GMIM

Renungan Lansia GMIM, Pakatuan Wo Pakalawiren, 13-19 September 2026 - Filipi 2:1-11

LANSIA ยท 2026-09-13

Renungan Lansia GMIM, Pakatuan Wo Pakalawiren, 13-19 September 2026 - Filipi 2:1-11

Filipi 2:1-11

๐Ÿ“–Renungan Lansia Minggu Iniโ†’
Ingin membaca edisi terbaru atau menjelajahi seluruh arsip LANSIA?
Renungan Lansia Minggu Iniโ†’

Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Allah, karena di usia indah yang dianugerahkan-Nya saat ini, kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul, bersekutu dan merenungkan firman-Nya. Menjadi tua adalah anugerah, tetapi tetap setia dan menjadi berkat di Lanjut Usia adalah sebuah kemuliaan. Hari-hari ini kita hidup di era digital. Era di mana segala sesuatu bergerak cepat dan sayangnya, seringkali membuat manusia menjadi semakin mementingkan diri sendiri (individualis). Akibatnya, perpecahan, perselisihan dan gesekan sangat mudah terjadi, bahkan terjadi di dalam gereja. Tantangan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Rasul Paulus, saat berada di dalam penjara Roma sekitar tahun 61-62 Masehi, menulis surat kepada jemaat di Filipi karena mendengar adanya ancaman serupa. Jemaat Filipi itu jemaat yang luar biasa karena mereka setia mendukung pelayanan Paulus. Namun, di dalam internal jemaat, mulai muncul riak-riak ketidakharmonisan. Ada perselisihan paham, salah satunya antara dua orang ibu pemimpin di sana, yaitu Euodia dan Sintikhe. Egoisme dan ambisi pribadi mulai mengintip dan mengancam persekutuan mereka. Melihat hal itu, Paulus memberikan nasihat teladan Yesus Kristus.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Paulus mengingatkan jemaat untuk memiliki pola pikir dan sikap batin yang sama seperti Yesus Kristus. Ia mengatakan, Yesus yang dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya, Ia telah mengosongkan diri-Nya (ekenosen), mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Bahkan tidak sampai di situ, puncak dari kerendahan hati-Nya adalah ketaatan sampai mati, bahkan mati di kayu salib, sebuah hukuman yang paling hina kala itu. Yesus Kristus menanggalkan segala kebesaran-Nya demi apa? Demi belas kasihan, demi kasih karunia dan demi menyelamatkan kita.

Jika Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Raja di atas segala raja rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa, masakan kita sebagai umat-Nya, yang telah ditebus oleh darah-Nya justru memelihara kesombongan, mengeraskan hati dan enggan mengalah?

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Ayat 1 dan 2, Paulus mengajak kita untuk hidup dalam kesatuan yang utuh: sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Memiliki pikiran yang sama (auto phroneite) di sini bukan berarti kita harus seragam dalam segala hal. Kita pasti punya perbedaan pendapat. Tetapi Paulus mengingatkan agar perbedaan itu diselaraskan oleh satu pengikat, yaitu Kasih Agape, kasih Yesus Kristus yang murni dan tanpa syarat. Sebagai kaum Bapa dan Ibu yang dituakan di tengah jemaat, peran oma dan opa sangatlah sentral. Kadang kala, dalam organisasi, dalam kolom, dalam BIPRA atau bahkan di dalam keluarga, gesekan itu bisa ada. Namun, firman Tuhan hari ini dengan tegas melarang kita mencari kepentingan diri sendiri (eritheian) atau pujian yang kosong (kenodoxian). Kita diajak untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di Lanjut Usia ini, Tuhan Allah menghendaki kita menjadi agen perdamaian. Menjadi teladan yang menyejukkan, bukan yang memicu ketegangan. Menjadi pendoa-pendoa yang menyatukan, bukan yang memihak pada perpecahan. Sebab ketaatan dan kerelaan Yesus Kristus merendahkan diri, maka Tuhan Allah sangat meninggikan Dia (theos auton hyperupsosen). Tuhan Allah menganugerahkan kepada-Nya nama di atas segala nama, yaitu Kyrios: Tuhan dan Penguasa semesta alam, sehingga segala lutut bertelut dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa! Ini membuktikan satu hal: kerendahan hati dan ketaatan rohani tidak pernah berujung pada kehancuran atau kerugian. Di mata dunia, mengalah atau merendahkan diri mungkin dianggap sebagai kelemahan. Tetapi di mata Tuhan Allah, itulah jalan menuju kemuliaan sejati.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Sebagai Kaum Lanjut Usia GMIM, apa yang harus kita bawa pulang dan lakukan dari firman ini?

  1. Jadilah Teladan Kerendahan Hati. Mari kita tanggalkan segala ego, 'gengsi', atau perasaan ingin selalu dihormati secara berlebihan. Biarlah di masa tua ini, karakter Yesus Kristus yang lemah lembut dan penuh belas kasihan semakin nampak nyata dalam tutur kata dan sikap hidup sehari-hari.
  2. Saling Mengampuni dan Merangkul. Jika saat ini masih ada ganjalan di hati antar sesama LANSIA, sesama anggota jemaat atau bahkan dengan anak dan cucu di rumah, mari lepaskan itu. Ingatlah bagaimana Yesus Kristus telah mengampuni dan merangkul kita.
  3. Fokus pada Satu Tujuan Pelayanan. Mari kita gunakan sisa waktu, tenaga dan hikmat yang Tuhan Allah beri untuk mendukung pelayanan Gereja agar tetap kokoh, harmonis dan bersatu.

Sukacita pelayan jemaat dan sukacita Tuhan Allah akan sempurna melihat LANSIA GMIM hidup rukun bersama. Marilah kita jalani usia indah ini dengan penuh sukacita. Tetaplah sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, sampai Tuhan Allah mendapati kita setia hingga garis akhir. Amin.

Bagikan:

Tentang Penulis

Ditulis oleh Tim Pelayanan Lansia GMIM di bawah pengelolaan Donald K. Lumingkewas, berafiliasi dengan Dodoku GMIM, media informasi warga GMIM di Sulawesi Utara. Lihat profil lengkap di halaman Tentang.

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 13/9/2026