Sehati Sepikir dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan
Syalom, damai di hati, damai di hati... Syaloom. Apa kabar remaja GMIM?
Penulis kitab Filipi, termasuk pasal 2 ayat 1-11, adalah Rasul Paulus. Ia menulis surat ini bersama dengan Timotius kepada jemaat Kristen di kota Filipi saat ia sedang berada di dalam penjara. Khusus untuk Filipi 2:5-11, banyak pakar Alkitab meyakini bagian ini merupakan sebuah lagu pujian atau hymne Kristen purba (sering disebut Carmen Christi) yang sudah ada sebelumnya, lalu dikutip oleh Paulus untuk mengajarkan tentang kerendahan hati Kristus.
Filipi 2:1-11 berakar dari kondisi internal jemaat di Filipi yang mulai mengalami perpecahan serta kerinduan Rasul Paulus agar mereka tetap bersatu di tengah tekanan penganiayaan dari luar. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dari dalam penjara (kemungkinan besar di Roma) sekitar tahun 60-62 M. Berikut adalah rincian latar belakang situasi yang mendorong ditulisnya perikop tersebut.
1. Ancaman Perpecahan di Dalam Jemaat
Meskipun jemaat Filipi adalah salah satu jemaat yang paling dikasihi Paulus, mereka mulai menghadapi masalah internal berupa perselisihan dan kesombongan ego.
- Di bagian lain surat ini (Filipi 4:2), Paulus secara spesifik menegur dua wanita pemimpin jemaat, yaitu Ewodia dan Sintikhe, yang sedang berselisih paham.
- Perselisihan ini dipicu oleh kepentingan diri sendiri dan rasa ingin dipuji, yang jika dibiarkan dapat merusak kesaksian iman gereja purba tersebut.
2. Tekanan Penganiayaan dari Luar
Jemaat di Filipi hidup di bawah tekanan budaya Kekaisaran Roma. Sebagai kota koloni Romawi, warga Filipi sangat bangga akan status sosial dan kewarganegaraan mereka.
- Jemaat Kristen di sana menghadapi intimidasi dan penderitaan karena menolak menyembah Kaisar sebagai "tuhan".
- Paulus menyadari bahwa jika di dalam tubuh jemaat sendiri tidak ada kesatuan, mereka akan sangat mudah dihancurkan oleh tekanan dari luar.
3. Kerendahan Hati Kristus
Untuk mengatasi riak perpecahan tersebut, Paulus menulis Filipi 2:1-4 sebagai seruan untuk sehati, sepikir, dan menaruh kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.
Kemudian, pada ayat 5-11, Paulus memberikan teladan tertinggi yang harus mereka ikuti, yaitu Yesus Kristus.
Paulus mengutip atau menyusun sebuah himne (pujian) kuno tentang Kristus yang rela mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib, sebelum akhirnya Allah meninggikan-Nya.
Melalui latar belakang teologis ini, Paulus ingin menegaskan: jika Kristus yang adalah Allah saja rela merendahkan diri-Nya demi keselamatan manusia, maka jemaat di Filipi pun harus membuang ego mereka demi menjaga kesatuan gereja.
Pesan bagi Remaja Kristen di Era Media Sosial
Bagi para remaja Kristen yang hidup di era media sosial โ di mana dunia menuntut mereka untuk selalu tampil sempurna, mencari pengakuan (likes/views), dan menjadi yang utama โ Filipi 2:1-11 membawa pesan yang sangat radikal dan menantang arus zaman antara lain:
1. Buang Budaya FOMO dan "Flexing" (Puji-pujian Sia-sia)
"Janganlah kamu melakukan sesuatu karena kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia..."
Dunia remaja sering kali diwarnai oleh keinginan untuk pamer (flexing) kehebatan, barang milik, atau pencapaian demi mendapat pujian teman. Firman Tuhan mengingatkan agar kamu tidak hidup demi validasi palsu atau sekadar mencari perhatian (pansos). Temukan harga dirimu di dalam Tuhan, bukan dari berapa banyak orang yang memujimu di media sosial atau di sekolah.
2. Berhenti Jadi Egois, Belajarlah Peduli (Empati)
"Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."
Sangat mudah untuk bersikap acuh tak acuh dan hanya memikirkan kenyamanan diri sendiri (self-centered). Firman ini menantang kamu untuk peka melihat sekitar. Ketika ada teman sekelas yang kesepian, dijauhi (dibully), atau sedang stres karena masalah keluarga, datanglah sebagai teman yang mendukung. Kurangi egoismu, dan mulailah melayani sesama.
3. Sukses Menurut Tuhan: Turun untuk Melayani, Bukan Saling Menjatuhkan
Yesus, yang adalah Raja segala raja, justru memilih untuk "mengosongkan diri-Nya" dan mengambil rupa seorang hamba yang taat sampai mati.
Di sekolah atau komunitas, definisi sukses sering kali adalah menjadi yang paling atas dengan cara menjatuhkan orang lain. Yesus memberikan teladan yang sebaliknya: kebesaran sejati diukur dari seberapa besar kamu mau melayani. Jangan gengsi untuk meminta maaf duluan, jangan malu untuk menolong orang yang dianggap "lemah", dan jangan merasa terlalu keren untuk melakukan hal-hal kecil di gereja atau rumah.
4. Menjaga Kesatuan, Stop Bikin "Circle" yang Saling Memusuhi
Paulus meminta jemaat untuk hidup sehati, sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Konflik, gosip, dan perpecahan kelompok (circle) sangat sering terjadi di dunia remaja. Pesan firman ini sangat jelas: jaga kesatuan. Stop membicarakan kejelekan teman di belakang (nge-gossip) atau membuat kubu-kubuan yang memecah belah persekutuan remaja. Miliki hati yang luas untuk menerima perbedaan teman-temanmu.
Refleksi bagi Pembina Remaja
Filipi 2:1-11 membawa pesan yang sangat relevan dan mendalam bagi para pembina remaja. Melayani generasi muda di era digital memiliki tantangan besar, terutama dalam menghadapi budaya ego, pencarian validasi (flexing), dan kerentanan mental yakni:
1. Menjadi Teladan "Kenosis" (Mengosongkan Diri)
Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Remaja hari ini tidak butuh pembina yang "merasa paling tahu" atau sekadar mengkhotbahinya. Mereka butuh pembina yang mau turun ke dunia mereka. Mengosongkan diri bagi pembina berarti mau menanggalkan ego, status senioritas, dan gengsi untuk mendengarkan pergumulan mereka. Jadilah hamba yang melayani mereka dengan ketulusan, bukan dengan otoritas yang kaku.
2. Membangun Kesatuan, Bukan Kompetisi (Anti-Gengsi)
"Jangan melakukan sesuatu karena kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, tetapi sebaliknya hendaklah dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama."
Dunia remaja penuh dengan persaingan (siapa yang paling eksis, paling keren, atau paling pintar). Tugas pembina adalah menciptakan komunitas remaja yang inklusif dan saling mendukung. Jangan sampai pelayanan remaja menjadi panggung bagi pembina untuk mencari panggung atau pujian pribadi. Fokuslah untuk mengutamakan pertumbuhan iman para remaja, bukan popularitas program pelayanan Anda.
3. Memiliki "Mindset" Seperti Kristus dalam Menghadapi Konflik
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus."
Dalam memimpin rekan tim pembina maupun saat menghadapi konflik antar remaja (seperti circle yang pecah, gosip, atau salah paham), gunakan cara pandang Kristus. Hadapilah masalah bukan dengan kemarahan atau penghakiman, melainkan dengan kasih, pengampunan, dan kerendahan hati.
4. Menemukan Kekuatan dalam Ketaatan, Bukan Hasil Instan
Kristus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Proses merendahkan diri ini mendahului kemuliaan yang dari Allah. Melayani remaja sering kali melelahkan dan hasilnya tidak terlihat secara instan. Kadang remaja yang dibina justru memberontak atau menjauh. Firman ini mengingatkan agar pembina tetap setia dan taat pada panggilan, meskipun prosesnya berat seperti memikul salib. Upah pelayanan Anda tidak ditentukan oleh seberapa cepat remaja itu berubah, melainkan oleh kesetiaan Anda dalam mendampingi mereka.
Karena ini sebagai refleksi bersama, marilah kita:
- Saling Mendukung: Berhenti membandingkan kemampuan diri dengan teman lain.
- Mendengar Masukan: Pembina dan remaja wajib saling menghargai pendapat.
- Satu Visi: Fokus pada tujuan memuliakan nama Tuhan Yesus.
- Buang Klik: Jangan membuat kelompok eksklusif di dalam pelayanan.
Kesatuan dalam tubuh remaja GMIM akan tercipta saat semua meneladani Kristus. Mari kita hidup sehati, sepikir, dan dipenuhi oleh satu kasih yang tulus. Tuhan Yesus memberkati pelayanan kita sekalian.



