GMIM

Upus Ni Mama W/KI GMIM, 23-29 Agustus 2026, Yosua 24:1-28 - Takutlah Akan Tuhan Allahmu Yang Membebaskan Kamu

UPUS NI MAMA ยท 2026-08-22

Upus Ni Mama W/KI GMIM, 23-29 Agustus 2026, Yosua 24:1-28 - Takutlah Akan Tuhan Allahmu Yang Membebaskan Kamu

Yosua 24:1-28

๐Ÿ“–Upus Ni Mama Minggu Iniโ†’
Ingin membaca edisi terbaru atau menjelajahi seluruh arsip UPUS NI MAMA?
Upus Ni Mama Minggu Iniโ†’

Takutlah Akan Tuhan Allahmu Yang Membebaskan Kamu

Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Bulan ini, kita sedang ada dalam suasana syukur HUT ke-81 kemerdekaan bangsa Indonesia, dari penjajahan. Dan firman Tuhan hari ini juga mengingatkan hal yang sama, bahwa ada satu kemerdekaan yang lebih besar, yaitu ketika Tuhan sendiri membebaskan umat-Nya. Karena itu Yosua berkata kepada bangsa Israel: "Takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus dan setia" (ay. 14).

Kitab Yosua berisikan narasi perjalanan bangsa Israel setelah Musa meninggal. Tuhan memakai Yosua untuk memimpin umat memasuki tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan. Pasal 24, bacaan kita merupakan bagian penutup dari kitab ini. Yosua sudah tua. Ia mengumpulkan seluruh bangsa Israel di Sikhem untuk mengingat kembali semua kebaikan Tuhan. Sikhem adalah tempat penting dalam sejarah iman Israel. Di tempat itu Abraham pernah mendirikan mezbah bagi Tuhan. Jadi ketika Yosua mengumpulkan bangsa itu di sana, ia sedang mengajak mereka mengingat perjalanan iman nenek moyang mereka. Di pasal 24, Yosua mengingatkan: "Dulu kamu budak di Mesir, tetapi Tuhan membebaskan kamu." Jadi bangsa Israel tidak boleh lupa siapa yang memberi mereka kemerdekaan.

Kata "takutlah" dalam ayat 14 bukan berarti takut seperti kepada penjahat atau hukuman. Dalam bahasa Ibrani, kata itu mengandung arti hormat, kagum, tunduk, dan setia kepada Tuhan. Jadi "takut akan Tuhan" berarti hidup yang menghargai Tuhan lebih dari apa pun. Menariknya, sebelum Yosua meminta bangsa itu setia, ia lebih dulu mengingatkan pekerjaan Tuhan. Tuhan berkata: "Aku mengambil Abraham... Aku mengutus Musa dan Harun... Aku membawa kamu keluar dari Mesir... Aku memberikan kepadamu negeri..." (ay. 3-13). Artinya keselamatan dan pembebasan bukan hasil kekuatan manusia, tetapi karya Tuhan.

Secara teologis, teks ini menunjukkan tiga hal penting, yakni:

Pertama, Tuhan adalah Allah yang membebaskan. Israel tidak keluar dari Mesir karena mereka kuat, tapi Tuhanlah yang bertindak. Sama seperti bangsa Indonesia merdeka melalui perjuangan besar, demikian juga umat Israel merdeka karena campur tangan Allah.

Kedua, pembebasan harus direspons dengan kesetiaan. Kemerdekaan bukan alasan hidup sembarangan. Yosua berkata: "Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah." Artinya jangan mendua hati.

Ketiga, iman harus menjadi keputusan pribadi dan keluarga. Ayat yang sangat terkenal adalah: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan" (ay. 15). Yosua tidak hanya bicara tentang dirinya sendiri, tetapi juga keluarganya. Seorang teolog terkenal, John Calvin pernah berkata, "Hati manusia adalah pabrik berhala." Maksudnya manusia mudah menggantikan Tuhan dengan hal-hal lain: uang, gengsi, kesibukan, bahkan teknologi. Bahkan mulut sering berkata percaya Tuhan, tetapi hati sering lebih takut kehilangan uang, jabatan, atau kenyamanan.

Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Firman Tuhan saat ini mengajarkan kita beberapa hal:

1. Jangan lupa Tuhan setelah menerima berkat.
Bangsa Israel sering lupa Tuhan setelah hidup nyaman. Demikian juga kita. Waktu susah, kita rajin berdoa. Tetapi setelah keadaan baik, ibadah mulai malas, doa mulai singkat, Alkitab mulai jarang dibaca. Padahal semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kemerdekaan bangsa juga harus membuat kita bersyukur. Masih ada banyak negara yang berperang dan penuh ketakutan. Kita hidup di negeri yang Tuhan pelihara.

2. Perempuan dan ibu memiliki peran menjaga iman keluarga.
Yosua berkata: "Aku dan seisi rumahku." Ini mengingatkan bahwa rumah tangga adalah tempat pertama pendidikan iman. Di desa maupun di kota, ibu sering menjadi "penjaga rohani dan tiang doa" keluarga. Ibu mengingatkan anak untuk berdoa. Ibu yang mengajak ke gereja. Ibu yang tetap beriman walau ekonomi sulit. Kadang seorang ibu merasa pekerjaannya kecil. Tetapi di mata Tuhan itu besar. Iman seorang ibu bisa menyelamatkan masa depan keluarga. Susanna Wesley, ibu dari John Wesley, mendidik anak-anaknya dengan doa dan disiplin rohani. Dari rumah sederhana itulah lahir pelayan Tuhan yang dipakai luar biasa.

3. Takut akan Tuhan berarti hidup benar di tengah dunia yang berubah.
Hari ini banyak orang lebih takut pada media sosial daripada takut pada Tuhan. Takut tidak dipuji, takut tidak dianggap, takut ketinggalan tren. Tetapi firman Tuhan mengingatkan: hormatilah Tuhan lebih dari semuanya. Orang yang hidupnya takut akan Tuhan terlihat dari apa yang ditampilkan setiap hari seperti: hidup jujur, menjaga perkataan, tidak suka gosip, tidak menyimpan kebencian, setia kepada keluarga, dan tetap beribadah walau sibuk.

Jika bangsa Israel berdiri di Sikhem untuk mengingat Tuhan yang membebaskan mereka, maka saat ini kita juga diajak mengingat bahwa Tuhan sudah membebaskan kita: dari dosa, ketakutan, putus asa, dan banyak pergumulan hidup. Karena itu mari kita berkata seperti Yosua: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan."

Kiranya di bulan kemerdekaan ini, kita bukan hanya merayakan kemerdekaan bangsa, tetapi juga hidup sebagai perempuan-perempuan yang takut akan Tuhan, setia kepada-Nya, dan menjadi berkat bagi keluarga, gereja, dan masyarakat. Amin.

Pertanyaan Untuk Diskusi:

  1. Apa yang Anda pahami dari tema perenungan, berdasarkan Yosua 24:1-28?
  2. Bagaimana bentuknya dalam penerapan hidup sebagai tiang doa keluarga?

Bagikan:

Artikel Terkait

Tentang Penulis

Ditulis oleh Tim Upus Ni Mama W/KI Sinode GMIM di bawah pengelolaan Donald K. Lumingkewas, berafiliasi dengan Dodoku GMIM, media informasi warga GMIM di Sulawesi Utara. Lihat profil lengkap di halaman Tentang.

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 21/8/2026