Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir
Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan.
Pagi ini... saya ingin memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. Pernahkah Anda merasa, bahwa di tengah-tengah keramaian ibadah minggu, ada jarak yang menganga? Kita duduk berdampingan, kita menyanyikan lagu yang sama, kita mengucapkan pengakuan iman yang sama... tapi entah mengapa, ada tembok-tembok yang tidak terlihat. Mungkin karena perbedaan pendapat soal program gereja. Mungkin karena ada yang lebih menyukai gaya kepemimpinan pendeta yang lama. Atau mungkin... hanya karena si A dibaptis oleh pendeta ini, sedangkan si B dibaptis oleh pendeta itu. Dan tiba-tiba, tanpa kita sadari, gereja yang seharusnya menjadi rumah bagi keluarga Allah... berubah menjadi arena kompetisi kecil-kecilan. Saya sendiri masih bergumul dengan ini. Betapa mudahnya hati kita terpancing untuk memihak, untuk membentuk kelompok kecil, untuk merasa "kami" lebih benar dari "mereka."
Nah, ternyata pergumulan ini bukan hal baru. Hampir dua ribu tahun yang lalu, di sebuah kota pelabuhan yang ramai bernama Korintus, ada jemaat yang mengalami hal yang persis sama. Korintus... kota yang sangat makmur, sangat kosmopolitan, penuh dengan pedagang dari segala penjuru. Di sana, orang-orang sangat menghargai kepandaian berbicara, kefasihan, dan status sosial. Bayangkan sebuah kota di mana orang berlomba-lomba mengikuti guru-guru filsafat yang paling terkenal, yang paling pintar berdebat. Dan mentalitas itu merembes masuk ke dalam gereja. Jemaat Korintus yang baru bertobat mulai memperlakukan para pengajar Kristen seperti selebriti. "Saya pengikut Paulus," kata satu kelompok. "Ah, saya lebih suka Apolos, dia lebih fasih!" sahut kelompok lain. "Kefas dong, dia kan rasul utama dari Yerusalem," ujar yang lain lagi. Bahkan ada kelompok yang dengan sombong berkata, "Kami langsung mengikut Kristus, tidak perlu pemimpin manusia!"
Dan Paulus... mendengar laporan ini dari keluarga seorang wanita bernama Kloe. Ini bukan gosip, saudara-saudari.
Ini kesaksian dari mereka yang melihat langsung kehancuran yang terjadi. Maka Paulus menulis surat. Dan di pasal pertama, ayat kesepuluh, dia tidak langsung memarahi. Dia memulai dengan kata parakaló—sebuah kata Yunani yang sangat kaya. Bukan sekadar "saya menasihatkan," tapi lebih dalam... "saya memohon, saya mengajak dengan sungguh-sungguh." Dia memanggil mereka adelphoi—saudara-saudara. Bukan budak yang diperintah. Bukan anak buah yang dimarahi. Tapi saudara. Keluarga.
Dan kemudian dia berkata, "Demi nama Tuhan kita Yesus Kristus." Coba kita pikirkan... dalam budaya Alkitab, nama itu bukan sekadar label. Nama mewakili seluruh kepribadian, kuasa, dan kehadiran seseorang. Jadi ketika Paulus menyebut nama Kristus, dia sedang berkata, "Ini bukan permintaan saya. Ini bukan opini saya. Ini adalah kehendak Kristus sendiri, yang kepalamu, yang Tuhanmu, yang mati untukmu." Perpecahan di Korintus bukan cuma konflik antar manusia. Ini adalah serangan terhadap tubuh Kristus. Ini adalah penghinaan terhadap Dia yang telah menyatukan kita dengan darah-Nya sendiri.
Paulus meminta tiga hal yang sangat konkret. Pertama, "Katakanlah hal yang sama." Bukan berarti kita semua harus bicara dengan nada yang sama atau menggunakan kata-kata yang persis identik. Tapi... ada satu suara, satu pesan utama yang harus kita pegang bersama. Bahwa Kristus adalah Tuhan. Bahwa salib adalah pusat iman kita. Bahwa keselamatan hanya ada dalam Dia. Kedua, "Jangan ada perpecahan di antara kamu." Kata Yunaninya schismata—sobekan, seperti kain yang robek atau tanah yang terbelah oleh bajak. Bayangkan pakaian yang sobek. Masih bisa dipakai? Masih indah? Begitulah gereja yang terpecah. Kita tidak bisa bersaksi dengan efektif kepada dunia kalau tubuh kita sendiri penuh dengan luka robek. Ketiga, "Bersatu dalam pikiran dan pendapat yang sama." Ini yang paling sulit, saudara-saudari. Karena kita semua punya kepala sendiri, punya pengalaman sendiri, punya preferensi sendiri. Tapi Paulus menggunakan kata katartizó—sebuah istilah medis yang digunakan untuk menyambung kembali tulang yang patah, atau memperbaiki jala nelayan yang robek supaya bisa dipakai menangkap ikan lagi.
Dan inilah yang indah. Paulus tidak meminta kita untuk menjadi robot yang identik. Dia meminta kita untuk dipulihkan. Untuk disambung kembali. Agar kita bisa berfungsi seperti yang Tuhan rancangkan. Karena gereja yang terpecah adalah gereja yang cacat secara fungsional. Kita tidak bisa menjalankan misi kita. Kita tidak bisa melayani dengan maksimal. Energi kita habis untuk bertengkar, bukan untuk melayani.
Lalu Paulus mengajukan pertanyaan yang... kalau saya boleh jujur... sangat menohok. "Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?" Tiga pertanyaan retoris yang menghujam jantung masalah mereka. Kristus itu satu. Dia tidak bisa dipecah-pecah menjadi versi Paulus, versi Apolos, versi Kefas. Dia adalah Kepala yang utuh, dan kita adalah tubuh-Nya. Dan yang disalibkan... bukanlah seorang raja. Bukanlah seorang penginjil terkenal. Bukan pula pendeta karismatik. Tapi Kristus. Dia yang mati. Untuk kita. Bayangkan.
Dan soal baptisan... ini menarik sekali. Paulus berkata dia bersyukur hanya membaptis segelintir orang—Krispus, Gayus, keluarga Stefanus. Anda mungkin berpikir, "Kok rasul malah bersyukur baptis sedikit orang? Bukannya seharusnya bangga?" Tapi inilah poinnya. Paulus tidak mau baptisan menjadi alat pembentukan kelompok. Di Korintus, tampaknya ada yang merasa, "Saya dibaptis oleh Paulus, jadi saya lebih spesial." Atau, "Saya dibaptis oleh Apolos, jadi saya kelompok elit intelektual." Paulus memotong mentalitas itu dengan tegas. Efikasi keselamatan, kuasa baptisan, tidak bergantung pada siapa yang melakukan ritual. Yang penting adalah Kristus yang diberitakan. Injil yang murni. Salib yang tidak dikosongkan.
Sekarang... mari kita bawa ini ke konteks kita hari ini. Gereja Masehi Injili di Minahasa. Kita mewarisi sejarah yang panjang dan indah. Kita punya keragaman budaya, keragaman latar belakang, keragaman karunia. Tapi justru di situ ancamannya. Karena keragaman yang tidak dikelola dengan kasih... bisa menjadi benih perpecahan. Saya lihat—dan saya yakin Anda juga merasakannya—ada tarikan-tarikan yang mengancam kesatuan kita. Ada yang lebih suka pendeta dengan gaya kepemimpinan tertentu. Ada yang terlibat dalam politik praktis dan membawa perpecahan itu ke dalam gereja. Ada yang merasa kelompoknya lebih rohani, lebih tahu, lebih suci. Dan tiba-tiba... kita lupa bahwa kita adalah satu tubuh.
Saudara-saudari yang diberkati... kesatuan itu bukan terjadi secara otomatis.
Kesatuan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dipelihara, dijaga dengan hati-hati. Paulus berkata kita harus dipulihkan—katartizó. Seperti tulang yang patah harus diset ulang oleh dokter. Seperti jala yang robek harus dijahit kembali oleh nelayan. Prosesnya sakit. Prosesnya butuh waktu. Tapi tanpa itu, kita tidak akan bisa berfungsi.
Dan tahun ini, GMIM punya program Sensus Jemaat. Anda mungkin berpikir, "Ah, itu kan cuma urusan administrasi." Tapi tidak, saudara-saudari. Ini adalah langkah konkret untuk kesatuan. Karena ketika kita punya data yang akurat tentang siapa jemaat kita, di mana mereka tinggal, apa kebutuhan mereka... kita bisa melayani dengan lebih adil. Kita bisa memastikan tidak ada yang terabaikan. Tidak ada yang merasa diabaikan. Karena sering kali, perpecahan lahir dari rasa tidak dipedulikan. Dari rasa bahwa "suara saya tidak didengar, kebutuhan saya tidak dilihat." Sensus ini adalah cara kita berkata, "Kamu penting. Kamu bagian dari tubuh ini. Kami peduli."
Tapi di luar program-program formal, ada hal-hal yang lebih mendasar yang harus kita lakukan. Pertama, kita harus berhenti mengidolakan manusia. Berhenti terlalu bergantung pada figur-figur tertentu. Paulus, Apolos, Kefas—mereka semua hanya hamba. Pelayan sementara. Yang tetap adalah Kristus. Pendeta kita hari ini mungkin akan pindah besok. Penatua yang kita kagumi mungkin akan pensiun tahun depan. Tapi Kristus? Dia adalah Kepala yang kekal. Loyalitas tertinggi kita harus kepada Dia. Bukan kepada manusia, betapapun salehnya, betapapun pintarnya, betapapun karismatiknya.
Kedua, kita harus belajar mengelola perbedaan dengan kasih. Kita semua berbeda. Kita punya pendapat yang berbeda tentang musik ibadah, tentang program gereja, tentang cara mengelola keuangan jemaat. Itu wajar. Itu bahkan sehat. Tapi perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah. Ada prinsip-prinsip iman yang non-negosiable—seperti Kristus adalah Tuhan, salib adalah jalan keselamatan, Alkitab adalah firman Allah. Itu kita pegang bersama. Tapi soal hal-hal praktis? Kita bisa dialogkan. Kita bisa berdebat dengan hormat. Kita bisa tidak setuju tanpa harus saling membenci.
Ketiga, kita harus fokus ke luar. Gereja yang terlalu sibuk melihat ke dalam... gereja yang terlalu fokus pada konflik internal... akan kehilangan misinya. Tapi gereja yang sibuk memberitakan Injil, yang sibuk melayani orang miskin, yang sibuk menjadi terang bagi masyarakat... gereja seperti itu akan merasa bahwa kesatuan adalah kebutuhan mutlak. Karena tanpa kesatuan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Misi kita terlalu besar untuk dikerjakan sendirian. Kita butuh satu sama lain.
Dan di tengah semua ini, kita harus kembali ke salib. Selalu kembali ke salib. Paulus berkata, "Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil, dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia." Salib adalah pusat kita. Salib adalah kekuatan kita. Di salib, Kristus merobohkan tembok pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi. Di salib, Dia mendamaikan kita dengan Allah dan satu sama lain. Di salib, Dia mati... bukan untuk kelompok Paulus, bukan untuk kelompok Apolos, tapi untuk semua kita. Untuk kamu. Untuk saya. Untuk jemaat yang terpecah di Korintus. Untuk GMIM yang bergumul dengan kesatuan di tahun 2026 ini.
Ketika kita menatap salib, kita melihat kasih yang menuntun, pengorbanan yang menghidupkan, dan kerendahan hati yang memulihkan. Kita melihat bahwa Kristus tidak datang untuk dilayani, tapi untuk melayani. Dia tidak datang untuk dipuja sebagai tokoh, tapi untuk mati sebagai Juruselamat. Dan kalau Dia yang adalah Tuhan rela merendahkan diri sampai mati di kayu salib... siapa kita untuk bersikeras pada ego kita? Siapa kita untuk mempertahankan kelompok kecil kita? Siapa kita untuk menolak berdamai dengan saudara seiman kita?
Saya tahu ini tidak mudah. Saya sendiri masih bergumul. Tapi saya percaya—dan saya harap kita semua percaya—bahwa Roh Kudus yang sama yang menyatukan jemaat mula-mula di Yerusalem, yang memulihkan jemaat yang terpecah di Korintus, masih bekerja hari ini. Di GMIM. Di tengah-tengah kita. Dia adalah Roh yang mempersatukan. Dia adalah kasih Allah yang menjadi pengikat kita. Dan ketika kita menyerahkan diri kepada-Nya, ketika kita merendahkan hati di bawah otoritas Kristus, maka Dia akan menyambung kembali tulang-tulang yang patah ini. Dia akan menjahit kembali jala yang robek ini. Agar kita bisa kembali berfungsi. Agar kita bisa kembali bersaksi.
Bayangkan sebuah dunia yang melihat gereja kita—gereja yang terdiri dari orang-orang dari berbagai latar belakang, berbagai suku, berbagai tingkat ekonomi—tapi hidup dalam harmoni yang mendalam. Bukan harmoni yang dipaksakan. Bukan harmoni yang semu. Tapi harmoni yang lahir dari kasih Kristus. Itu akan menjadi kesaksian yang paling kuat. Lebih kuat dari ribuan kotbah. Lebih kuat dari program-program megah. Karena dunia akan berkata, "Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi. Pasti ada sesuatu yang berbeda di sana. Pasti Allah mereka sungguh nyata."
Jadi pagi ini, saat kita bersiap untuk menutup ibadah ini, saat kita akan pulang ke rumah masing-masing...
Saya ingin mengajak kita semua untuk melakukan sesuatu yang sangat konkret. Pertama, periksa hati kita. Adakah kepahitan yang masih kita simpan terhadap saudara seiman? Adakah rasa iri, dengki, atau kesombongan yang menghalangi kita untuk bersatu? Kalau ada, serahkan itu ke kaki salib. Kedua, ambil langkah konkret untuk rekonsiliasi. Mungkin ada seseorang yang perlu kita mintai maaf. Mungkin ada seseorang yang perlu kita maafkan. Jangan tunda lagi. Lakukan minggu ini. Ketiga, berkomitmenlah untuk mendukung kesatuan gereja. Ikut sensus dengan jujur. Dukung program-program yang membangun kesatuan. Jangan ikut-ikutan dalam gosip atau omongan yang memecah belah. Dan yang terakhir, tetap fokus pada Kristus. Bukan pada manusia. Bukan pada kelompok. Tapi pada Dia yang adalah Kepala kita, Tuhan kita, Juruselamat kita.
Kita semua dipanggil untuk menjadi arak-arakan orang percaya yang berjalan bersama-sama dengan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja kita. Perjalanan ini panjang. Medan ini berat. Tapi kita tidak sendirian. Kita punya satu sama lain. Dan yang terpenting, kita punya Dia. Kristus yang tidak terbagi-bagi. Kristus yang telah menyatukan kita dengan darah-Nya. Kristus yang akan terus memimpin kita sampai Dia datang kembali dalam kemuliaan.
Mari kita berdiri... dan mari kita memperbaharui komitmen kita.
Untuk seia sekata, untuk erat bersatu, untuk sehati sepikir. Bukan karena kita sempurna. Bukan karena kita selalu setuju. Tapi karena kita semua milik Kristus. Dan di dalam Dia... kita adalah satu. Amin.