ALASAN PEMILIHAN TEMA
Bulan Oktober 2026 menjadi masa persiapan, perenungan dan pemantapan diri bagi warga GMIM dalam menentukan arah pelayanan periode 2027–2031. Momen ini ditandai dengan Pemilihan Calon Diaken dan Penatua, Pemilihan Calon Kompelka BIPRA, serta Pengurus Kelompok Pelayanan Lanjut Usia. Panitia dan setiap pihak yang dipercayakan melaksanakan proses pemilihan wajib berlandaskan firman Tuhan Allah dan aturan yang berlaku dengan menjunjung tinggi kejujuran, tidak berlaku curang, tidak memihak dan menolak imbalan dalam bentuk apa pun. Demikian pula bagi para pemilih dan calon terpilih, seluruh tahapan harus dijalani dengan cara yang benar sesuai kehendak Yesus Kristus kepala Gereja.
Pemilihan pelayan gereja memiliki tujuan yang berbanding terbalik dengan kepemimpinan dunia. Pelayanan gereja harus steril dari campur tangan duniawi agar bebas dari infiltrasi agenda tertentu, termasuk politik praktis. Pemilihan gerejawi wajib dijauhkan dari isu-isu primordialis (suku, ras, budaya), kedudukan, pendidikan, maupun kekayaan harta. Karakter utama seorang pelayan gereja adalah kehambaan, sebagaimana teladan Yesus Kristus.
Oleh karena itu, pemilihan di seluruh aras harus berlangsung dalam hikmat dan rasa takut akan Tuhan Allah. Panitia, pemilih, calon yang akan dipilih, BPMJ/BPMW/BPMS, hingga para Pelayan Khusus dipanggil untuk mendasarkan seluruh proses ini pada rasa takut akan Tuhan Allah. Perenungan minggu ini dituntun oleh tema: "BERTINDAKLAH DENGAN SEKSAMA, KARENA BERLAKU CURANG, MEMIHAK, ATAU MENERIMA SUAP TIDAK ADA PADA TUHAN ALLAH KITA."
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Nama kitab Tawarikh dalam bahasa Ibrani adalah Dibrei Hayyamim. Secara harfiah, nama ini berarti "peristiwa hari-hari" atau "catatan sejarah." Penulis memberi perhatian pada Bait Suci, para imamnya dan orang-orang Lewi. Sepertinya penulis adalah seorang imam atau orang Lewi yang melayani di Bait Suci. 2 Tawarikh ditulis dari perspektif seorang imam pada parohan kedua abad ke-5 sM ketika Bait Suci, keimaman dan perjanjian Daud kembali menjadi hal yang sangat penting. 2 Tawarikh berfokus pada Yehuda. Raja-raja Yehuda adalah keturunan Daud, dan suku yang terkemuka di antara orang-orang Yahudi yang kembali untuk membangun Yerusalem dan Bait Suci sebagai pusat penyembahan yang benar kepada Tuhan Allah.
Teks 2 Tawarikh 19:4-11 berisi kisah tentang Raja Yosafat yang melakukan reformasi dalam sistem peradilan di kerajaan Yehuda setelah ditegur oleh pelihat Yehu bin Hanani karena bersekutu dengan Raja Ahab dari Israel Utara yang membenci Tuhan Allah. Yehu mengungkapkan bahwa Yosafat pulang ke istananya di Yerusalem karena Tuhan Allah yang menyelamatkannya. Teguran ini menyadarkan Yosafat untuk bertobat dan menugaskan para hakim untuk menjalankan tugas mereka dengan takut akan Tuhan Allah serta menegakkan keadilan yang benar.
Nama Yosafat artinya "Tuhan telah menghakimi" atau "Yahweh adalah hakim." Ia menunjukkan keberanian untuk memperbaiki kesalahannya dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Sebagai raja, ia bukan hanya memperhatikan rakyat yang berdomisili di pusat kerajaan. Ia juga mengunjungi rakyatnya di daerah-daerah, bahkan yang berada di wilayah pegunungan (ayat 4). Sebagai raja yang mengasihi Tuhan Allah, ia mendorong rakyatnya untuk kembali kepada Tuhan Allah dan hidup benar menurut kehendak-Nya. Yosafat mengadakan reformasi dalam sistem peradilan, menempatkan hakim-hakim di setiap kota di Yehuda. Dia menyadari bahwa ia perlu rekan sekerja untuk menjalankan pemerintahan yang benar dan karenanya ia mengangkat hakim-hakim (ayat 5).
Yosafat memberikan instruksi bahwa mereka harus melakukan pekerjaan dengan mengingat bahwa mereka bekerja bagi Tuhan Allah, bukan bagi manusia. Sebab itu mereka harus mempertimbangkan dengan baik dan benar apa yang akan mereka perbuat, karena bukanlah untuk manusia mereka memutuskan hukum, melainkan untuk Tuhan Allah. Yosafat menegaskan agar mereka tidak boleh curang, memihak atau menerima suap, karena hal-hal itu tidak ada pada Tuhan Allah. Ia memberikan pesan kepada mereka untuk menjalankan tugas dengan takut akan Tuhan Allah dengan setia dan tulus hati, tanpa menerima suap. Ia menekankan tentang pentingnya integritas para hakim yang ia pilih (ayat 6-7).
Hal ini menunjukkan bahwa: Pertama, memutuskan hukum itu adalah untuk Tuhan Allah (for God) dan ada hadirat Tuhan Allah (with God). Tujuannya adalah melaksanakan penghakiman Tuhan Allah bukan penghakiman pemerintahan manusia. Kedua, kiranya kamu diliputi oleh rasa takut kepada Tuhan Allah karena berlaku curang, memihak ataupun menerima suap tidak ada pada TUHAN, Allah kita (ayat 7). Ini menunjukkan bahwa hakim harus adil dan tidak boleh menerima suap. Kebenaran seperti itu tidak datang dari aturan manusia, tapi berasal dari hati yang hormat dan takut akan Tuhan Allah. Frasa takut kepada Tuhan Allah muncul dua kali (ayat 7, 9) yang menandakan bahwa ini adalah mentalitas yang paling mendasar bagi hakim yang benar. Ketiga, tujuan penghakiman yang benar adalah supaya mereka jangan bersalah terhadap TUHAN, sehingga murka-Nya menimpa kamu dan saudara-saudaramu (ayat 10). Ini adalah tujuan teologis. Di sini fokus penghakiman yang sesuai hukum Taurat bukan sekadar untuk tujuan mengamalkan kebenaran dan bukan untuk menolong orang yang menderita, melainkan untuk menghindarkan murka Tuhan Allah.
Sementara di Yerusalem sendiri, Yosafat menunjuk beberapa orang Lewi, imam, dan kepala puak untuk menangani masalah rakyat, berkaitan dengan penerapan hukum Tuhan Allah dan perselisihan (ayat 8). Instruksi Yosafat kepada mereka pun penting, yaitu mereka harus bekerja berdasarkan rasa takut akan Tuhan Allah, dengan setia, dan tulus hati. Kata "setia" dalam bahasa Ibrani menggunakan kata 'emunah yang artinya: ketegasan keteguhan; kesetiaan, kebenaran; kejujuran. Sedangkan "tulus hati," Ibrani: ubelebab salem. Kata lebab artinya hati yang merujuk pada pusat emosi, pikiran, batiniah dan kehendak seseorang. Jadi tidak hanya merujuk pada organ fisik, tetapi juga pada aspek emosional dan spiritual seseorang. Sementara kata salem, artinya lengkap, penuh, sempurna, damai, selamat. Makna frasa be'emunah ubelebab salem adalah dengan tegas, benar, dan jujur; dengan sepenuh hati, emosi, pikiran, batin, dan kehendak yang penuh damai. Dengan cara demikianlah Yosafat menginginkan setiap pengambilan keputusan dan pekerjaan dilakukan.
Bagian terakhir perikop ini, dalam rangka memaksimalkan tugas, Yosafat mengangkat pemimpin sesuai dengan kemampuan dan bidangnya. Pemimpin segala perkara keagamaan adalah imam Amarya, perkara kerajaan adalah Zebaya bin Ismael dan yang mengawasi adalah orang Lewi (ayat 11). Pesan Yosafat adalah bertindak dengan tegas dalam menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan, karena Tuhan Allah menyertai orang yang benar (Ibr: 'im-hattob) untuk melaksanakan tanggung jawab yang dipercayakan.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Pentingnya takut akan Tuhan Allah, menegakkan keadilan, kebenaran dan hidup berintegritas. Kita harus memastikan bahwa keputusan dan tindakan kita didasarkan pada prinsip-prinsip kebenaran dan kasih. Kita tidak boleh bekerja demi kepentingan diri sendiri atau kelompok, melainkan untuk kemuliaan Tuhan Allah. Orang harus bekerja dengan rasa takut akan Tuhan Allah. Dengan demikian berbuat curang, berlaku tidak adil, memberi dan menerima suap seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang hidup dan bekerja bagi Tuhan Allah, apa pun bidang kerjanya.
- Ada lima faktor kunci keberhasilan dalam proses pemilihan di semua aras: Pemilih/anggota sidi jemaat, calon yang akan dipilih, panitia pemilihan, Badan Pekerja Majelis semua aras dan Pelayan Khusus. Jika masing-masing menjalankan sesuai dengan perannya dan tidak memaksakan kehendak, maka proses pemilihan berjalan dengan baik. Panitia tidak boleh diintervensi oleh kekuatan apapun, karena Panitia Pemilihan adalah "wasit." Jika wasit bertindak tegas, tidak memihak dan tidak dipengaruhi dalam bentuk apapun, pasti proses pemilihan berjalan dengan baik.
- Proses pemilihan di semua aras pelayanan GMIM, mengingatkan kita semua, baik pemilih dan yang akan dipilih supaya bertindak takut akan Tuhan Allah. Calon yang akan dipilih tidak memberikan sesuatu, baik secara terang-terangan maupun terselubung dalam bentuk apapun untuk memengaruhi pemilih. Pemilih diingatkan untuk memilih sesuai hati nurani berdasarkan firman Tuhan Allah, tidak dipengaruhi oleh jabatan, popularitas, kekayaan dan keluarga/nepotisme, tetapi didasarkan pada kualitas dan integritas calon yang akan dipilih.
- Dengan demikian, proses pemilihan harus diamini sebagai kerja Tuhan Allah yang memilih pelayan-pelayan-Nya seperti perkataan Tuhan Yesus: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16)
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa yang saudara pahami tentang "Bertindaklah dengan seksama, karena berlaku curang, memihak atau menerima suap tidak ada pada Tuhan Allah kita" menurut 2 Tawarikh 19:4-11?
- Mengapa sering terjadi konflik dalam proses pemilihan pelayan?
- Bagaimana seharusnya pemilihan pelayan gereja sesuai pemaknaan perikop ini?
NAS PEMBIMBING
1 Samuel 16:7
POKOK-POKOK DOA
- Berdoa untuk agenda pemilihan Pelayan Khusus di aras Jemaat, Wilayah dan Sinode.
- Berdoa untuk panitia dan semua yang dipercayakan untuk melaksanakan proses pemilihan supaya tidak berlaku curang, tidak memihak dan tidak menerima suap.
- Berdoa supaya setiap orang yang memilih dan dipilih tidak memberi dan menerima suap serta dituntun oleh kuasa Roh Kudus, supaya hasilnya sesuai dengan kehendak Tuhan.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
Hari Minggu Bentuk I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
- Panggilan Beribadah: KJ No. 7 "Ya Tuhan, Kami Puji Nama-Mu Besar"
- Nas Pembimbing: KJ No. 14 "Muliakan Tuhan Allah"
- Pengakuan Dosa: NKB No. 14 "Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu"
- Berita Anugerah: NNBT No. 9 "'Ku akan Selalu Bersyukur"
- Ses Pengakuan Iman: NKB No. 116 "Siapa Yang Berpegang"
- Persembahan: NKB No. 197 "Besarlah Untungku"
- Penutup: PKJ No. 153 "Pakailah Seluruh Hidupmu"
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.



