Pada Tuhan Ada Pengampunan
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Jika kita melihat masa lalu ketika masih usia muda, maka berada di usia lanjut, hidup menjadi tidak selalu mudah. Banyak di antara kita menghadapi pergumulan yang tidak ringan. Tubuh kita tidak sekuat dulu, kadang merasa cepat lelah, ingatan tidak sekuat dulu, peran sosial berkurang, terasa seperti disisihkan dan tidak jarang muncul rasa kesepian, penyesalan masa lalu, serta ketakutan menghadapi kematian. Ada pula luka batin yang belum sembuh dan doa-doa yang terasa lama tidak dijawab. Mazmur 130 berbicara sangat dekat dengan realitas ini. Mazmur ini adalah doa pemazmur dari keadaan sangat terpuruk dan terpojok, bukan doa orang yang kuat, melainkan doa orang yang lelah, menunggu dan diabaikan, tetapi tetap berharap. Karena itu, firman ini sangat relevan bagi kita LANSIA.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!" Ia berada dalam "jurang yang dalam" adalah gambaran penderitaan, keputusasaan dan keterbatasan manusia. Ini mengajarkan kita bahwa berseru kepada Tuhan Allah tidak menuntut kekuatan, tetapi kejujuran hati. Ketika tubuh melemah, sedih, tidak berdaya dan kesepian, Tuhan Allah tidak menuntut doa yang panjang dan keras atau indah. Walau suara kita pelan, Tuhan Allah tetap mendengarnya. Keluhan yang jujur pun adalah doa yang didengar Tuhan Allah. Seruan sederhana pun Tuhan Allah mendengarnya.
Pemazmur menyadari dosanya, tetapi tidak berhenti pada rasa bersalah. "Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?" Ia melangkah kepada kebenaran yang lebih besar: "Pada-Mu ada pengampunan." Di Usia Senja, sering muncul penyesalan masa lalu; kesalahan kepada keluarga, anak atau keputusan hidup yang keliru. Firman ini menegaskan bahwa Tuhan Allah tidak selalu menghitung masa lalu kita, melainkan menawarkan pengampunan yang memulihkan.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
"Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya." Pemazmur menunggu Tuhan Allah seperti penjaga menantikan pagi yang pasti datang, meski belum terlihat dan malam terasa panjang. Menunggu Tuhan Allah tidak sia-sia. Bagi kita LANSIA, menunggu walaupun terkadang terasa melelahkan dan membosankan, tetapi bukan tanda kelemahan, melainkan sikap iman. Menunggu Kesembuhan, kedamaian hati atau bahkan menunggu pulang ke rumah Bapa adalah bagian dari perjalanan iman yang indah. Dalam keadaan seperti ini kita harus tetap memiliki pengharapan kepada janji Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah Juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:1-2)
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Seperti pemazmur yang berseru, "Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan." Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya. Ajakan "Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel!" artinya pengharapan pemazmur tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia mengajak kita untuk tetap percaya kepada Tuhan Allah yang setia dan penuh kasih karunia yang menebus dosa kita. Bagi kita, LANSIA bukan akhir hidup untuk tidak bersaksi. Justru melalui ketekunan, iman dan kesetiaan, hidup kita menjadi ajakan dan teladan bagi generasi berikutnya tentang kemurahan dan karya selamat Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus.
Mazmur 130 mengingatkan kita bahwa Tuhan Allah dekat dengan orang yang lemah, bukan hanya dengan yang kuat. Ia mendengar seruan kita dari keadaan yang paling terpuruk dan menyedihkan serta mengampuni masa lalu yang memberi harapan bagi hari esok, bahkan sampai kehidupan kekal. Jika tubuh kita melemah, kasih Tuhan Allah tidak melemah; Jika langkah melambat, janji Tuhan Allah tidak pernah terlambat; Jika hidup terasa sunyi, Tuhan Allah tetap setia menemani.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Hidup di Usia Lanjut bukanlah masa yang sia-sia. Di mata Tuhan Allah, hidup kita setiap hari adalah berharga. Mazmur 130 mengajarkan bahwa selama kita masih bisa berseru, berharap dan menanti Tuhan Allah, hidup kita tetap bermakna dan berharga. Kiranya di tengah kelemahan, kita menemukan kekuatan dalam pengharapan kepada Tuhan Allah. Dan saat kita menunggu "pagi Tuhan" datang, kita tetap yakin bahwa Tuhan Allah yang setia akan menyambut kita dengan penuh kasih. "Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan." Amin.