GMIM

OBOR PEMUDA · 2025-09-13

Renungan Obor Pemuda GMIM, 14 September 2025

"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. … (lengkap sesuai nats Matius 25:31-46)."

— Matius 25:31-46

Orang Benar Akan Masuk ke Dalam Hidup yang Kekal

Sobat Obor,

Ada satu lagu yang berjudul Ride the Chariot yang
diaransemen oleh seorang Musisi terkenal di dunia asal Amerika
yaitu William Henry Smith. Ini adalah lagu yang sangat populer
di paduan suara. Sebagian liriknya i'm getting ready for the judgment day
my Lord. Lagu ini memiliki makna soal orang percaya yang memiliki kesiapan
bahkan keberanian untuk menghadapi Hari Penghakiman. Memberi makna
bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya dan hidup berkenan di
hadapan Tuhan tidak akan takut menghadapi hari Penghakiman.

Sobat Obor,

Matius 25:31-46 adalah pengajaran Yesus tentang penghakiman
terakhir.
Ini adalah bagian penutup dari uraian Yesus mengenai tema
KHOTBAH AKHIR ZAMAN (Matius 24-25). Yang kita baca hari ini merupakam
sebuah gambaran eskatologis tentang bagaimana Kristus Sang Raja
di atas segala raja akan menghakimi semua bangsa. Ayat 31-33 Yesus
memperkenalkan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang datang dengan
segala kemuliaan-Nya (band. Daniel 7:13-14). la datang bukan lagi sebagai
hamba yang menderita, tetapi sebagai Raja dan Hakim. Takhta kemuliaan-
Nya (θρόνου δόξης αὐτοῦ / thronou doxēs autou) menunjuk kepada
kedaulatan penuh Kristus atas seluruh bumi, sehingga dunia mengakui dan
tunduk kepada-Nya saat hari penghakiman. Hal pertama yang penting
untuk kita pelajari dari perikop ini yaitu saat Yesus menjadi Hakim dan Raja
pada hari penghakiman, hendak menunjukkan bahwa Dia adalah Allah itu
sendiri. Pada saat hari penghakiman, Tuhan Yesus menempatkan domba-
domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Ahli biblika PB Craig Kenner menjelaskan dalam budaya saat itu, kanan
melambangkan kehormatan, dan kiri melambangkan penolakan. Sang Raja
berkata kepada para domba bahwa merekalah yang menerima Kerajaan
yang telah disediakan sebelum dunia dijadikan. Dari bagian ini kita dapat
belajar bahwa penerimaan Kerajaan tersebut murni adalah anugerah Allah
(Solagratia) bukan hasil usaha manusia [Salvation by works) tapi juga
memberi makna soal doktrin predestinasi / double predestination (Ef 1:4-5,
Rom 8:29-30, Rom 9:11-13, Mat 25:41). Allah dalam kedaulatan dan kasih-Nya,
telah menetapkan sejak kekekalan siapa yana akan diselamatkan (election)
dan siapa yang akan binasa (reprobation). Ini dipertegas dengan dua
kalimat berbeda yang diucapkan Yesus yaitu untuk domba Mari hai kamu
yang diberkati (ayat 34) dan untuk kambing enyahlah dari hadapan-Ku,
hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal (ayat
41). Terkutuk (Yun: κατηραμένοι kateramenoi) bermakna status permanen
sebagai terkutuk/penghukuman final. Inilah makna penting yang hendak
dijelaskan lewat metafora domba dan kambing.

Sobat Obor,

Dalam perikop ini bukan hanya mempertegas bahwa ada
orang-orang yang disebut dengan metafora domba dan kambing, tapi
juga memperjelas tentang bagaimana ciri khas sikap manusia dan buah-
buah iman yang jelas berbeda antara metafora domba dan metafora
kambing dalam konteks perikop ini. Itu yang secara jelas dapat kita lihat
pada ayat 35-36 menjelaskan bahwa orang-orang yang mengasihi Tuhan
adalah mereka yang mengasihi sesama yang lapar, haus, asing, telanjang,
sakit, di penjara. Teolog George Ladd mengatakan tindakan kasih ini adalah
ekspresi nyata dari iman. Mereka tidak diselamatkan karena perbuatan,
tetapi perbuatan adalah bukti dari iman sejati. John Calvin juga mengatakan
perbuatan kasih adalah buah yang lahir dari iman. Kasih sejati kepada
Kristus terwujud dalam kasih kepada sesama.

Sobat Obor,

Lewat renungan ini hendak memberikan pesan-pesan firman
bagi kita sebagai generasi muda. Pertama: Kedatangan Kristus kembali
dan Penghakiman Terakhir adalah suatu hal yang pasti akan terjadi. Kapan
waktunya ? Tidak ada seorangpun yang tahu bahkan malaikat pun tidak.
Yang penting untuk kita lakukan bukan mencari tahu waktunya kapan tapi
mengisi waktu yang Tuhan anugerahkan dengan hidup sungguh-sungguh
beriman dan menunjukkan buah-buah iman termasuk lewat mengasihi
sesama. Kedua : Firman ini juga hendak mengajak kita berefleksi kira-
kira selama ini kita menjadi generasi muda yang berciri khas "domba"
atau "kambing"? Ketiga : memotivasi kita sebagai generasi muda untuk
menunjukkan iman lewat tindakan nyata yaitu mengasihi sesama termasuk
mereka yang lemah, miskin, hina, yang sangat membutuhkan kasih dan
kepedulian kita. Amin (SM).

Artikel Terkait

Bagikan:

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 14/9/2025