GMIM

OBOR PEMUDA · 2025-09-11

Renungan Obor Pemuda GMIM, 12 September 2025

"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan."

— Kolose 3:12-14

Kasih, Pengikat yang Mempersatukan

Sobat Obor,

Setiap tukang bangunan tahu: bahan sekuat apa pun
tetap bisa runtuh tanpa semen yang kokoh. Paulus mengatakan
bahwa kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan
menyempurnakan. Artinya, semua karakter rohani yang telah disebut
sebelumnya—seperti kelemahlembutan dan kesabaran—harus dibungkus
oleh kasih. Kasih bukan sekadar perasaan lembut atau romantis, tapi
keputusan aktif untuk menerima, memberi, dan memaafkan. Tanpa kasih,
komunitas Kristen hanya jadi organisasi kosong yang mudah retak oleh
konflik kecil yang juga begitu rapuh dan tidak tahan uji apalagi dengan
pola hidup di zaman digital ini. Begitu mudah komunitas termasuk keluarga
dan anak muda untuk jatuh dalam pencobaan. Maka diperlukan sebuah
persekutuan yang kuat dan diikat oleh kasih Kristus.

Sobat Obor,

Dari sisi teologi Reformed, kasih sejati hanya mungkin tumbuh
dalam orang-orang yang telah mengalami kasih Allah terlebih dahulu.
Kita tidak bisa menciptakan kasih dari diri sendiri. Sebagai orang pilihan,
kita memiliki Roh Kudus yang bekerja menanam dan menumbuhkan kasih
dalam hati kita. Maka tidak heran Paulus menyambung kasih dengan
damai sejahtera Kristus yang memerintah hati kita. Damai ini bukan hanya
ketenangan batin, tapi pemerintahan Kristus yang mengatur relasi kita
dengan sesama, dalam tubuh Kristus yang satu.

Sobat Obor,

Di tengah zaman yang penuh drama, persaingan, dan
pertengkaran, kasih menjadi barang langka. Bahkan dalam komunitas
pemuda gereja, seringkali lebih mudah menjauhi yang berbeda daripada
menyatukan hati. Namun kita dipanggil untuk tetap mengasihi—bukan
karena sesama kita sempurna, tapi karena kita sama-sama telah diampuni.
Mari jadi anak muda yang jadi "pengikat", bukan "peretak". Mari bangun
persekutuan yang tidak berdasarkan selera, tapi berdasarkan kasih Kristus
yang menyatukan semua orang yang percaya. Amin (KK).

Artikel Terkait

Bagikan:

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 12/9/2025