"24:28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya."
--- Yosua 24:28
Ibadah yang Sejati Dimulai Saat Ritual Usai
Ayat Kunci: "Lalu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya." Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Ada kritik yang tajam sekaligus membangun bagi spiritualitas warga Gereja masa kini. Fenomena "suci di dalam gereja, saat ibadah ritual, tetapi kehilangan kesucian di luar gereja" (dikotomi sekuler-sakral atau kemunafikan iman). Banyak orang Kristen terjebak pada pemikiran bahwa kehadiran Tuhan Allah hanya ada di dalam gedung gereja, di altar atau selama ibadah. Mereka mengira kekristenan hanyalah soal menyelesaikan kewajiban hari Minggu, bernyanyi dengan khusyuk dan mendengarkan khotbah. Padahal, ritual di dalam gereja hanyalah pembekalan. Akibatnya, saat melangkah keluar dari pintu gereja, mereka merasa terlepas dari pengawasan Tuhan Allah.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Ibadah yang sejati adalah ujian di kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang gagal menjadi saksi Yesus Kristus di tempat kerja (misalnya ikut korupsi, tidak jujur) atau di rumah tangga (kasar, egois), maka ibadah ritual yang dilakukannya di gereja sebenarnya menjadi sia-sia dan kehilangan maknanya. Mengapa ada kecenderungan suci di dalam Gereja tetapi tidak di luar? Karena menjadi suci di dalam gereja itu mudah. Lingkungannya mendukung, semua orang tersenyum, berpakaian rapi dan menyanyikan lagu yang sama. Namun, di tempat kerja sulit karena ada godaan uang, persaingan tidak sehat dan tekanan sesama. Di rumah tangga ada keegoisan dan kelelahan. Ketika iman tidak berakar kuat menjadi karakter Yesus Kristus, orang Kristen akan memilih jalan termudah, berkompromi dengan dunia di luar gereja, lalu memakai topeng kesucian lagi saat hari ibadah tiba.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Setelah pembaruan perjanjian selesai, Yosua mempersilakan bangsa Israel pulang ke "milik pusakanya masing-masing." Bagi kita saat ini, milik pusaka itu adalah rumah tangga, tempat kerja, sekolah dan lingkungan sosial. Banyak orang Kristen tidak melihat pekerjaan di dunia sekuler, kehidupan rumah tangga sebagai tugas ilahi. Mereka menganggap hal-hal itu murni urusan duniawi yang terpisah dari iman. Padahal, di situlah Tuhan Allah menempatkan kita untuk menjadi "garam dan terang." Ketika kita memisahkan iman dari profesi atau kehidupan sosial, di situlah kemunafikan hidup dimulai. Ingatlah bahwa iman kita harus direalisasikan dalam ketaatan hidup sehari-hari, di tengah rumah tangga, tempat kerja dan lingkungan kita. Jadikan perilaku kita hari ini (cara kita berbicara, berbisnis) sebagai khotbah yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita.
Doa
Ya Bapa sorgawi, ajarlah kami membawa semangat dan pesan ibadah ke dalam rumah, pekerjaan dan seluruh kehidupan. Biarlah hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih dan kemuliaan-Mu. Kami berdoa dalam nama Anak-Mu, Yesus Kristus. Amin.



