Renungan Lansia GMIM
MENU
Renungan Lansia GMIM, 1-7 Maret 2026 - Renungan Lansia GMIM

Renungan Lansia GMIM, 1-7 Maret 2026

Yeremia 18:1-17

Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Seperti Tanah Liat di Tangan Tukang Periuk, Demikianlah Kamu di Tangan-Ku

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghasilkan peralatan modem di berbagai bidang seperti teknologi Informatika, mesin Industri sangat mencengangkan. Namun semua yang dicapai oleh manusia tidak ada satupun yang dapat di sejajarkan dengan kemahakuasaan Tuhan Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Manusia selaku ciptaan-Nya dianugerahkan hikmat, akal budi, kepandaian dan kecerdasan untuk memanfaatkan dan memelihara ciptaan-Nya. Namun sehebat apapun manusia, bila menganggap diri benar, pintar tanpa melihat itu sumber dari Tuhan Allah, akan jatuh pada kesombongan sehingga lupa diri dari mana asalnya dan tersesat pada perbuatan yang mendatangkan dosa.

Kitab Yeremia ditulis oleh Nabi Yeremia bin Hilkia keturunan imam sekitar tahun 628-580 SM di masa pemerintahan raja Yehuda yaitu Yosia, Yoyakim dan Zedekia sampai pembuangan di Babel (Yer. 1: 1-3). Tuhan Allah mengangkat sebagai Nabi untuk menjadi penyambung berita antara Tuhan Allah dan umat-Nya, baik kaum Yehuda maupun kerajaan yang lain termasuk bangsa Babel. Isi Nubuat antara lain peringatan akan penghakiman Tuhan Allah bagi umat yang tidak mau bertobat tetapi juga tentang janji setia untuk umat yang dikasihi-Nya.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Kitab Yeremia pasal 18:1-18 berisi tentang perumpamaan Tuhan Allah selaku tukang periuk dan umat-Nya selaku tanah liat. Apa itu periuk? Periuk adalah alat untuk masak yang terbuat dari tanah liat dengan berbagai fariasi (kurek atau gerabah). Isinya terdiri dari: Pertama: Nabi Yeremia diperintah pergi ke tukang periuk (ayat 1-4) untuk menyaksikan proses pembuatan periuk. Pembuatan periuk memerlukan proses mulai dari pemilihan dan pengambilan tanah liat, menghancurkan, menghaluskan, mengayak, jadikan adonan, mengaduk-aduk, mencampur, menekan-nekan, membanting-banting sebelum dibentuk di alat pemutar. Jika bejana yang dibentuk itu rusak, adonan tidak dibuang tetapi dibentuk menjadi bejana yang lain menurut apa yang dipandang baik. Artinya Gambaran Tuhan Allah selaku tukang periuk punya cara memeroses umat-Nya. Apa yang rusak atau simbol manusia jatuh dalam dosa, Tuhan Allah tidak membuang karena Dia mengasihi sehingga dibentuk menurut cara yang dikehendaki-Nya. Kedua: Kedaulatan Tuhan Allah selaku Tukang Periuk (ayat 5-7). Tuhan Allah punya kedaulatan apa yang harus Ia lakukan untuk tanah liat selaku milik yang dikasihi-Nya. Dia mau bentuk atau jadikan bejana yang baik, indah dan berguna. Artinya Tuhan Allah dengan kedaulatan-Nya dapat mencabut, merobohkan dan membinasakan suatu bangsa atau Kerajaan jika umat-Nya tidak menyadari kesalahan dan bertobat. Ketiga: Ajakan untuk bertobat (ayat 8-11). Jika umat bertobat dan Kembali kepada-Nya, maka Tuhan Allah menyesal untuk menjatuhkan malapetaka yang direncanakan-Nya. Sebaliknya, bila umat-Nya melakukan kejahatan dan tidak mendengarkan firman-Nya, Ia menyesal atas kebaikan yang dijanjikan kepada mereka. Karena itu, manakala kaum Yehuda dan penduduk Yerusalem tidak bertobat, maka Tuhan Allah mengijinkan malapetaka tertimpa atas mereka.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Nabi Yeremia berharap hendaknya umat bertobat, perbaiki tingkah laku dari perbuatan jahat. Artinya Tuhan Allah karena kasih-Nya memberi kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Namun bila tetap pada kekerasan hati maka Tuhan Allah menyesal Keempat: Melupakan dan membakar kurban kepada ilah yang sia-sia (Ayat 12-17). Kaum Yehuda mengikuti menurut keinginan hati mereka yang keras dan jahat serta diikuti juga oleh anak darah Israel. Umat melupakan Tuhan Allah dan membawa kurban kepada ilah yang sia-sia. Sehingga mereka tersandung dan jatuh karena mengambil jalan pintas yang membuat negerinya sunyi sepi dan menjadi sasaran ejekan serta orang yang lewat merasa ngeri. Tuhan Allah akan menyerahkan mereka di hadapan musuh dan hanya memperlihatkan punggung-Nya. Artinya Tuhan Allah tidak menampakkan wajah-Nya sebagai bentuk edukasi untuk umat yang keras hati. Kelima: Melawan dan tidak mendengar teguran Nabi (ayat 18). Umat bukan tidak saja mendengar firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia malahan menyusun rencana melawan dia. Mereka merasa tidak perlu mendapatkan pengajaran firman Tuhan Allah dari Nabi karena menganggap pengajaran dari imam, nasihat dari orang bijaksana cukup. Umat bukan saja tidak menerima pengajaran dari Nabi Yeremia, tetapi mengajak untuk jangan memperhatikan setiap perkataannya. Artinya umat memprovokasi untuk tidak saja menolak pengajaran tapi juga bersekongkol untuk jangan memperhatikan nubuat dari nabi.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Tuhan Allah punya cara untuk membentuk dan mendidik kita selaku umat yang dikasihi-Nya. Seperti Nabi Yeremia dipakai Tuhan Allah untuk menjadi alat-Nya. Hal yang sama Dia pakai kita termasuk LANSIA untuk mendidik anak-cucu, cicit serta orang-orang yang ada di sekitar untuk dibentuk selaku bejana gereja masa depan yang berkarakter Yesus Kristus yang rela menderita. Dan untuk itu kita jadikan perenungan di minggu-minggu sengsara Yesus Kristus.

Jika gereja masa depan ada di tangan orangtua termasuk di dalamnya LANSIA yang takut akan Tuhan Allah, maka kita siap membentuk warga gereja masa depan yang memiliki kualitas Iman yang Tangguh, kwalitas sumber daya manusia yang berilmu, trampil, gigih serta sanggup menghadapi tekanan dan perubahan yang begitu cepat dan kompleks. Seperti Nabi Yeremia, Tuhan Allah mampukannya begitu juga Dia mampukan kita untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab untuk mengajar dan mewariskan ketaatan dan kedengar-dengaran pada firman Tuhan Allah.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di tangan Tuhan Allah apa yang telah rusak akibat dosa tidak dibuang, tetapi Dia punya cara membentuk kembali apa yang dipandang-Nya baik Dia mengampuni dan menjadikan kita umat kesayangan yang berarti, bermanfaat untuk menjadi berkat bagi sesama manusia dan sesama ciptaan. Tetapi Tuhan Allah dengan otoritas-Nya dapat juga mendidik dengan cara mencabut, merobohkan, membinasakan, mengambil sesuatu dari genggaman kita agar sadar dan bertobat serta kembali kepada kehidupan yang taat kepada-Nya.

Pertobatan merupakan cara untuk memperbaiki tingkah laku kita yang jahat untuk kembali ke jalan-Nya, sehingga Dia mengubah rencana membinasakan dengan menyelamatkan. Ketidaktaatan umat Tuhan di masa lampau dengan membakar kurban kepada ilah yang sia-sia sehingga jatuh, tersandung dan dipermalukan dengan cara memalingkan wajah-Nya. Mengajarkan kepada kita LANSIA agar tidak mengabaikan kehidupan yang taat dan harapan hanya kepada-Nya. Tidak membuka ruang kepada ilah lain termasuk mengilahkan teknologi, harta, tahta dan kuasa.

Kasih setia Tuhan Allah yang tak berkesudahan nyata di dalam anak-Nya Yesus Kristus, Ia telah datang ke dalam dunia menderita sengsara untuk mengurbankan diri mati namun bangkit untuk menaklukkan dosa yang membelenggu. Naik ke surga dan akan datang kembali untuk menghakimi. Untuk itu di perayaan minggu sengsara yang ke dua, marilah selaku gereja Tuhan, khususnya LANSIA terus bersyukur karena hanya oleh anugerah-Nya, kita boleh ada di Usia Lanjut sambil menikmati hidup bersama keluarga kita masing-masing. Marilah kita mengaminkan bahwa "Di tangan Tuhan selaku Tukang Periuk" kita dibentuk agar berguna bagi-Nya dan sesama. Seperti syair lagu yang sering kita nyanyikan "Bagaikan Bejana Siap di bentuk" oleh Yesus Kristus. Amin.