GMIM

LANSIA · 2026-07-26

Renungan Lansia GMIM, Pakatuan Wo Pakalawiren, 26 Juli – 01 Agustus 2026 – Yohanes 7:53–8:11

Yohanes 7:53 – 8:11

Pergilah, dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai dari Sekarang

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Kita bersyukur karena hari ini Tuhan masih memberikan nafas kehidupan sehingga kita masih boleh berkumpul, beribadah, dan mendengar firman-Nya. Kita yang sudah Lanjut Usia mungkin ada yang bergumul dalam hati, menyesal dengan masa lalu karena pernah gagal mendidik anak, pernah melukai pasangan. Apakah Tuhan Allah masih mau memakai saya? Di usia Lanjut Usia, luka dan beban rasa bersalah bisa terasa sangat berat. Secara fisik memang usia bertambah, tetapi kadang luka batin dan penyesalan masa lalu juga ikut bertambah.

Hari ini firman Tuhan Allah membawa kabar baik bahwa tidak ada hidup yang terlambat untuk dipulihkan oleh Tuhan Allah. Bacaan kita hari ini terjadi ketika Yesus Kristus sedang mengajar di Bait Allah. Ahli Taurat dan orang-orang Farisi datang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina. Mereka meletakkan perempuan itu di tengah kerumunan. Bayangkan betapa malunya perempuan itu, betapa takutnya dia, betapa hancurnya hidupnya saat itu. Namun sebenarnya masalah utama bukan perempuan itu. Masalah utama adalah hati para pemimpin agama yang penuh kebencian dan kemunafikan. Mereka tidak datang mencari keadilan, mereka datang untuk menjebak Yesus Kristus. Menurut hukum Musa dalam Imamat 20 dan Ulangan 22, perzinahan memang harus dihukum mati. Tetapi anehnya mereka hanya membawa perempuan itu, laki-lakinya tidak dibawa. Di sini terlihat ketidakadilan dan kemunafikan manusia. Tetapi di tengah situasi itu, kasih karunia Tuhan Allah dinyatakan.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Ayat 3-6 mengajar kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Para ahli Taurat sangat cepat menghakimi perempuan itu. Mereka merasa diri paling benar dan paling suci, padahal mereka sendiri penuh dosa. Bukankah ini sering terjadi juga dalam hidup kita? Kadang ketika usia bertambah, seseorang bisa menjadi sangat mudah menghakimi anak-anak, cucu-cucu, anak mantu, orang lain dan generasi muda. Ada yang berkata, "Anak zaman sekarang tidak seperti dulu, cucu sekarang susah diatur, orang sekarang tidak punya sopan santun." Mungkin ada benarnya, tetapi firman Tuhan Allah hari ini mengingatkan kita agar jangan terlalu sibuk melihat dosa orang lain sampai lupa melihat kelemahan diri sendiri. Di usia senja ini, Tuhan memanggil kita LANSIA menjadi sumber kasih, bukan sumber penghakiman.

Ayat 6 mencatat bahwa Yesus Kristus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Yesus Kristus tidak langsung bereaksi. Ia tidak marah. Ia tidak terburu-buru menjawab. Ia diam. Tidak dijelaskan apa yang ditulis-Nya, mungkin dosa para penuduh, mungkin ayat Taurat, mungkin simbol bahwa manusia berasal dari debu. Tetapi satu pelajaran jelas, tidak semua masalah harus direspons dengan emosi. Dalam keluarga kadang ada anak yang mengecewakan, cucu yang memberontak, konflik warisan, perkataan yang melukai hati. Terkadang reaksi terbaik adalah diam, berdoa, dan meminta hikmat dari Tuhan Allah.

Ayat 7-9, Yesus Kristus berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu." Kalimat ini menghancurkan kesombongan rohani mereka. Satu per satu mereka pergi, dikatakan yang tua pergi lebih dahulu. Mengapa? Mungkin karena semakin tua seseorang semakin sadar, aku juga banyak kelemahan, punya kesalahan, juga membutuhkan pengampunan Tuhan Allah. LANSIA seharusnya membuat kita semakin rendah hati, semakin mudah mengampuni, semakin sadar bahwa kita hidup hanya oleh anugerah Tuhan, sebab semua orang membutuhkan kasih karunia.

Ayat 10, Tuhan Allah tidak hanya melihat dosa kita, Dia juga melihat masa depan kita. Ketika semua orang pergi, tinggallah perempuan itu bersama Yesus Kristus. Ia bertanya, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Perempuan itu penuh air mata, malu, takut, hatinya hancur, tetapi ia bertemu dengan mata Yesus Kristus yang penuh kasih sayang. Mungkin ada di antara kita yang memendam luka penyesalan, karena kegagalan keluarga, masa lalu yang buruk, relasi yang rusak, karena dosa yang disembunyikan. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan Allah. Ia tahu semuanya. Dan kasih pengampunan-Nya tetap tersedia.

Ayat 11, Yesus Kristus berkata, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Perhatikan dua sisi Injil. Pertama, kasih karunia, "Aku tidak menghukum engkau." Kedua, pertobatan, "Jangan berbuat dosa lagi." Kasih karunia Tuhan Allah bukan izin untuk hidup sembarangan. Pengampunan Tuhan Allah harus menghasilkan hidup yang berubah. Pengampunan harus diikuti pertobatan dan perubahan hidup.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di usia lanjut sering muncul pikiran, sudah terlambat berubah, hidup saya sudah habis, saya terlalu banyak kesalahan. Tetapi firman Tuhan Allah hari ini menegaskan bahwa selama Tuhan Allah masih memberi nafas kehidupan, kita masih bisa meminta maaf, masih bisa memperbaiki hubungan, masih bisa mengampuni, masih bisa melayani, masih bisa hidup kudus. Masa lalu mungkin penuh luka, mungkin kita pernah dihakimi. Tetapi Yesus Kristus memberi masa depan baru. Hari ini Tuhan berkata, "Aku pun tidak menghukum engkau." Aku mengampunimu. Dan Ia juga berkata, "Jangan berbuat dosa lagi." Hiduplah berbeda mulai dari sekarang. Ingatlah, usia boleh senja, tubuh boleh melemah, tetapi pertobatan tidak pernah kedaluwarsa. Amin.

Bagikan:

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 26/7/2026