Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia
Siapa "tuan" di hidupmu? Kamu bisa menjawab pertanyaan ini dengan memeriksa: apa yang kamu andalkan, kepada siapa kamu bergantung, hal apa yang menjadi prioritas dalam waktumu? Bila jawabannya bukan Tuhan, maka sesungguhnya kamu tidak menyembah Tuhan, meski agamamu Kristen. Kalau yang kamu andalkan kepintaran atau teknologi, kamu bergantung pada uang atau manusia, prioritasmu adalah apa yang menyenangkan hati, maka sebenarnya ada berhala dalam hidupmu. Semua yang menggantikan posisi Tuhan adalah berhala.
Orang Kristen tidak kekurangan pengajaran tentang Tuhan, tapi sering kehilangan komitmen setia pada Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan yang tidak disertai sikap hidup yang menyembah Tuhan, sesungguhnya merupakan kebodohan. Mari belajar dari apa yang disampaikan Yosua kepada orang Israel.
Yosua pasal 24 merupakan pidato terakhir sebelum Yosua meninggal. Ia mengumpulkan semua orang Israel di Sikhem dan mengingatkan mereka untuk selalu memilih menyembah Tuhan. Mengapa di Sikhem?
- Di Sikhem, Allah pertama kali menyampaikan janji-Nya kepada Abraham, Bapa leluhur Israel (Kej. 12)
- Di Sikhem, Yakub menguburkan dewa-dewa asing (Kej. 35)
Maka di Sikhem juga, Yosua mengingatkan sejarah pilihan dan penyelamatan Allah bagi Israel. Lalu, ia mengajak bangsa ini untuk mengingat setiap peristiwa yang mereka lewati bersama Tuhan. Umat diajak untuk selalu memilih takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.
Mari perhatikan apa yang disampaikan Yosua. Ia mengingatkan tentang pemanggilan Abraham, keberadaan Israel di Mesir, menyeberangi Laut Teberau, perjalanan padang gurun, hingga menduduki tanah perjanjian. Tuhan menjadi sumber pertolongan dan berkat. Yosua meminta Israel:
- Takut kepada Tuhan. Takut (Ibr. Yare') = kagum, tunduk, hormat. Artinya, mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Jadi, ini bukanlah ketakutan yang negatif, melainkan kesadaran bahwa Tuhan pemilik hidup dan karena itu umat harus menghormati-Nya dalam ketaatan.
- Beribadah (Ibr. Abad), artinya melayani, mengabdi, menyembah. Jadi beribadah bukan sekadar hadir dalam kebaktian gereja, melainkan pengabdian dan penyembahan kepada Allah yang nampak dalam semua aktivitas hidup setiap hari.
- Dengan tulus ikhlas (Ibr. tamim). Tamim = utuh, tidak bercabang, tidak munafik, sepenuh hati. Artinya, Tuhan berkenan akan hati yang benar dan bukan pada penampilan menarik.
- Setia (Ibr. emet), artinya dapat dipercaya, konsisten, teguh, benar.
Pesan ini tidak hanya berlaku untuk Bangsa Israel. Ini menjadi perintah yang harus dilakukan oleh semua orang percaya. Selalu ingat kebaikan Tuhan. Jangan pernah lupa siapa yang memberi berkat. Lalu, kepada Dia sajalah, orang percaya harus menyembah dengan taat.
Firman Tuhan mengingatkan, jangan hanya suka berkat tapi lupa beribadah kepada Tuhan, sumber berkat. Setiap hari, ingatkan dirimu: Tuhan memberimu hari baru. Tuhan memberimu nafas. Tuhan menjagamu kemarin. Tuhan menolong dalam masalah. Tuhan selalu menyertai. Andalkan Tuhan dan sembah Dia. Saat kamu tidak disertai oleh sumber berkat, maka semua kenikmatan yang ada padamu akan menyeretmu pada kehancuran.
Jangan menggeser posisi Tuhan. Kamu mungkin tidak menyembah patung, tapi menggantikannya dengan medsos, game, gadget, teknologi, ilmu pengetahuan, popularitas, uang, idola, dan banyak lagi yang menguasai waktu dan hati. Tuhan Yesus sudah memberi peringatan, "di mana hartamu berada, di situ juga hatimu". Maknanya, apapun yang menjadi "terpenting" dalam hidupmu, hatimu akan melekat di sana. Apa yang menguasaimu, itulah yang sedang kamu sembah.
Ketegasan Yosua (ayat 15) menjadi teladan bagi semua remaja GMIM. Ketika lingkungan sekitar begitu gelap dan jahat. Manusia hidup materialistik dan memuja kenikmatan dunia, hendaklah setiap remaja GMIM akan selalu memilih menjadi anak Tuhan. Dengan yakin akan berkata "aku dan seisi rumahku akan beribadah kepada Tuhan." Amin.



