Tema Bulanan:
Berjalanlah Bersama Sang Terang Kehidupan
Tema Mingguan:
Mengasihi Saudara Adalah Wujud Hidup Di Dalam Terang
Bacaan Alkitab:
1 Yohanes 2:7-17
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Sejak akhir abad 20 dan abad 21 sekarang ini, kehidupan manusia diperhadapkan dengan pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi. Nilai-nilai budaya, termasuk budaya barat menyebar ke seluruh dunia, seperti kemandirian, kebebasan pribadi, dan self-interest (kepentingan diri). Hal ini tersebar luas melalui media, internet, dan hiburan global. Budaya kolektif tradisional perlahan tergeser oleh nilai "kebebasan individu". Kemudian kemajuan teknologi dan media sosial membuat orang lebih banyak berinteraksi melalui perangkat digital dari pada secara langsung. Munculnya tren menampilkan citra diri, merawat diri secara fisik, mental, dan emosi, serta pergi berlibur untuk bahagia, bebas untuk diri sendiri, memperkuat fokus pada diri sendiri. Lalu terjadi perubahan struktur sosial dan keluarga di mana keluarga besar makin jarang; digantikan keluarga inti atau hidup sendiri. Belum lagi tekanan persaingan hidup, di mana tuntutan ekonomi dan karier memicu sikap berjuang untuk tidak mau kalah dengan orang lain, sehingga orang lebih mementingkan diri sendiri. Godaan konsumerisme datang dan iklan yang massif, terus-menerus menanamkan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan identik dengan kepemilikan barang (mobil, gadget, fashion). Manusia semakin mengejar target-target untuk memuaskan keinginan individu.
Realitas kehidupan yang terungkap dalam uraian di atas, merupakan tantangan dan pergumulan dalam menciptakan kehidupan bersama. Nilai-nilai kepedulian dan kasih terhadap sesama semakin terkikis. Dalam kehidupan bergereja pun terjadi perpecahan, perselisihan, dan sikap tidak saling mengasihi di antara sesama saudara seiman. Orang percaya terjebak dalam sikap individualis dan hedonis, serta tidak peduli terhadap sesama. Realitas inilah yang mendorong untuk merenungkan tema: "Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di dalam Terang"
PEMBAHASAN TEMATIS
■ Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Surat 1 Yohanes sering dikategorikan dalam sastra Yohanes bersama-sama dengan surat 2 Yohanes, 3 Yohanes, Injil Yohanes, dan Wahyu kepada Yohanes. Penulis surat ini tidak memperkenalkan dirinya, sehingga surat ini diturunkan secara anonim (tanpa nama). Tradisi lama menyebutkan Yohanes sang rasul sebagai penulisnya, ada juga yang menyamakan penulis surat ini dengan Injil Yohanes. Tapi para ahli berpendapat bahwa penulis surat Yohanes dan Injil Yohanes berbeda, hanya saja berasal dari satu aliran tradisi. Surat ini diperkirakan ditulis di sekitar tahun 100/110 M. Bertujuan untuk meningkatkan ketaatan para penerimanya agar tetap memelihara tradisi serta persekutuan dalam komunitas Yohanian tetapi juga terus beriman di dalam Yesus Kristus meskipun harus berhadapan dengan gangguan dan kebingungan yang disebabkan oleh anggota komunitas yang telah meninggalkan gereja.
Dalam pasal 2:3-6, penulis mengungkapkan pengenalan akan Tuhan Allah ditandai dengan melakukan perintah-perintah-Nya. Sementara dalam pasal 2:7-11 perintah Tuhan Allah itu direspons dengan mengasihi saudara. Ada semacam perputaran kasih yang mengalir pertama dari Tuhan Allah kepada orang-orang percaya, dan kemudian kembali kepada Tuhan Allah ketika orang-orang percaya saling mengasihi. Para pembaca disapa dengan kata Yunani agapetoi, kata sifat vokatif yang berarti "orang-orang yang kekasih", hal ini hendak menunjukkan kasih dari penulis kepada mereka yang menjadi penerima tulisan ini dalam konteks ajakannya bahwa mereka harus mengasihi satu sama lain dalam ketaatan pada perintah Yesus Kristus. Penulis mengungkapkan bahwa apa yang ia tuliskan kepada mereka bukanlah sebuah ide atau hal yang baru, tetapi perintah yang sudah lama ada (ay. 7). Gagasan bahwa kasih kepada Tuhan Allah dan ketaatan kepada perintah-Nya yang diekspresikan dengan kasih kepada sesama merupakan gagasan yang sentral pula bahkan dalam Perjanjian Lama (bdk. UI. 6:5).
Perintah lama itu pada saat yang sama juga mau dikatakan sebagai perintah baru (entolen kainen). Perintah itu nyata dan benar di dalam Dia. Penulis mengembangkan semacam dualitas antara terang dan gelap untuk menggambarkan konsep kasih dan kebencian (ay. 8). Kata terang merupakan terjemahan dari kata Yunani phōs yang berarti terang, sumber cahaya, atau pancaran terang. Kata ini dalam Perjanjian Baru sering digunakan untuk menunjukkan manifestasi Tuhan Allah dan terang ilahi dalam Yesus Kristus. Sedangkan kata gelap atau kegelapan adalah terjemahan dari kata Yunani skotia yang berarti kegelapan, keremangan, ketidakjelasan, yang juga sering kali secara figuratif menggambarkan kegelapan spiritual.
Terang yang Yesus Kristus bawa ke dalam dunia bersinar tidak hanya di dalam Dia, tetapi juga "di dalam kamu", orang-orang yang berjalan dalam terang. Kegelapan dilenyapkan ketika semakin banyak orang menjadi percaya pada Yesus Kristus dan menghidupi kasih Tuhan Allah dalam dunia. Penulis menekankan poinnya bahwa siapa saja yang membenci saudaranya, ia tinggal dalam kegelapan, tidak peduli apapun yang mereka katakan (ay. 9). Kualitas hubungan interpersonal menunjukkan kesaksian yang lebih kuat daripada perkataan semata. Untuk tetap tinggal dalam terang, mengharuskan seseorang untuk mengasihi saudara-saudarinya dalam Yesus Kristus. Orang yang mengasihi tidak menyesatkan orang lain dan membawanya melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah (ay. 10). Kebencian kepada orang lain adalah kegelapan moral yang tidak konsisten dengan Tuhan Allah yang adalah terang. Orang yang hidup dalam kebencian, hidup dalam kegelapan, dan kegelapan itu juga yang membutakan (ethuphlōsen), kata ini menjelaskan membutakan baik secara fisik maupun mental (ay.11). Sama halnya kegelapan adalah tidak adanya terang, demikian kebencian adalah tidak adanya kasih.
Penulis menggunakan struktur retorikal yang unik untuk menyampaikan pesannya. Penggunaan ungkapan vokatif anak-anak (teknia dan paidia), bapa-bapa (pateres), orang-orang muda (neaniskoi), dipahami sebagai cara penulis menggunakan gaya retorika untuk menjelaskan semua pembacanya (ay. 12-14). Oleh karena karakteristik retoris tersebut maka penulis tidak hanya membatasi seruannya itu kepada kelompok tertentu saja melainkan berlaku kepada seluruh komunitas. Penulis menyampaikan hal-hal ini kepada mereka sebagai pengakuan (afirmasi) bahwa mereka telah hidup dengan baik dalam gaya hidup Kekristenan, dia menuliskannya karena pernyataan-pernyataan tentang mereka tersebut adalah benar adanya.
Kasih kepada dunia adalah hal yang berbeda secara karakteristik dengan kasih yang dimiliki seseorang kepada saudara-saudarinya. Kasih kepada sesama merupakan ungkapan kepedulian dan perhatian, sementara, "mengasihi" dunia merujuk pada ketertarikan pada sesuatu yang ingin dinikmati, kesenangan pada hal-hal yang tidak ada dalam terang (ay. 15). Itu berarti ingin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Secara spesifik penulis menjelaskan hal-hal di dalam dunia yang dimaksud (ay. 16) yaitu keinginan daging (hē epithumia tēs sarkos), keinginan mata (hē epithumia tōn ophthalmōn), dan keangkuhan hidup (hē alazoneia tou biou). Penulis memberikan penekanan pada karakteristik dari dunia yaitu sifatnya yang sementara sehingga ia sedang lenyap (ay. 17). Apa yang ditawarkan dunia bersifat sementara; apa yang ditawarkan Tuhan Allah bersifat kekal. Tetap hidup selama-lamanya menunjuk pada kehidupan kekal di dalam Tuhan Allah. Hal ini merupakan semacam paralel dengan ungkapan "tetap berada di dalam terang", dengan demikian juga tetap/tinggal tetap (menei) selama lamanya. Orang yang hidup saling mengasihi, tinggal di dalam terang, dan tetap berada dalam hidup kekal di dalam Tuhan Allah.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Orang percaya perlu terus memperbarui komitmen untuk mengasihi sesama sebagai wujud hidup dalam terang. Pembaharuan komitmen menekankan pentingnya konsistensi dalam mengasihi. Ini bukan tindakan sekali jadi, melainkan proses yang terus-menerus. Sifat manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Pembaharuan komitmen membantu melawan kecenderungan ini dan fokus pada kebutuhan orang lain. Seiring berjalannya waktu, kita menghadapi tantangan dan situasi baru, perubahan dunia yang begitu cepat termasuk nilai-nilai kehidupan. Pembaharuan komitmen membantu kita menerapkan kasih dalam konteks yang berubah. Komitmen untuk terus menerus mengasihi sesama adalah respon aktif terhadap kasih Tuhan Allah yang terus-menerus dalam hidup kita.
- Kita harus mengevaluasi apakah hidup kita mencerminkan terang Kristus melalui kasih kepada sesama. Introspeksi memerlukan kejujuran dalam melihat diri sendiri, mengakui kekurangan dan area yang perlu ditingkatkan dalam hal mengasihi sesama. Kita menggunakan teladan dan ajaran Yesus Kristus sebagai standar untuk mengevaluasi kehidupan kita, bukan standar dunia atau diri sendiri. Kita dapat menilai konsistensi kita dalam mengasihi, apakah hanya situasional atau menjadi karakter yang terus-menerus. Hal ini membantu kita merefleksikan dampak kasih kita terhadap orang lain dan komunitas sekitar agar kita terhindar dari sikap individualis dan hedonis.
- Segala bentuk kebencian harus dijauhi karena bertentangan dengan kehidupan dalam terang. Kebencian di sini mencakup berbagai bentuk, mulai dari perasaan tidak suka yang mendalam hingga tindakan permusuhan aktif terhadap orang lain. Kebencian dilihat sebagai kegelapan yang bertentangan langsung dengan terang Kristus, sehingga tidak ada tempat baginya dalam kehidupan orang percaya. Membiarkan kebencian berakar dapat menghambat pertumbuhan spiritual dan merusak hubungan kita dengan Tuhan Allah dan sesama. Diperlukan pembaharuan pikiran untuk mengganti pola pikir yang cenderung pada kebencian dengan pikiran yang penuh kasih. Dengan menjauhi kebencian, kita memutus siklus negatif yang sering kali diwariskan dalam keluarga atau masyarakat.
- Waspada terhadap nilai-nilai duniawi yang dapat menjauhkan dari kasih Tuhan Allah. Hal ini melibatkan kemampuan untuk mengenali nilai-nilai dan pola pikir duniawi yang bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Orang percaya perlu mengembangkan kemampuan untuk menilai secara kritis berbagai pengaruh dari media, budaya populer, dan lingkungan sosial. Menyadari sifat sementara dari hal-hal duniawi dibandingkan dengan nilai kekal dari hubungan dengan Tuhan Allah yang kemudian nyata dalam kasih bagi sesama.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa pemahaman anda tentang Mengasihi Saudara adalah Wujud Hidup di dalam Terang menurut 1 Yohanes 2:7-17?
- Mengapa orang percaya harus mewujudkan hidup yang mengasihi sesama?
- Bagaimana peran gereja dalam membentuk komunitas yang hidup saling mengasihi dan hidup di dalam terang Yesus Kristus?
NAS PEMBIMBING: Yohanes 13:34
POKOK-POKOK DOA
- Berdoa agar jemaat hidup saling mengasihi satu sama lain.
- Berdoa agar jemaat tidak tinggal dalam kebencian oleh karena berbagai hal.
- Berdoa agar jemaat tidak terikat dan terpengaruh dengan berbagai keinginan duniawi melainkan mengarahkan kehidupan pada Terang Kasih Tuhan Allah.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
HARI MINGGU BENTUK IV
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Persiapan: PKJ No.12 "Kami Muliakan Nama-Mu"
Pembukaan: PKJ No. 275 "Perintah Baru"
Pengakuan Dosa & Pengampunan: KJ No.178 "Kar'na Kasih-Nya Padaku"
Ses. Pembacaan Alkitab: PKJ No. 15 "Kusiapkan Hatiku, Tuhan"
Persembahan: PKJ No. 128 "Kasih Tuhan Yesus Tiada Bertepi"
Penutup: KJ No. 249 "Serikat Persaudaraan"
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu Di Atas Gelombang.