Tema Bulanan:
Yesus Kristus Memanggil Umat Untuk Melayani-Nya
Tema Mingguan:
Bertekun Dalam Pengajaran dan Dalam Persekutuan
Bacaan Alkitab:
Kisah Para Rasul 2:41-47
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Di era digital, media sosial membuat kita merasa dekat dengan banyak orang, sebab bisa berkomunikasi dengan siapa saja di seluruh dunia. Meskipun demikian banyak orang tetap merasa kesepian. Hal ini adalah hal yang menarik. Berkomunikasi dengan mudah karena media sosial belum tentu membangun hubungan yang benar-benar mendalam. Ungkapan lain juga terdengar: Media sosial mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat. Komunikasi dengan orang-orang di dalam rumah menjadi kurang karena lebih fokus pada media sosial. Kemudian banyak yang lebih memilih menonton khotbah online daripada hadir ke gereja, lebih senang berdiskusi agama di internet daripada bertemu langsung untuk persekutuan yang tulus. Akibatnya, kebersamaan yang tekun dalam mempelajari firman Tuhan Allah menjadi pudar dan kehilangan kebersamaan yang sejati. Perlahan nilai Persekutuan semakin terkikis. Pada minggu ini perenungan Firman Tuhan Allah akan menggumuli tema: "Bertekun Dalam Pengajaran dan Dalam Persekutuan."
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)
Kisah Para Rasul dan Injil Lukas ditulis oleh orang yang sama, yaitu Lukas, seorang Kristen dengan latar belakang Yunani. Dialamatkan pada orang yang sama yaitu kepada Theofilus. Perikop ini muncul setelah peristiwa Pentakosta, di mana Roh Kudus turun dan Petrus berkhotbah dengan kuasa yang menghentak.
Ayat 41 menunjukkan hasilnya, tiga ribu orang bertobat. Namun yang menarik bukan hanya angka besarnya, tetapi bagaimana kehidupan mereka setelah menerima Injil. Respons massal terhadap khotbah Petrus menunjukkan kuasa Roh Kudus dalam mengubah hati manusia. Kata menerima (apodechomai) menunjukkan penerimaan yang sungguh-sungguh dengan senang hati dan segenap hati. Setelah mereka menerima dan percaya pada Injil yang mereka dengar maka tanda penerimaan itu adalah mereka memberi diri dibaptis (baptizo), membawa mereka masuk dalam persekutuan dengan Kristus. Jumlah mereka kira-kira tiga ribu jiwa. Kata jiwa (psyche) berarti diri seseorang itu seutuhnya, suatu penyerahan total kepada Yesus Kristus.
Ayat 42 menyebutkan empat hal yang menjadi ciri khas kehidupan jemaat mula-mula. Pertama, mereka "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul." Kata bertekun (proskartereo) berarti melekat dengan gigih dan konsisten, dengan sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar mendengar sesekali, tetapi komitmen penuh untuk terus belajar dari para rasul yang menyampaikan ajaran Yesus Kristus secara langsung. Kedua, mereka hidup dalam persekutuan (koinonia). Kata ini sering diterjemahkan sebagai "fellowship" dalam bahasa Inggris, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar berkumpul-kumpul. Koinonia menggambarkan persatuan hidup yang mendalam, dimana mereka benar-benar menjadi satu keluarga rohani. Ini adalah perwujudan orang-orang yang berasosiasi dan membentuk suatu komunitas yang terikat erat dan berbagi berbagai hal. Ketiga, mereka "memecahkan roti" (klasei tou artou). Makan bersama dalam budaya Timur Tengah kuno adalah tanda persahabatan dan keakraban yang mendalam. Memecahkan roti di sini umumnya diartikan sebagai makan bersama di kalangan orang Kristen mula-mula, yang dilanjutkan dengan perayaan Perjamuan Tuhan atau Perjamuan Kudus. Setiap kali mereka makan bersama, itu bukan sekadar mengisi perut, tetapi memperkuat ikatan persaudaraan. Keempat, mereka tekun berdoa (proseuche). Doa bukan rutinitas kosong bagi mereka, melainkan sesuatu yang terus ditekuni secara tulus dan sungguh. Mereka memahami bahwa hubungan dengan Allah perlu dipelihara melalui komunikasi yang konsisten. Sehingga aktifitas-aktifitas bersama yang mereka tekuni ini dijelaskan dalam penggunaan kala present, menunjukkan sesuatu yang terus-menerus dilakukan.
Ayat 43 dalam TB1 mencatat "maka ketakutanlah mereka semua", sedangkan dalam TB2 "ketakjuban melanda semua orang". Kata ketakutan (phobos) di sini bukan rasa takut yang negatif, melainkan rasa kagum yang mendalam terhadap kehadiran Allah yang nyata. Ketakutan ini bukanlah karena apa yang terjadi di ayat sebelumnya, tetapi akibat banyak mujizat yang dilakukan oleh para rasul. Masyarakat Yerusalem melihat ada sesuatu yang berbeda dalam komunitas Kristen ini. Mujizat dan tanda (terata kai semeia) adalah pasangan istilah Yunani yang sering dipakai di kitab ini. Kata benda untuk mujizat biasanya lebih berarti suatu peristiwa yang menimbulkan rasa kagum atau pun gentar. Sedangkan kata benda untuk tanda seringkali berarti suatu peristiwa yang mengandung makna agung atau pun khusus. Dari arti harafiahnya dapat dilihat bahwa rasul-rasul itu merupakan perantara. Aliahlah yang membuat mujizat dan tanda itu melalui para rasul. Mereka semua (pasei psychei) memberi kesan bahwa semua orang atau semua jiwa, orang percaya atau tidak, merasa kagum melihat semuanya itu. Ini bukan pertunjukan untuk menarik perhatian, tetapi bukti otentik bahwa Allah benar-benar bekerja di tengah-tengah mereka. Yang menarik juga adalah bagaimana mereka mengelola harta benda.
Ayat 44-45 mencatat bahwa "segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." Ini bukan sistem komunisme yang dipaksakan oleh penguasa, tetapi ekspresi spontan dan sukarela dari kasih yang tulus. Berdasarkan keterangan di ayat-ayat ini sebenarnya terlihat bahwa tidak berarti orang-orang itu menyerahkan semua harta milik mereka begitu saja untuk persediaan jemaat. Ayat 45 menunjukkan mereka memberikan sesuatu sesuai keperluan (chreia, sesuatu yang sangat dibutuhkan, yang kurang).
Ayat 46 memberikan gambaran ritme kehidupan sehari-hari mereka. Dengan sehati (homotymadon) secara harafiah berarti dengan satu pikiran, dengan satu tujuan, dengan kesepakatan bersama, mereka berkumpul tiap-tiap hari baik di Bait Allah maupun di rumah masing-masing. Ini menunjukkan keseimbangan antara ibadah formal dan persekutuan informal. Di Bait Allah, mereka mengikuti tradisi ibadah yang terstruktur. Di rumah-rumah, mereka menikmati kebersamaan yang lebih intim, jemaat Kristen itu mengadakan pertemuan di rumah-rumah anggotanya secara bergantian dan mengadakan perjamuan makan bersama-sama. Semua itu dilakukan bukan secara terpaksa tapi dengan gembira (agalliasis, sukacita yang besar), dan tulus hati (apheloteti kardias, rendah hati, ketulusan). Sebuah persekutuan yang indah, sambil memuji Allah.
Hasilnya terlihat dalam ayat 47, mereka "disukai semua orang", dari kalimat Yunaninya secara harafiah berarti mereka mendapat kasih karunia dari seluruh rakyat. Ini berarti bahwa penduduk Yerusalem (pada umumnya), menyukai orang-orang percaya itu. Tidak hanya itu, Tuhan Allah juga terus menambah jumlah mereka. Tuhan Allah sendiri yang bertindak untuk mengubahkan setiap hati, sehingga makin banyak orang yang percaya kepada Yesus dan diselamatkan. Kehidupan mereka sendiri menjadi kesaksian yang menarik. Orang-orang tertarik bukan karena janji-janji muluk, tetapi karena melihat komunitas Kristen yang hidup dalam kasih, sukacita, dan ketulusan, jemaat mula-mula telah bersaksi melalui cara hidup mereka.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
- Kehidupan Kristen yang otentik bersifat komunal, bukan individual. Kita tidak bisa menjadi Kristen yang matang sendirian. Kita memerlukan komunitas yang mendukung pertumbuhan rohani kita.
- Orang percaya terus diajak untuk membangun kehidupan dalam ketekunan. Tekun membaca firman, tekun berdoa, dan tekun bekerja. Ketekunan itu juga terus mewujud dalam membangun persekutuan bersama orang percaya lainnya.
- Iman yang sejati memiliki dampak sosial yang nyata. Jika iman kita tidak mengubah cara kita memperlakukan sesama, terutama yang miskin dan membutuhkan, maka ada yang salah dengan iman tersebut.
- Daya tarik Injil bukan terletak pada argumen-argumen yang rumit, tetapi pada kehidupan yang diubahkan. Ketika orang melihat komunitas Kristen yang hidup dalam kasih, sukacita, dan ketulusan, mereka akan tertarik dengan sendirinya.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
- Apa pemahaman saudara tentang "Bertekun dalam Pengajaran dan Persekutuan" menurut Kisah Para Rasul 2:41-47?
- Mengapa orang percaya masa kini mengalami pergeseran dari bertekun dalam pengajaran dan persekutuan beribadah dalam gereja, kolom serta persekutuan ibadah komunitas kepada beribadah individual di rumah?
- Bagaimana peran gereja membentuk cara hidup jemaat agar menjadi kesaksian di tengah dunia sekarang ini?
NAS PEMBIMBING: Ibrani 10:24-25
POKOK-POKOK DOA
- Agar hubungan antar anggota jemaat semakin erat dan tulus, terhindar dari sikap individualis dan dimampukan untuk saling mengasihi dengan tulus.
- Agar gereja mengalami pertumbuhan, baik secara kualitas maupun kuantitas.
- Agar gereja membawa jiwa-jiwa baru untuk mengenal Kristus, dan setiap anggota jemaat bertumbuh dalam kedewasaan iman.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN
HARI MINGGU BENTUK III
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Nyanyian Masuk: KJ. No. 15 Berhimpun Semua
Nas Pembimbing: KJ. No. 256 Kita Satu Didalam Tuhan
Pengakuan Dosa: PKJ No. 45 Tuhan Allah. Janganlah
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 57 Mahakasih Yang Ilahi
Ses Pembacaan Alkitab: PKJ No. 53 Alkitab Pedoman Yang Berharga
Persembahan: KJ. No. 433 Aku Suka Membagi
Nyanyian Penutup: PKJ No. 264 Apalah Arti Ibadahmu
ATRIBUT
Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu Di Atas Gelombang.