GMIM

RHK · 2026-05-29

RHK GMIM 29 Mei 2026

Kisah Para Rasul 2:38

"Jawab Petrus kepada mereka: 'Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.'"

— Kisah Para Rasul 2:38


Hidup Baru dalam Pertobatan

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Seorang pria bernama Yusuf hidup lama dalam kebiasaan buruk. Mudah marah, berkata kasar, dan jauh dari Tuhan Allah. Suatu malam, ia mengikuti ibadah doa karena diajak temannya. Ketika mendengar khotbah tentang pertobatan dan kasih Yesus Kristus di salib, hatinya hancur. Ia menangis dan berkata, "Tuhan, aku tidak bisa ubah diriku sendiri. Tapi kalau Engkau mau, ubahlah aku." Sejak malam itu, hidupnya berubah total. Ia menjadi pribadi baru yang lebih sabar, penuh kasih, dan setia dalam keluarga. Inilah gambaran dari pertobatan sejati.

Dalam Kisah Para Rasul 2:38, Petrus menjawab pertanyaan orang-orang yang hatinya terharu, "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus." Ayat ini menunjukkan bahwa pertobatan bukan sekadar rasa bersalah, tapi sebuah keputusan sadar untuk berbalik dari dosa dan mengikut Yesus Kristus. Pertobatan adalah awal dari hidup yang baru. Bukan sekadar meninggalkan dosa, tapi juga menerima pengampunan dan kuasa baru dari Roh Kudus untuk menjalani hidup dalam kebenaran. Baptisan menjadi simbol dari komitmen untuk mati dan bangkit bersama Yesus Kristus dalam kehidupan yang baru.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di dalam keluarga, pertobatan bukan hanya keputusan pribadi, tapi juga berpengaruh pada suasana rumah. Seorang ayah yang bertobat akan mengubah cara ia memperlakukan istri dan anak. Seorang anak yang bertobat akan mulai taat dan menghargai orangtua. Dan ketika satu anggota keluarga mengalami pertobatan sejati, itu bisa menjadi titik awal bagi kebangkitan rohani seluruh rumah.

Namun, kita juga perlu mengingat bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada momen emosi. Itu harus diwujudkan dalam gaya hidup baru setiap hari — memaafkan, rendah hati, jujur, dan tekun mencari Tuhan Allah. Dalam rumah tangga, pertobatan ditunjukkan saat kita mengakui kesalahan kepada pasangan atau anak, dan ketika kita memilih untuk taat kepada Tuhan Allah meski bertentangan dengan keinginan daging. Hari ini, mari kita refleksikan: adakah dosa yang masih kita pertahankan? Adakah relasi dalam rumah yang perlu dipulihkan dengan pertobatan? Roh Kudus siap memimpin kita kepada hidup baru, asal kita bersedia membuka hati. Amin.

Doa

Ya Bapa, kami bersyukur untuk kasih dan pengampunan-Mu. Tolong kami untuk sungguh-sungguh bertobat dan hidup dalam kebenaran, agar keluarga kami diterangi dan dipenuhi damai sejagtera-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 29/5/2026