ALASAN PEMILIHAN TEMA
Menjalani kehidupan sebagai orang percaya tidak pernah luput dari berbagai tantangan dan pergumulan. Tantangan dan pergumulan tersebut sepertinya menjadi realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya. Tidak jarang kenyataan itu sering mengantar orang percaya merasa bahwa hidup yang dijalani adalah hidup yang jauh dari kasih Tuhan Allah. Bahkan ketika kenyataan hidup sepertinya penuh dengan ketidakpastian, penderitaan dan pergumulan, orang percaya merasa Tuhan Allah telah menjauh dan meninggalkannya. Sehingga merasa kehilangan arah dan tujuan bahkan kehilangan harapan.
Sesungguhnya setiap orang merindukan pemulihan dari keterpurukan, kemenangan atas pergumulan dan menikmati keadaan yang penuh dengan kelegaan serta sukacita. Oleh karena itu di sepanjang minggu ini kita akan dibawa dalam perenungan Firman Tuhan dalam Yeremia 31:1-14 di bawah tema: "TUHAN MENGASIHI UMAT-NYA DENGAN KASIH YANG KEKAL."
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Nabi Yeremia adalah anak Hilkia dan keturunan imam yang di Anatot dekat Yerusalem. Yeremia dipanggil dan bernubuat kira-kira pada tahun 626 SM. Ia bernubuat tentang kejatuhan Yehuda dan kehancuran Bait Allah di Yerusalem serta umat akan mengalami pembuangan di Babel. Namun demikian, Yeremia menyampaikan apa yang difirmankan Tuhan Allah kepada umat Israel bahwa mereka akan dipulihkan. Pada Pasal 30, Yeremia memberi kabar bahwa Tuhan Allah akan memulihkan keadaan Israel.
Pada pasal 31:1-6, umat diperdengarkan lagi perjanjian Tuhan Allah yang sesungguhnya sudah disampaikan juga pada Pasal 30:22. Di mana Tuhan Allah memberi penegasan kembali siapa Dia dan siapa umat-Nya. Perjanjian ini sebenarnya sudah pernah ditegaskan Tuhan Allah sejak dari Abraham (Kej. 17:7) bahwa Dia adalah Allah Israel dan Israel adalah umat milik kepunyaan-Nya. Frasa pertama perjanjian ini adalah Aku akan menjadi Allah… Ini menandakan bahwa Tuhan Allah yang berinisiatif dan dengan kasih-Nya. Ia tetap memperhatikan umat-Nya dan menjadikan mereka sebagai milik kepunyaan-Nya. Perjanjian-Nya itu tidak pernah Ia lupakan sebab Israel adalah milik kepunyaan-Nya.
Segala kaum keluarga Israel menunjuk pada keseluruhan umat Israel baik Israel Utara maupun Yehuda. Dikatakan pula bahwa umat mendapat kasih setia di padang gurun dan diselamatkan dari pedang (perang), yaitu keselamatan dari pembuangan. Sebuah bukti bahwa kasih-Nya kekal dan tidak berhenti. Kata kasih pada ayat 3 dari bahasa Ibrani Aheb mengandung arti cinta atau kasih dan kata kekal Ibrani Olam yang berarti durasi panjang, jaman dahulu kala, masa depan, selamanya. Dan Mashak Khesed (menarik dalam kasih setia) mengandung pengertian Tuhan Allah telah menarik dan membawa mereka pada keselamatan dengan kasih setia-Nya. Itu berarti kasih dan sayang Tuhan Allah bagi umat-Nya berlaku di sepanjang waktu.
Selanjutnya Dia akan membangun kembali Israel sebagaimana digambarkan anak dara akan kembali berhias diri, menari dan bersukaria. Sebuah gambaran pemulihan yang akan dinikmati oleh umat. Mereka juga akan berkebun dan akan menikmati hasil-hasilnya serta akan berkumpul di Sion. Sion selalu dipahami sebagai tempat kehadiran Tuhan Allah dan tempat di mana umat datang menjumpai Dia. Situasi ini menunjukkan keadaan yang mengalami pemulihan dan berakibat pada keadaan hidup umat yang diberkati.
Ayat 7-9, Israel akan bersorak-sorak oleh karena Tuhan Allah menyelamatkan mereka. Bahkan dikatakan bahwa Israel yang disebut Yakub menjadi pemimpin bangsa-bangsa. Ini menunjukkan keadaan Israel bukan sebagai bangsa yang terjajah tetapi dapat memimpin bangsa-bangsa lain oleh karena kuasa Tuhan Allah. Suatu keadaan yang berbeda dari keadaan pembuangan. Selanjutnya dalam pemulihan itu, Tuhan Allah mengumpulkan Israel yang di dalamnya ada orang buta dan lumpuh bahkan perempuan yang mengandung serta yang melahirkan untuk menikmati suasana yang diberkati. Mereka awalnya menangis tanda pertobatan kepada Tuhan Allah dan Dia menghibur mereka. Mereka akan dibawa ke sungai-sungai sebagai tanda bahwa tanah mereka akan senantiasa subur sebab diairi sungai, berjalan di tanah yang rata dan tidak akan tersandung. Sebuah keadaan yang penuh dengan kedamaian, sebab Tuhan Allah tetap menjadi Bapa bagi Efraim (sebutan lain untuk Israel Utara yang adalah sepuluh suku) dan umat Israel itu menjadi anak-Nya.
Ayat 10-14, Tuhan Allah memberikan penegasan bahwa Dialah Tuhan yang telah menyerakkan Israel tetapi dengan kuasa dan kasih-Nya pula Ia mengumpulkan dan menjaga (Ibr. Shamar yang berarti menjaga, melindungi bahkan memperhatikan) mereka seperti gembala yang menjaga kawanan dombanya. Ia juga yang telah bertindak untuk menebus mereka dari bangsa yang telah menguasai mereka.
Umat akan menikmati hasil-hasil tanah dan ternak mereka. Suatu jaminan kehidupan yang memberi kepastian. Dalam keadaan yang penuh kedamaian itu, orang muda dan orang tua akan menari dan bersukacita sebab Tuhan Allah telah mengubah dukacita menjadi sukacita. Bahkan tidak ketinggalan bahwa Tuhan Allah memperhatikan kehidupan para imam dengan kelimpahan. Sebab mereka adalah orang-orang yang dipakai-Nya untuk melayani Dia. Ini tanda bahwa dalam keadaan damai, umat akan beribadah di mana para imam dapat melaksanakan fungsinya di Bait Tuhan dan mereka juga mendapat bagian oleh karena pelayanan itu.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Hidup yang dijalani oleh orang percaya bukanlah perjalanan yang bebas dari hambatan. Pergumulan, penderitaan dan kesulitan adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dan menjadi bagian dalam perjalanan hidup ini. Tidak jarang kenyataan itu membuat orang percaya kecewa, marah dan bahkan protes. Firman ini menegaskan bahwa kasih Tuhan Allah bagi umat-Nya senantiasa berlangsung sepanjang masa. Tuhan Allah tidak pernah melupakan janji-janji-Nya dan terus mengingat umat-Nya sebab Dia adalah Allah.
- Keadaan damai dan penuh sukacita dalam hidup sesungguhnya bukan karena upaya manusia, tetapi hal itu terjadi karena inisiatif dan kemurahan kasih Tuhan Allah semata. Tuhan Allah sendiri yang menarik umat-Nya dengan kasih-Nya dan memberikan kehidupan serta pemulihan. Tuhan Allah tidak akan terus membiarkan umat-Nya berada dalam penderitaan dan penghukuman, tetapi Ia mengumpulkan, membangun dan mengantar umat-Nya menikmati kedamaian dan kegembiraan.
- Keadaan yang dipulihkan Tuhan Allah dinikmati oleh semua generasi orang percaya. Oleh karena itu orang percaya siapapun dia harus merespons dengan kehidupan yang senantiasa taat dan setia kepada-Nya. Ketaatan dan kesetiaan sebagai umat Tuhan harus tampak dalam setiap panggilan hidup ini. Baik di tengah keluarga, jemaat maupun masyarakat.
- Dalam rangka memperlengkapi diri untuk menjawab panggilan tampak sebagai sidi jemaat yang adalah bakal calon Pelayan Khusus, Firman Tuhan menguatkan kita untuk tetap setia sebagai warga Gereja di tengah tantangan dan pergumulan. Tuhan Allah tetap menguatkan, memulihkan dan terus berjanji menyertai dengan kasih-Nya yang kekal. Panggilan untuk menjadi Pelayan Khusus adalah respons kita terhadap kasih setia Tuhan Allah yang menyelamatkan.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa yang kita pahami tentang "Tuhan Mengasihi Umat-Nya Dengan Kasih Yang Kekal" berdasarkan Yeremia 31:1-14?
- Mengapa orang percaya harus hidup setia dan taat kepada Tuhan Allah?
- Bagaimana seharusnya hidup kita sebagai warga gereja yang akan diperlengkapi dalam katekisasi Bakal Calon Pelsus?
NAS PEMBIMBING
Mazmur 30:6
POKOK-POKOK DOA
- Persekutuan jemaat yang tetap setia kepada Tuhan Allah sekalipun banyak tantangan dan pergumulan.
- Pelaksanaan Katekisasi Bakal Calon Pelayan Khusus GMIM.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
Hari Minggu Bentuk I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
- Panggilan Beribadah: NNBT No. 1 "Pujilah Dia, Pujilah Dia"
- Ses. Nas Pembimbing: KJ No. 53 "Tak Kita Menyerahkan"
- Pengakuan Dosa: NKB No. 13 "O, Allahku, Jenguklah Diriku"
- Berita Anugerah: NKB No. 17 "Agunglah Kasih Allahku"
- Hukum Tuhan: KJ No. 239 "Turun, Roh Allah, Dalam Hatiku"
- Ses. Pemb. Alkitab: KJ No. 59 "Bersabdalah Tuhan"
- Persembahan: KJ No. 450 "Hidup Kita Yang Benar"
- Nyanyian Penutup: NKB No. 207 "Taat Setia Bertekad Yang Bulat"
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.



