GMIM

OBOR PEMUDA · 2025-08-23

Renungan Obor Pemuda GMIM, 24 Agustus 2025

"Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain......."

— 1 Tesalonika 5:12-22

Hormatilah Pemimpin dan Hiduplah Selalu Dalam Damai Seorang dengan yang Lain

Jika ditanya siapa yang paling anda hormati di
dunia ini? Tentu dipikiran kita sudah ada beberapa nama. Jika
ditanya, kenapa anda menghormati orang-orang itu? maka
kitapun akan menguraikan beberapa kriteria. Tentu kita paham, sikap
menghormati dan dihormati adalah mata rantai yang saling terhubung.
Menghormati orang lain adalah cara terbaik untuk mendapatkan rasa
hormat dari mereka. Integritas dan kejujuran akan menjadi faktor penentu
dalam mendapatkan rasa hormat orang lain. Memang menghormati orang
lain lebih mulia daripada meminta dihormati. Dan jangan lupa bahwa rasa
hormat terhadap orang lain akan menghasilkan rasa hormat terhadap
anda. Terkadang kita ingin dihormati tapi minim rasa menghargai. Di
dalam sikap menghormati ada cerminan kemuliaan beragama, kuatnya
iman, bagusnya budi pekerti dan ciri kerendahan hati. Sebaliknya didalam
meminta dihormati (=gila hormat) ada ciri keangkuhan beragama,
lemahnya iman, busuknya hati dan kesombongan hati. Hanya kalau kita
tahu adab dan ilmu pasti tahu bagaimana berhubungan baik dengan
sesama.

Akhir-akhir ini pemahaman masyarakat dalam menumbuhkan rasa hormat
dan menjaga etika pada pemimpin berada pada level yang sangat rendah.
Coba kita amati, hampir dalam setiap kebijakan yang diterapkan dan
diputuskan, pasti kita lihat banyak sekali masyarakat yang meresponnya
bukan lagi dengan kritik, tapi lebih dengan cercaan dan hinaan yang
mengarah pada personal individu. Hal ini sering terjadi tidak hanya satu-
dua kali saja, pemandangan demikian paling sering kita lihat di medsos
yang mana setiap orang bebas berkata apapun sesuai kecenderungan
pribadinya. Semenjak adanya kebebasan berpendapat, maka kritik dan penyerangan terhadap pemimpin telah dianggap lazim dan telah menjadi
bagian dari budaya baru. Sepertinya orang senang dan bangga jika label
oposisi" ada padanya, sepertinya ada yang merasa ada kehormatan
bagi mereka yang bersikap sinis dan kasar terhadap pemimpin. Tak
bisa dipungkiri karena ketidaksukaan pada pribadi ataupun kebijakan,
orang dengan mudah mengatasnamakan kebenaran untuk menghina
seorang pemimpin. Pemimpin memang tidak boleh anti kritik, namun
di zaman sekarang atas nama kritik, orang dengan gampangnya membuli,
memfitnah dan mengolok-olok. Lebih buruk lagi, tanpa ada rasa bersalah,
malah bangga berdiri seakan-akan sebagai "penyambung lidah rakyat/
jemaat" menyerang dengan kasar para pemimpin.

Sobat obor,

terlepas dari pro-kontra soal kebebasan dalam berpendapat,
penting untuk dibahas; pentingkah menghormati pemimpin? Lalu,
bagaimana cara menghormati pemimpin dengan benar? Apakah dengan
memujinya, meski dia keliru? Atau mengkritiknya jika dia salah? Pertanyaan-
pertanyaan ini penting dijawab agar tidak terjebak dalam sikap yang keliru
dalam menghormati pemimpin.

Kepada jemaat Tesalonika, Paulus mengingatkan orang percaya pada
sikap yang seharusnya dilakukan untuk pemimpin-pemimpin di jemaat.
Pertama, sikap menghormati. Siapakah yang dihormati? Menurut Paulus
adalah mereka yang bekerja keras diantara kamu, yang memimpin
kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu. Dan yang kedua, supaya
mereka menjunjung para pemimpin dalam kasih. Kenapa hal ini perlu
dilakukan.? Paulus mengatakan, karena mereka patut memperolehnya
disebabkan pekerjaan yang mereka lakukan. Dengan sangat tegas, Paulus
mengingatkan agar kita menghormati dan menjunjung tinggi dengan kasih
terhadap orang-orang yang berjerih payah melayani Tuhan. Hormatilah
mereka dengan setulus hati karena mereka bekerja untuk kepujian dan
kemuliaan Tuhan. Hendaklah kita hidup damai dengan semua orang,
karena Dia sudah memperdamaikan kita dengan diri-Nya dan dengan
sesama kita.

Sobat obor,

di tengah kehidupan yang tidak menghargai pemimpin,
kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat
bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal
semuanya disampaikan dengan sikap hormat (bandk. ayat 14). Allah telah
mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup
kita. Kita mungkin sangat geram melihat kelemahan dan keterbatasan yang
membuat sang pemimpin akhirnya jatuh. Namun, adanya kelemahan itu
tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk dengan sengaja merendahkan
mereka. Saat mereka jatuh, kita patut berduka, bukan bersukacita. Olehnya,
doakanlah para pemimpin yang Tuhan tempatkan, agar mereka dipelihara
Tuhan untuk menjadi berkat bagi hidup kita. Amin.

Artikel Terkait

Bagikan:

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 24/8/2025