ALASAN PEMILIHAN TEMA
Banyak orang ingin memiliki kekayaan yang melimpah dalam hidupnya dan akan melakukan apa saja untuk memperoleh kekayaan tersebut. Banyak orang bertanya: "Salahkah atau berdosakah kalau seseorang memiliki kekayaan?" Alkitab tidak melarang orang memiliki kekayaan. Memiliki kekayaan bukanlah hal buruk dan berdosa, tetapi yang berdosa adalah ketika orang mencari dan menggunakan kekayaannya dengan cara yang tidak benar, apalagi lebih memprioritaskan dan mempercayai kekayaan daripada Tuhan Allah. Ada orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan misalnya dengan cara menipu orang lain, ada yang mengambil jalan pintas supaya cepat mendapatkan kekayaan dengan jalan mencuri atau korupsi dan lain sebagainya. Ketika seseorang mendapatkan kekayaan, ada yang menjadi serakah karena merasa tidak puas dengan apa yang didapatkan, ada yang sombong sebab menganggap semua kekayaan yang diperoleh karena usaha, keahlian, kepintaran dan kekuasaannya sendiri. Ada yang sampai lupa diri dan melupakan Tuhan Allah serta menganggap dirinya sebagai pemilik absolut atas kekayaannya. Juga ada yang mempergunakan kekayaannya untuk melakukan kejahatan dan hal-hal yang tidak pantas misalnya berjudi, berzinah serta tidak mau berbagi dengan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Semua ini tidak dikehendaki Tuhan Allah.
Sebaliknya, bukan sedikit orang yang memiliki kekayaan namun tetap mengakui bahwa apa yang dimilikinya adalah berkat Tuhan Allah dan berasal dari-Nya. Mereka memiliki kekayaan yang melimpah tetapi tidak sombong, tetap murah hati, peduli pada orang lain dan mau menopang pelayanan gereja serta mempergunakan kekayaannya demi kemuliaan nama Tuhan Allah.
Di minggu-minggu pengucapan syukur yang sangat terasa di beberapa wilayah pelayanan GMIM, kita semua diajak untuk merenungkan 1 Tawarikh 29:10-19 dengan tema: "KEKAYAAN DAN KEMULIAAN BERASAL DARI TUHAN ALLAH."
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Daud adalah anak Isai, dia menjadi raja Israel kedua, yang menggantikan raja Saul karena Saul telah ditolak oleh Tuhan Allah. Raja Daud memerintah atas seluruh Israel selama 40 tahun, yakni di Hebron ia memerintah atas Yehuda selama 7 tahun 6 bulan dan di Yerusalem selama 33 tahun atas seluruh Israel dan Yehuda (Bdk. 1Tawarikh 3:4-5; 29:27; 2Samuel 5:4-5). Kemenangan demi kemenangan atas musuh diberikan Tuhan Allah kepada Israel di bawah kepemimpinan Daud. Daud ingin mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian Tuhan Allah dan untuk tumpuan kaki-Nya, bahkan ia juga telah membuat persediaan untuk mendirikannya (28:2). Tetapi Tuhan Allah telah berfirman bahwa bukan Daud yang akan mendirikan rumah bagi-Nya, melainkan Salomo anaknya (lihat 1Tawarikh 28:3-6).
Sekalipun bukan Daud yang dipilih Tuhan Allah untuk mendirikannya, tetapi dengan segenap kemampuannya, ia sendiri dan seluruh bangsa Israel menyediakan bahan-bahan berupa emas, perak, tembaga, besi, kayu dan segala macam batu permata yang mahal dan pualam yang sangat banyak.
Dalam ayat 10-14 Daud mengungkapkan sukacitanya dengan memuji (Ibr: wayebarek) Tuhan Allah di depan mata segenap jemaah dan mengakui bahwa Dialah yang empunya kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyuran, keagungan dan segala-galanya yang ada di langit dan bumi. Demikian pula, beberapa kali Daud mengungkapkan bahwa kekayaan dan kemuliaan, kekuatan dan kejayaan berasal dari Tuhan Allah yang berkuasa atas segala-galanya (Ibr: mosyel bakkol). Manusia tidak memiliki apapun, semua adalah milik Tuhan Allah. Manusia tidak patut untuk menyombongkan diri, melainkan sama seperti raja Daud, merendahkan diri dan memuji Tuhan Allah saja.
Dalam ayat 15, Daud menyadari keberadaan dirinya dan bangsanya sebagai orang asing dan pendatang, yang tidak memiliki hak atas tanah atau tidak memiliki apa-apa. Ini adalah tanda kerendahan hati dan kesadaran diri di hadapan Tuhan Allah bahwa manusia lemah dan terbatas. Bahkan, Daud menegaskan kefanaan manusia dengan menyatakan "sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan." Sebagai orang asing dan pendatang, di tanah Kanaan (tetapi juga di bumi), mereka benar-benar bergantung kepada Tuhan Allah. Jadi, kalau mereka boleh memberi persembahan sukarela, mereka meyakini bahwa semua itu berasal dari Tuhan Allah sendiri, karena itu mereka berkata: "Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya" (ayat 16). Pernyataan ini ditegaskan dalam ayat 11, 12, 14, dan 16 ini. Ini bukan sekedar pernyataan biasa melainkan pengakuan iman bahwa Tuhan Allah adalah pemilik segala sesuatu dan berkenan mengaruniakannya kepada umat-Nya. Jika umat mempersembahkannya, itu karena Dia sendiri telah memberikannya terlebih dahulu kepada mereka. Ini sekaligus adalah cara mereka mengingat Tuhan Allah dan semua yang telah dilakukan-Nya bagi umat-Nya.
Dalam ayat 17, Daud mengakui bahwa Tuhan Allah adalah penguji hati (Ibr: bokhen lebab) dan berkenan kepada keikhlasan, maka Daud dan seluruh umat mempersembahkan semuanya dengan hati yang sukarela dan tulus ikhlas (Ibr: beyoser). Bagi Daud, penting untuk mempersembahkan persembahan kepada Tuhan Allah dengan tulus hati, sebab itu juga adalah bentuk pernyataan iman kepada-Nya. Kata hati, Ibraninya lebab, bukan hanya berarti hati, melainkan seluruh kehendak, pikiran, dan inti diri manusia. Dalam pengertian ini, Tuhan Allah adalah penguji seluruh kehendak, pikiran, dan inti diri manusia. Demikian pula, umat mempersembahkan persembahan kepada Tuhan Allah dengan kehendak, pikiran, dan inti diri manusia yang benar-benar sukarela, tulus ikhlas dan penuh sukacita.
Dalam ayat 18-19, Daud pertama-tama memohon agar Tuhan Allah membuat hati seluruh umat tetap tertuju kepada-Nya (Ibr: wehaken lebabam 'eleyka). Agar hati mereka tidak berubah dan berbalik dari Tuhan Allah, tetapi tetap tertuju kepada-Nya, percaya hanya kepada-Nya. Kemudian ia memohonkan hal yang sama juga dilakukan Tuhan Allah kepada Salomo, anaknya. Daud memohon agar anaknya Salomo diberikan hati yang tulus (Ibr: lebab syalem) sehingga ia berpegang dan melakukan pada segala perintah, peringatan dan ketetapan Tuhan Allah serta mendirikan bait yang persiapannya telah dilakukan oleh Daud.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Teks ini menegaskan bahwa Tuhan Allah adalah Pemilik segala sesuatu dan karena itu berkuasa atas segala sesuatu. Manusia tidak memiliki apapun dan hanya bayang-bayang saja. Manusia sangat bergantung kepada Tuhan Allah untuk dapat tetap hidup. Jadi, ketika Tuhan Allah memberkati pekerjaan kita dengan memberi kekayaan dan kemuliaan, maka janganlah melupakan Dia tetapi harus senantiasa bersyukur dan memuji Dia karena Dia-lah sesungguhnya Pemilik kekayaan dan kemuliaan itu.
- Persembahkanlah persembahan kepada Tuhan Allah dengan hati yang sukarela, tulus ikhlas dan penuh sukacita. Tidak perlu sombong dan mencari kemuliaan diri, sebab apa yang dipersembahkan bukanlah hasil usaha dan bukan pula milik kita, melainkan milik Tuhan Allah sendiri. Dia sendiri telah lebih dulu memberikan yang terbaik dan karena itu berikan/persembahkanlah yang terbaik kepada-Nya.
- Milikilah hati yang senantiasa tertuju kepada Tuhan Allah. Dengan kata lain, miliki iman dan kehidupan yang senantiasa tertuju hanya kepada Tuhan Allah saja. Jangan berbalik dari-Nya, apapun yang terjadi dalam kehidupan ini. Sebab Dia-lah Pemilik segala sesuatu bahkan kehidupan kita. Oleh karena itu, kepada-Nyalah sepatutnya kita percaya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa yang saudara pahami tentang "Kekayaan dan Kemuliaan Berasal dari Tuhan Allah", berdasarkan 1Tawarikh 29:10-19?
- Mengapa orang percaya sulit memberi persembahan sukarela?
- Bagaimana seharusnya orang percaya mendapatkan dan menggunakan kekayaannya sesuai kehendak Tuhan?
POKOK-POKOK DOA
- Para Pelayan Khusus dan seluruh jemaat memiliki semangat dan kerelaan hati untuk membawa persembahan dengan sukacita dan tulus ikhlas dalam menopang pembangunan gereja.
- Semua jemaat yang sementara melaksanakan pembangunan fisik.
- Pemimpin Gereja dan semua jemaat memperhatikan pertumbuhan dan pembangunan iman.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
Minggu Bentuk II
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Kemuliaan Bagi Allah: KJ. No. 3 "Kami Puji Dengan Riang"
Doa Penyembahan: PKJ. No.4 "Angkatlah Hatimu Pada Tuhan"
Pengakuan Dosa: NNBT No. 11 "Ya Allahku, Kami Mengaku Dosa"
Janji Anugerah Allah: NNBT No. 27 "Ya Tuhan Engkaulah"
Puji-pujian: NNBT No. 1 "Pujilah Dia, Pujilah Dia"
Pemb. Alkitab: KJ. No. 53 "Tuhan Allah T'lah Berfirman"
Persembahan: NKB. No. 133 "Syukur Pada-Mu, Ya Allah"
Penutup: Bernyanyilah Bagi Tuhan Hua.
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu di atas Gelombang.


