Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.
— Mazmur 92:1-4
IRAMA SYUKUR
Sobat Obor,
Tahukah kalian bahwa Mazmur 92 secara khusus diberi judul sebagai Nyanyian untuk hari Sabat? Dalam konteks waktu penulisannya, hari Sabat adalah saat di mana seluruh umat berhenti dari segala pekerjaan fisik untuk berfokus sepenuhnya kepada Allah. Mazmur ini disusun untuk dinyanyikan dalam ibadah di bait Allah, diiringi instrumen musik seperti kecapi dan gambus. Bagi orang Israel, bersyukur bukan sekadar etika kesopanan, melainkan sebuah kewajiban spiritual yang baik untuk dilakukan.
Ayat 1-4 menekankan pentingnya membangun pola hidup yang konsisten dalam bersyukur. Pemazmur berkata bahwa sangatlah baik untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam. Ini adalah irama hidup yang lengkap. Pagi hari adalah waktu di mana kita menghadapi ketidakpastian hari yang baru; di situlah kita memerlukan kasih setia Tuhan sebagai sauh bagi jiwa kita. Sementara itu, malam hari adalah waktu untuk refleksi; di mana kita mengakui bahwa segala sesuatu yang berhasil kita lalui adalah karena kesetiaan Tuhan yang menjaga kita.
Bagi kita Pemuda GMIM, renungan ini mengajak kita untuk tidak membatasi ibadah hanya pada hari Minggu saja. Menjadi hamba yang mengucap syukur berarti membawa suasana Sabat ke dalam rutinitas harian kita. Jangan biarkan kesibukan harian atau di tempat kerja membuat kita kehilangan irama syukur ini. Di tengah dunia yang sering kali dipenuhi dengan keluhan dan ambisi pribadi, marilah kita memilih untuk mempersembahkan nyanyian syukur yang tak putus-putus. Sebab, ketika kita memulai pagi dengan kasih-Nya dan menutup malam dengan mengakui kesetiaan-Nya, batin kita akan tetap tenang dan terarah kepada Sang Pencipta. Biarlah hidup kita menjadi instrumen yang indah di tangan Tuhan, yang selalu mengalunkan melodi pujian bagi nama-Nya yang Mahatinggi. Amin (DLW)


