"Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan."
— Kisah Para Rasul 2:30-31
Pengharapan yang Melampaui Zaman
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Seorang ayah berusia lanjut memiliki kebiasaan menulis surat untuk anak cucunya setiap malam sebelum tidur. Ia menuliskan harapan-harapannya agar anaknya menjadi pribadi yang takut akan Tuhan Allah, agar cucunya menjadi terang di sekolah, agar mereka semua tidak melupakan iman yang telah ditanamkan sejak kecil. Ia tahu mungkin tidak akan sempat melihat semua doanya terkabul, tetapi ia percaya bahwa Tuhan Allah yang hidup akan menggenapi setiap janji-Nya. Inilah potret iman yang melampaui zaman.
Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:30-31 berbicara tentang Daud yang menerima janji dari Tuhan Allah bahwa salah satu keturunannya akan duduk di atas takhta-Nya. Petrus menjelaskan bahwa Daud melihat ke depan, meramalkan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Daud tahu bahwa Tuhan Allah akan menggenapi janji itu, dan meskipun ia sendiri tidak menyaksikan peristiwa itu secara langsung, ia percaya sepenuhnya. Iman seperti ini bukan sekadar pengharapan jangka pendek. Ini adalah pengharapan yang melampaui zaman, pengharapan yang tertanam dalam kepercayaan penuh kepada janji-janji Tuhan Allah bahwa Dia setia, tidak pernah lupa, dan selalu menepati firman-Nya.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Dalam kehidupan keluarga, seringkali kita berdoa dan berharap akan banyak hal seperti pemulihan dalam rumah tangga, anak-anak yang bertumbuh dalam takut akan Tuhan, berkat dalam pekerjaan, dan perlindungan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tidak semua doa dijawab seketika. Kadang kita seperti Daud — harus menanam dalam iman, menanti dalam pengharapan, dan percaya dalam kesabaran. Kita dipanggil untuk memiliki iman yang bertahan di tengah ketidakpastian, iman yang tetap percaya walau belum melihat.
Dalam rumah tangga, ini berarti kita terus berdoa bagi anak-anak kita, bahkan saat mereka tampaknya menjauh. Ini berarti kita tetap menanam nilai-nilai firman Tuhan Allah, meski anak belum langsung mengerti. Ini berarti kita tidak lelah berbuat baik, meski belum melihat hasilnya. Tuhan Allah yang menjawab doa Daud dengan mengutus Yesus Kristus, adalah Tuhan Allah yang sama yang mendengar doa-doa kita hari ini. Pengharapan dalam Yesus Kristus bukanlah angan-angan kosong, tapi janji yang pasti, meski waktunya sering tidak sesuai dengan harapan kita. Mari kita terus mewariskan pengharapan yang hidup kepada keluarga kita. Jadilah pribadi yang seperti Daud yang percaya akan janji Tuhan Allah meskipun belum melihat penggenapannya secara langsung. Karena apa yang kita tanam hari ini, Tuhan Allah sanggup tumbuhkan untuk generasi yang akan datang. Amin.
Doa
Ya Bapa Sorgawi, ajarlah kami memiliki iman yang melihat ke depan seperti Daud. Biarlah pengharapan kami kepada-Mu menjadi warisan hidup bagi anak dan cucu kami. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.


