MENU
MTPJ GMIM 1 - 7 Maret 2026

MTPJ GMIM 1 - 7 Maret 2026

Seperti Tanah Liat Di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu Di Tangan-Ku

Yeremia 18:1-17

Tema Bulanan:

Yesus Kristus Memanggil Umat Untuk Melayani-Nya

Tema Mingguan:

Seperti Tanah Liat Di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu Di Tangan-Ku

Bacaan Alkitab:

Yeremia 18:1-17

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Tidak dapat dipungkiri manusia menginginkan kehidupan yang sejahtera, beruntung dan makmur dalam hidup. Oleh karena itu, ada berbagai usaha yang dilakukan untuk memperolehnya, baik melalui kerja keras ataupun secara instan. Di era yang semakin berkembang pesat ini, cara-cara instan banyak ditawarkan dan banyak juga yang tergiur untuk mengikutinya, seperti pinjaman online, judi online, melakukan penipuan, pencurian dan lain sebagainya. Dari berbagai alasan mengapa manusia melakukan hal-hal tersebut, seperti karena alasan ekonomi, bahkan ada juga yang sudah kecanduan sehingga sulit untuk menghentikannya. Dampak dari perilaku seperti ini dapat berimbas pada rusaknya hubungan relasi di tengah keluarga dan sosial bahkan juga relasi dengan Tuhan Allah. Ironinya, bukannya memperbaiki hubungan antara sesama dan dengan Tuhan Allah, manusia jutsru bersifat tak acuh sejauh apa yang diinginkan dapat terpenuhi. Orang percaya sesungguhnya diingatkan, dalam keadaan apapun, hubungan dengan Tuhan Allah harus senantiasa terpelihara dan hendaknya berdampak dalam kehidupan bersama orang lain. Tema "Seperti tanah Liat Di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu Di Tangan-Ku" akan mengantar kita untuk memahami bagaimana pekerjaan Tuhan Allah dalam kehidupan berdasarkan Yeremia 18:1-17.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Nabi Yeremia dipanggil dan diutus oleh Tuhan Allah untuk menyampaikan nubuat bagi umat Yehuda. Yeremia bernubuat di zaman Yosia dan di zaman raja-raja yang menggantikan Yosia sampai Yerusalem jatuh. Secara khusus pasal 18 ini, ditulis pada masa pemerintahan raja Yoyakim di kerajaan Yehuda, sekitar abad abad ke-7 SM. Tidak seperti ayahnya Yosia yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan Allah dengan menyingkirkan berhala dan mengajak umat hidup mengikuti perintah-Nya, tetapi pada masa pemerintahan Yoyakim, umat mengalami masa kegelapan rohani dan kemorosotan moral. Mereka meninggalkan Tuhan Allah dan terjerumus dalam penyembahan berhala dan kejahatan.

Ayat 1-3, Tuhan Allah memberi misi kepada Yeremia untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat melalui sebuah perumpamaan dalam bacaan ini. Tuhan Allah mengumpamakan diri-Nya sebagai tukang periuk dan umat sebagai tanah liat. Tuhan Allah menyuruh Yeremia untuk pergi ke rumah tukang periuk. "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu." Hal ini memberitahukan bahwa ada pesan yang akan disampaikan oleh Tuhan Allah kepada Yeremia saat ia melihat pekerjaan tukang periuk dan ia harus memperhatikannya dengan baik untuk disampaikan kepada umat Yehuda.

Ayat 4-7, Di rumah tukang periuk, Yeremia menyaksikan proses pembuatan bejana dari tanah liat. Apabila bejana itu rusak (Ibr. shaĉhath yang berarti hancur atau rusak), maka tukang periuk tersebut akan membuat dan membentuk kembali bejana itu dalam bentuk yang lain yang menurut pandangannya adalah baik. Kata Ibrani yaśhar mengandung pengertian membuat benar, membuat lurus, membuat tampak lebih baik. Itu berarti tukang periuk akan mengubah bejana yang rusak itu dengan bentuk yang lebih baik. Di tangan tukang periuk, tanah liat tidak dapat berargumen atau meginterupsi apa yang dilakukannya. Sebaliknya, tukang periuklah yang memiliki otoritas dan kedaulatan atas bejana yang dibuatnya. Begitu pula gambaran kedaulatan dan otoritas Tuhan Allah untuk kebaikan umat-Nya. Tuhan Allah dapat membuat umat-Nya kembali menjadi umat yang dapat diperbaiki dan dijadikan lebih baik lagi asalkan mereka hidup sesuai kehendak-Nya. Tetapi ketika manusia memberontak dan berpaling dari jalan-Nya, maka Tuhan Allah tidak segan-segan mencabut, merobohkan bahkan membinasakannya (ayat 7).

Ayat 8-9, adalah bentuk tindakan kemurahan kasih Tuhan Allah yang "menyesal" hendak menjatuhkan malapetaka ketika manusia bertobat dari kejahatannya. Kata menyesal pada teks ini menggunakan kata nikhamti yang berarti menghela napas, mengasihani, menjadi lunak dalam perasaan dan berbelas kasih. Pada prinsipnya Tuhan Allah tidak berubah dalam kasih dan keadilan-Nya. Pada ayat 10. Apabila manusia melakukan apa yang jahat, Allah "menyesal" akan tindakan umat yang telah memperoleh kemurahan namun melakukan apa yang jahat di mata-Nya. Makna 'Allah menyesal' pada bacaan ini menunjukkan kedaulatan Tuhan Allah dalam menanggapi pilihan manusia. Dia memperhitungkan sepenuhnya cara manusia menanggapi kehendak-Nya. Tuhan Allah sungguh menginginkan pertobatan dalam kehidupan umat. Karena itu Tuhan Allah lebih memilih kasih karunia daripada penghukuman. Namun Ia juga adalah Tuhan Allah yang adil yang tidak dapat membiarkan kejahatan terus terjadi.

Ayat 11-12. Adalah peringatan Tuhan Allah bagi Yehuda atas malapetaka yang akan ditimpakan kepada mereka ketika tidak bertobat karena umat tetap memperlihatkan kekerasan hati yang tidak mau memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Mereka dengan jelas menolak kehendak-Nya dengan berkata, "tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat" (ayat 12). Peringatan ini sekaligus berisi ajakan untuk bertobat agar hukuman tidak ditimpakan kepada mereka. Mereka dengan jelas menolak kehendak-Nya karena lebih cenderung mengikuti rancangan mereka sendiri dan nyaman dengan kedegilan hatinya (Ibr, šĕrîrût libbô hāraʿ yang berarti bengkok, teguh dan keras dengan hati yang jahat) Oleh karena itu Tuhan Allah hendak menunjukkan kepada Yeremia, bahwa Ia memiliki otoritas terhadap umat-Nya. Ia adalah Tuhan Allah, yang mempergunakan kedaulatan-Nya dengan tidak semena-mena. Tetapi Ia juga adalah Tuhan Allah yang penuh dengan keadilan dan kebenaran. Umat mengalami penghukuman karena perbuatan mereka sendiri. Meskipun Ia telah menunjukkan kemurahan hati-Nya dengan memberikan kesempatan untuk berbalik kepada-Nya namun mereka tetap menolak.

Ayat 13-15, dimulai dengan pertanyaan yang merupakan penegasan bahwa umat telah jauh dari Dia. Mereka disebut anak dara (perawan) Israel yang telah melakukan hal-hal yang sangat ngeri. Umat yang telah menjauh itu digambarkan seumpama pada ayat 14 yang menyebutkan fenomena yang tidak mungkin terjadi, "masakan salju putih akan beralih dari gunung batu Siryon? Masakan air gunung akan habis; air yang sejuk dan mengalir?" Dalam terjemahan asli ayat 14 ini didahului dengan kata hăya'azov yang berarti "akankah manusia meninggalkan..." sehingga maksud dari ayat ini sebenarnya, hendak menjelaskan bahwa adalah suatu kerugian bagi manusia untuk meninggalkan Tuhan Allah yang merupakan sumber kebaikan dan kesegaran itu. Sebagaimana orang yang haus pasti tidak akan menolak ketika ada air segar dan jernih didekatnya. Begitu pula seharusnya umat tidak perlu mencari pertolongan yang lain, yaitu kepada dewa kesia-siaan sehingga meninggalkan Tuhan Allah yang adalah Sang sumber penolong dan kebaikan.

Oleh karenanya pada ayat 16-17 umat Tuhan Allah mengalami penderitaan akibat perilaku mereka. Setiap orang yang lewat di sana akan tercengang melihat kehancuran yang terjadi. Merasa ngeri melihat apa yang terjadi kepada umat Tuhan Allah. Kata ngeri dari terjemahan asli adalah šĕrēqāh yang berarti siulan dan mendesis sebagai ejekan dan dapat juga berarti heran. Hal ini membuat mereka menggeleng-gelengkan kepala. Sehingga orang-orang yang melihat kejatuhan umat akan memandang dengan ejekan atas kehancuran dari negeri yang dahulunya diberkati. Kini mereka akan terserak seperti disapu oleh angin Timur dan Tuhan Allah tidak akan memperlihatkan muka-Nya lagi yang berarti menghiraukan mereka melainkan membelakanginya, sebagai konsekuensi atas pilihan mereka sendiri yang mengabaikan dan menolak kasih karunia-Nya.

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

  1. Melalui penggambaran Tuhan Allah sebagai tukang periuk dan umat-Nya sebagai tanah liat menunjukkan bahwa Dia berkuasa atas kehidupan manusia, sehingga manusia harus taat pada proses pembentukan Tuhan Allah. Tanah liat adalah bahan yang lunak dan dapat diubah menurut apa yang baik pada pandangan tukang periuk. Seperti tukang periuk. Tuhan Allah dapat memperbaiki dan mengubahkan umat dari kehancuran menjadi hidup yang lebih baik. Setiap bejana yang di bentuk memiliki tujuan tertentu, demikian juga hidup kita di tangan-Nya. Oleh karena itu, harus ada kesediaan diri dibentuk kembali oleh-Nya dan percaya bahwa apa yang dirancangkan Tuhan Allah adalah yang terbaik bagi kita.
  2. Tuhan Allah penuh kasih dan bermurah hati bagi umat-Nya. Namun bukan berarti Ia berkompromi atas dosa yang dilakukan. Respon atas penolakan adalah dicabut, dirobohkan, dan dibinasakan tetapi respon atas pertobatan adalah dibangun dan ditanam kembali. Pada dasarnya, Tuhan Allah oleh kasih karunia-Nya menghendaki umat hidup dalam pertobatan dan ketaatan bukan memberontak dan degil hati yang berakibat penghukuman.
  3. Jangan mengeraskan hati ketika diproses Tuhan Allah. Hal ini hanya akan membawa kita pada malapetaka dan kehancuran. Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupan ciptaan-Nya karena hidup kita berharga di mata Tuhan Allah. Meskipun terkadang kita merasa gagal dan rapuh, namun ketika kita rendah hati meminta pengampunan dan bertobat dengan sungguh-sungguh di hadapan-Nya, maka Dia sanggup dan mampu memperbaiki kembali hidup kita menjadi bejana yang berharga.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa yang saudara pahami "Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku" menurut Yeremia 18:1-17?
  2. Mengapa manusia lebih memilih jalannya sendiri daripada taat pada kehendak Tuhan Allah?. Berikan pendapat saudara.
  3. Bagaimana seharusnya sikap kita merespon setiap tindakan Tuhan Allah dalam membentuk hidup kita sebagai orang percaya?

NAS PEMBIMBING: Yesaya 64:8

POKOK-POKOK DOA

  1. Tuhan Allah memampukan agar warga gereja hidup taat dan setia pada rancangan-rancangan-Nya dan tidak mengeraskan hati ketika diproses oleh-Nya.
  2. Kehadiran gereja di dunia menjadi berkat dan alat kesaksian bagi kemuliaan Tuhan Allah.
  3. Gereja tetap setia ketika dalam tantangan, pergumulan dan penderitaan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN

MINGGU SENGSARA II

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Persiapan: KJ. No. 454 Indahnya Saat Yang Teduh
Ses. Nas Pemb: KJ No. 37b Batu Karang Yang Teguh
Pengakuan Dosa: KJ No. 28 Ya Yesus, Tolonglah
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 389 Besarlah kasih Bapaku
Ajakan Mengikuti Yesus di Jalan Sengara: KJ No. 375 Saya Mau Ikut Yesus.
Ses Doa Pembacaan Alkitab: KJ No. 32 Kulihat Salib-Mu
Persembahan: KJ. No.387 Ku Heran Allah Mau Memberi
Penutup: DSL No. 173 Jangan Takut

ATRIBUT

Warna Dasar Ungu dengan Simbol XP (Khi-Rho), Cawan Pengucapan, Salib dan Mahkota Duri.