Bina Remaja GMIM
MENU
Bina Remaja GMIM 1-7 Maret 2026 - Bina Remaja GMIM

Bina Remaja GMIM 1-7 Maret 2026

Yeremia 18:1-17

Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Shalom teman-teman remaja yang dikasihi oleh Tuhan,

Sebagian besar dari kita pasti sudah sering mendengar bahkan menonton kisah dari Pinokio. Kisah ini adalah buatan dari seorang yang bernama Carlo Collodi di tahun 1883 diterbitkan secara buku dengan judul aslinya Le awenture di Pinocchio (Petualangan Pinokio). Walaupun cerita Pinokio sudah sangat tua, akan tetapi makna moral dari cerita ini tak pernah lekang oleh waktu. Diceritakan bahwa Pinokio adalah boneka kayu buatan dari seorang tukang kayu yang bernama Gepetto. Karena sangat mendambakan seorang anak, Gepetto menyalurkan keinginan itu dengan menciptakan boneka kayu bernama Pinokio. Gepetto si tukang kayu yang baik hati ini, saat membentuk dan menciptakan Pinokio, ia membuatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Singkat cerita, pada suatu malam Pinokio dihidupkan oleh peri biru dengan janji bahwa Pinokio dapat menjadi manusia seutuhnya kalau ia selalu melakukan kebaikan. Akan tetapi, ada konsekuensi jika ia berbohong hidungnya akan memanjang. Jatuh bangun terjadi dalam perjalanan kehidupan Pinokio. Ada kalanya dia berbohong, ada kalanya dia berbalik dan sadar. Akhirnya, melalui proses panjang dan penuh pergumulan, Pinokio membuktikan dirinya bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan menjadi manusia seutuhnya.

Dari cerita Pinokio, kita dapat mendapati ketika Gepetto menciptakan Pinokio ada cinta dan kasih sayang yang ditaruh pada ciptaanya. Ketika ciptaan yang dikasihi bertindak semena-mena dan jahat, pasti akan menghasilkan kemarahan dan kekecewaan. Perasaan inilah yang diungkapkan oleh Allah ketika Allah menyuruh Yeremia untuk pergi dan memperhatikan kerja dari tukang periuk. Dimana tukang periuk dalam membuat bejana dari tanah liat, membuatnya dengan penuh totalitas dan kesungguhan, sewaktu-waktu bejana tanah liat itu menjadi rusak tukang periuk tidak meninggalkan-nya, Melainkan memproses kembali bejana tersebut sehingga menjadi sesuatu yang indah dan layak pakai. Allah menggambarkan diri-Nya seperti tukang periuk sedangkan umat Yehuda yang adalah umat yang ia kasihi seperti bejana tanah liat. Allah begitu mengasihi mereka sebagai umat pilihan yang diciptakan-Nya, dan Allah juga punya kendali penuh pada mereka. Tapi sayangnya, umat Yehuda dalam menjalani hidup mereka, bukan percaya dan berharap dan hidup dalam Allah tetapi tetap hidup dalam kebejatan dan percaya pada allah-allah lain. Sehingga Allah mengutus nabi Yeremia untuk memperingatkan kembali umat-Nya, agar segera kembali kepada pertobatan. Karena sama seperti tukang periuk yang punya kendali atas bejana yang dibuatnya, begitu juga dengan umat Yehuda, bahwa Allah punya kendali penuh atas hidup mereka. Jika mereka tidak berbalik dan tetap dalam kesesatan, malapetaka dan hukuman akan diterima oleh mereka. Karena Allah membentuk mereka dengan penuh cinta, itulah mengapa atas kasih Allah, Ia tidak membiarkan umat-Nya terjebak bahkan setia dalam hidup yang penuh kenajisan.

Remaja yang dikasihi oleh Tuhan, renungan ini menjadi suatu pengingat bagi kita termasuk para remaja. Kita harus menyadari, keberadaan kita di dunia ini semuanya atas cinta dan desain dari Allah, dimana Allah juga punya otoritas penuh dalam kehidupan kita. Memang, dalam proses hidup remaja tidak semuanya mulus-mulus saja. Ada kalanya kita merasakan titik terendah dalam hidup ini mungkin kita ada masalah dengan keluarga, nilai ulangan sedang anjlok, patah hati karena ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi dan semua itu mempengaruhi pikiran bahkan mental kita. Tapi bukan berarti, kita melampiaskannya pada hal-hal yang jauh dari titah Tuhan bahkan mengandalkan sesuatu yang di luar kehendak Tuhan. Sama seperti tukang periuk dalam membentuk bejana dari tanah liat, pasti akan ada momen tertentu bejana itu menjadi rusak. Tetapi karena kecakapan tangan dari seorang tukang periuk, bejana yang tampak rusak itu dapat dibentuk kembali sehingga menjadi bejana yang indah dan berguna. Begitu juga dengan kita, ketika keputusasaan datang menghampiri diri kita dan kita merasa rusak dan tidak berarti, itulah waktu dimana kita dipanggil kembali untuk berharap dan percaya pada pencipta kita. Karena Allah seperti tukang periuk dimana kerusakan yang kita alami pada akhirnya akan dibentuk oleh Allah sebagai bentuk pendewasaan iman yang indah ketika kita percaya dan menaruh segala pengharapan pada Allah.

Amin.