"Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia."
--- Filipi 2:6-7
Mengosongkan Diri dan Mengambil Rupa Seorang Hamba
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Paulus menyatakan keilahian Yesus Kristus melalui ungkapan "yang walaupun dalam rupa Allah". Penggunaan kata "yang ada" menekankan eksistensi yang tetap dan tidak berubah, khususnya menunjuk pada sifat keilahian Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Yesus Kristus sebagai Allah tidak bersifat sementara atau berubah-ubah, melainkan tetap dan melekat dalam diri-Nya. Jika dilihat, kata Yunani morphē yang artinya mirip atau serupa, memiliki hubungan dengan kata ousia yang artinya hakikat. Jika menghubungkan kedua arti ini, maka ungkapan en morphē theou (dalam rupa Allah) dapat menunjukkan sebagai suatu keadaan ilahi.
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Paulus melanjutkan dengan menyatakan bahwa Yesus Kristus telah mengosongkan diri-Nya, yang dalam bahasa Yunani ditulis alla eauton ekenosen. Ungkapan ini menyampaikan tindakan sadar Yesus Kristus dalam merendahkan diri-Nya. Meskipun Ia memiliki keberadaan ilahi, Ia memilih untuk tidak mempertahankan posisi kemuliaan-Nya bersama Bapa. Istilah 'kenosis' dari kata kerja ἐκένωσεν, mengacu pada pengosongan diri tersebut. Namun, tindakan ini tidak berarti bahwa Yesus Kristus melepaskan atau mengurangi keilahian dan kemuliaan-Nya. Ia tetap setara dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Di sini maksud Paulus bukan penghilangan esensi keilahian, melainkan pembatasan dalam penyataan kemuliaan-Nya ketika Ia hadir dalam tubuh manusia. Dalam rupa manusia, keilahian Yesus Kristus tetap utuh, tetapi tidak dimanifestasikan secara penuh selama pelayanan-Nya di dunia.
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Di tengah kehidupan modern yang sering mendorong orang untuk mencari popularitas pengakuan dan kepentingan diri sendiri, firman Tuhan Allah hari ini mengajarkan kepada kita tentang teladan Yesus Kristus. Kebesaran sejati bukanlah tentang kedudukan, kekuasaan atau kehormatan melainkan tentang kerelaan melayani dan mengutamakan orang lain. Kerendahan hati Yesus Kristus menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk hidup dalam kasih, pengorbanan dan pelayanan.



