"Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya. Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah. Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar. Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir."
— Keluaran 23:6-9
Integritas
Sobat Obor,
Sebuah ungkapan berkata: "The truth is the Standard
of all justice; to corrupt it is to war against God Himself." —
John Calvin, terjemahannya: "Kebenaran adalah standar dari
segala keadilan; merusaknya berarti memerangi Allah sendiri." Kutipan
ini menggambarkan inti dari pemahaman Reformed: bahwa kebenaran
bukan sekadar nilai etis manusia, tapi bagian dari karakter Allah yang kudus
dan tidak dapat ditawar. Maka, setiap kebohongan atau penyimpangan
dari keadilan bukan hanya salah terhadap sesama, tetapi juga dosa
terhadap Allah. Dalam teologi gereja, Allah adalah sumber dan standar
mutlak kebenaran dan keadilan. Maka, ketika Keluaran 23:6-9 menegaskan
larangan menindas orang lemah, menerima suap, dan menyimpang dari
kebenaran, perintah itu bukan hanya soal etika sosial, tetapi merupakan
panggilan untuk hidup kudus di hadapan Allah yang adil dan kudus.
Sebagai pemuda GMIM, kita tidak menegakkan keadilan demi reputasi
atau sekadar nilai moral, melainkan karena kita mengakui bahwa hukum
Allah mencerminkan karakter-Nya. Kebenaran adalah milik Allah dan
setiap pemutarannya adalah perlawanan terhadap kekudusan-Nya. Tuhan
melarang menindas orang asing (ayat 9) bukan karena sentimentalitas,
melainkan karena Dia mengingatkan umat-Nya bahwa mereka dulu juga
adalah orang asing. Anugerah adalah dasar etika dalam iman kekristenan.
Kita dipanggil menunjukkan kasih bukan dari diri kita, tapi dari kesadaran
akan kasih karunia yang telah lebih dulu kita terima. Berjalan dalam
keadilan berarti hidup dalam terang kedaulatan Allah. Dunia boleh memuji
kompromi, tapi pemuda gereja berdiri tegak karena tahu: kebenaran bukan
hasil voting, tapi berasal dari firman yang kekal. Jadilah pemuda yang
menjunjung keadilan bukan karena dunia mengaturnya, tapi karena Allah
telah memanggilmu untuk mencerminkan kemuliaan-Nya. Amin.
