi mereka hidup bertekun dalam pengajaran firman. Bertekun artinya sesuatu yang dilakukan terus menerus. Jadi mereka selalu berkumpul dalam persekutuan jemaat untuk beribadah memuji Tuhan dan didalamnya mereka belajar mendalami kebenaran Firman Tuhan. Dikatakan bahwa mereka "memecah-mecahkan roti" artinya mereka melakukan ekaristi atau Perjamuan Kudus dengan makan roti dan minum anggur sebagai simbol tubuh dan darah Kristus. Ini merupakan suatu persekutuan yang penting dalam hidup jemaat mula-mula.
Wanita/ Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Persekutuan umat Tuhan yang sehati-sepikir, yang bertekun dalam pengajaran Firman dan doa membuat mereka semakin kuat dalam iman tetapi juga dalam persekutuan sebagai komunitas orang percaya. Ini menjadi kekuatan jemaat yang menimbulkan ketakutan bagi orang-orang sekitar. Apalagi para rasul diberi kuasa dari Tuhan untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat. Persekutuan yang erat membuat mereka memiliki kasih yang sepenanggungan sepergumulan. Firman Tuhan berkata "Segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama" (ayat 44b). Mereka saling menghidupi. Yang kuat mensuport yang lemah, yang lemah turut ditanggung oleh yang kuat. Ini gambaran dari suatu persekutuan umat percaya yang mewujudkan kasih Kristus. Mereka mempraktekkan cara hidup yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak individualis, tetapi sepenanggungan, saling memperhatikan, saling mempedulikan. Solidaritas dalam kasih menjadi pola hidup jemaat. Mereka berbagi untuk saling mencukupkan kebutuhan hidup. Setiap hari mereka membangun persekutuan beribadah kepada Tuhan baik di bait Allah tetapi juga secara bergiliran mereka membangun persekutuan keluarga. Hidup mereka penuh kegembiraan, tulus hati dan selalu memuji Tuhan. Kondisi ini membuat jemaat mula-mula disukai banyak orang. Cara hidup mereka menjadi perhatian bahkan mengundang perhatian orang untuk bergabung bersama mereka. Persekutuan jemaat menjadi kesaksian hidup bahkan menjadi bagian dari pemberitaan Injil sehingga dikatakan bahwa tiap-tiap hari jumlah mereka makin bertambah. Dengan demikian keselamatan di dalam Tuhan Yesus semakin luas menjangkau banyak orang.
Wanita/ Kaum Ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus
Hidup kita adalah persekutuan orang percaya yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kita satu di dalam Tuhan sekalipun dalam kepelbagaian. Kasih Kristus mengikat hidup kita agar dalam keseharian mewujudkan kehidupan yang sepergumulan, sepenanggungan, sehati sepikir dengan saling menolong dan menanggung beban. Hidup sebagai orang percaya harus hidup bersatu dinampakkan dalam cara hidup yang baik dan benar yang berkenan kepada Tuhan. Sehingga melalui kehidupan kita yang percaya kepada Tuhan, kita berdampak baik bagi orang lain. Mereka tidak hanya senang bergaul dengan kita tetapi hidup kita menjadi suatu pemberitaan Injil yang dapat saja membuat orang mau datang kepada Tuhan, menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Sebagai Wanita/ Kaum Ibu peran kita sangat penting dan strategis. Kita terpanggil untuk memiliki cara hidup yang sesuai Firman Tuhan. Kita disenangi, pergaulan kita luas dengan tidak memilih-milih teman yang kaya atau berpunya serta berpangkat saja. Kita membangun komunitas yang saling memperhatikan, saling peduli, berempati dengan saling menghidupkan. Kita menjadi wanita kaum ibu yang setia beribadah, bertekun dalam persekutuan dengan Tuhan. Bertekun dalam pemberitaan Firman dan doa sehingga hidup kita dapat berdampak positif memberi pengaruh yang baik bahkan menjadi teladan dalam kehidupan.
Kitapun terpanggil untuk membawa keluarga kita, suami dan anak-anak kita untuk semakin mengasihi Tuhan. Mungkin saja ada di antara ibu-ibu yang sedang bergumul karena suami atau anak-anak hidup jauh dari Tuhan. Tidak suka mendengar Firman, tidak rajin beribadah bahkan hidup jauh dari kehendak Tuhan. Cara hidup yang salah teralami dalam keluarga, bahkan terjadi kekerasan dalam rumah tangga lewat kata-kata kasar atau tindakan yang kasar. Jika ibu-ibu yang demikian bertobatlah, perbaiki hidup sesuai dengan cara hidup yang benar yang Tuhan kehendaki tetapi jika itu suami atau anak-anak kita, rangkullah mereka dalam kasih Tuhan, nasehati dengan bijak. Jika mereka tidak mau mendengar bahkan berbalik marah pada kita, bawalah mereka dalam doa. Tuhan selalu mendengar doa kita dan menjawab di waktu yang tepat. Semoga Tuhan menolong kita memiliki cara hidup orang Kristen yang sesuai Firman Tuhan. Bertekun dalam pengajaran akan Firman Tuhan dan mencintai persekutuan di dalam Tuhan Amin.
Pertanyaan untuk diskusi:
- Bagaimanakah cara hidup jemaat mula-mula sebagaimana bacaan kita?
- Apakah yang harus W/KI lakukan sebagai orang percaya untuk membangun kehidupan dalam pengajaran dan persekutuan?