GMIM

OBOR PEMUDA · 2026-06-02

Renungan Obor Pemuda GMIM 3 Juni 2026

Lukas 12:4-5

tanggal_mulai: "2026-06-03"

"Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia!" – demikianlah firman Tuhan.

— Lukas 12:5

TAKUT AKAN TUHAN VS TAKUT AKAN MANUSIA?

Sobat Obor,

Lukas 12:4–5 menempatkan murid-murid dalam perspektif eskatologis yang benar. Yesus menyebut mereka "sahabat-sahabat-Ku," sebuah bahasa perjanjian yang menegaskan relasi kasih di tengah ancaman penganiayaan. Larangan "jangan takut" bukan pengingkaran realitas penderitaan, sebab manusia memang dapat "membunuh tubuh," tetapi kuasa mereka berhenti pada batas temporal. Sebaliknya, Allah memiliki otoritas final atas hidup dan kekekalan, bahkan berkuasa "melemparkan ke dalam Gehenna." Kata γέεννα (Gehenna) berasal dari Ibrani גֵּי הִנֹּם (Gê Hinnom), artinya "Lembah Hinom," yang terletak di sebelah selatan Yerusalem. Dalam PL, tempat ini dikenal sebagai lokasi praktik penyembahan berhala dan pengorbanan anak kepada Molokh (2Raj. 23:10; Yer. 7:31–32; 19:6). "Gehenna" berkembang menjadi istilah eskatologis untuk tempat hukuman orang fasik / neraka (Mat 10:28). Dalam teologi Reformed, teks ini menegaskan kedaulatan Allah sebagai Hakim tertinggi dan realitas penghakiman terakhir. Ketakutan yang diperintahkan Yesus bukanlah servile fear (takut karena ancaman hukuman), melainkan filial fear (takut yang lahir dari pengenalan, kasih, dan hormat). Satu doktrin penting juga dalam ayat 5 yaitu Yesus memiliki kuasa melemparkan orang ke dalam neraka, kata ἔχοντα ἐξουσίαν (echonta exousian) – "yang mempunyai otoritas": menunjuk pada hak dan kuasa yang sah, istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan otoritas ilahi (bdk. Luk. 4:36; 5:24).

Sobat obor, renungan ini memberikan pesan firman firman bagi kita generasi muda: mengajarkan bahwa keberanian sejati lahir dari pengenalan yang benar akan Allah. Yesus menegaskan bahwa manusia hanya dapat membunuh tubuh, tetapi Dia berkuasa atas nasib kekal manusia. Karena itu, takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang membuat kita menjauh, melainkan sikap hormat yang sadar bahwa hidup ini berada di bawah otoritas-Nya. Di tengah ancaman, tekanan, atau penolakan dunia, orang percaya dipanggil untuk sungguh-sungguh hidup takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan membuat kita berani menolak dosa, dan hidup dalam tuntunan Tuhan. Yesus adalah Raja sekaligus Hakim Agung dalam penghakiman terakhir (Mat 25:31–32). Amin (SM)

Artikel Terkait

Bagikan:

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 2/6/2026