tanggal_mulai: "2026-06-05"
"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah." – demikianlah firman Tuhan.
— Lukas 12:8-9
JANGAN MENYANGKAL YESUS
Sobat Obor,
Menurut para teolog Reformed, menegaskan relasi tak terpisahkan antara iman sejati dan pengakuan publik akan Kristus. John Calvin menafsirkan bahwa "mengaku" Kristus di depan manusia adalah buah dari iman yang hidup, sebab iman yang sejati tidak mungkin tersembunyi ketika kemuliaan Kristus dipertaruhkan; namun pengakuan itu sendiri bukan dasar pembenaran, melainkan bukti bahwa seseorang telah dipersatukan dengan Kristus. Herman Bavinck melihat ayat ini dalam terang Kristologi Daniel 7: Anak Manusia adalah Hakim eskatologis yang memiliki otoritas ilahi untuk menentukan status akhir manusia, sehingga pengakuan atau penyangkalan terhadap-Nya memiliki konsekuensi kekal. Louis Berkhof menegaskan bahwa karya pengakuan ini hanya mungkin oleh anugerah Roh Kudus yang melahirbarukan, sehingga ketekunan orang percaya dalam mengaku Kristus merupakan bagian dari doktrin perseverantia sanctorum, Allah memelihara umat pilihan agar tidak binasa. Bahkan ketika orang percaya jatuh seperti Petrus, anugerah pemeliharaan tidak membiarkan penyangkalan itu menjadi final. Dengan demikian, teks ini menempatkan hidup orang percaya Coram Deo, dalam kesadaran bahwa Kristus sebagai Pengantara dan Hakim akan mengakui milik-Nya pada hari penghakiman sebagai konfirmasi publik dari pembenaran yang telah dianugerahkan oleh kasih karunia semata.
Bagi pemuda, menyangkal Yesus sering kali bukan soal ancaman fisik, tetapi tekanan pergaulan, media sosial, dan keinginan untuk diterima. Ada saat ketika iman dianggap kuno, kekudusan dianggap berlebihan, dan komitmen kepada Kristus terasa menghambat "kebebasan." Dalam situasi seperti itu, menyangkal Yesus bisa terjadi secara halus: ikut arus agar tidak diejek, diam saat nilai Kristen dilemahkan, atau menjalani hidup tanpa mencerminkan identitas sebagai murid Kristus. Namun Yesus berkata bahwa setiap orang yang mengakui Dia di depan manusia akan diakui-Nya di hadapan Bapa. Itu berarti masa muda bukan waktu untuk kompromi, melainkan masa untuk menegaskan identitas rohani. Kristus tidak malu mengakui kita sebagai milik-Nya; pertanyaannya, apakah kita berani mengakui Dia melalui karakter, perkataan, dan pilihan hidup kita? Kesetiaan di usia muda adalah kesaksian bahwa hati telah dimenangkan oleh anugerah. Amin (SM)


