GMIM

MTPJ · 2026-01-31

MTPJ GMIM 1 - 7 Februari 2026

Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir · 1 Korintus 1:10-17

Tema Bulanan

Yesus Kristus Memanggil Umat Untuk Melayani-Nya

Tema Mingguan

Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir

Bacaan Alkitab

1 Korintus 1:10-17

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Keyakinan bahwa gereja bukanlah gedung atau menara belaka, melainkan orang percaya itu sendiri, adalah
prinsip utama dalam memahami apa itu gereja. Namun demikian, orang percaya yang dimaksud tidak hanya
menunjuk pada satu orang saja, tetapi menunjuk pada kumpulan orang percaya. Sejak gereja berdiri pada hari
pencurahan Roh Kudus, gereja sebagai kumpulan orang percaya yang bersekutu, bersaksi, dan melayani adalah
penekanan utama dari penyebaran iman Kristen yang dimulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia. Di sinilah
kita melihat dinamika gereja yang tidak dapat dihindari. Gereja yang terdiri dari kumpulan orang percaya,
yakni orang-orang yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga adalah orang-orang yang
datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, termasuk suku, bahasa, dan budaya masing-masing. Persamaan
dan perbedaan ini, bila tidak dikelola dengan baik dan benar, dapat saja mendatangkan perselisihan dan
perpecahan dalam tubuh gereja sebagai kumpulan orang percaya. Itulah sebabnya panggilan untuk menjadi
"Seia Sekata, Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir" adalah tema yang akan direnungkan di
sepanjang minggu ini. Di tengah dunia yang maju pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini, Gereja
Masehi Injili di Minahasa perlu memperkuat komitmennya sebagai arak-arakan orang percaya yang berjalan
bersama-sama dengan Yesus Kristus sebagai Kepala Gerejanya, menghadapi berbagai rintangan dan tantangan
untuk sampai di tujuan.

PEMBAHASAN TEMATIS

■ Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana perjalanan penginjilan Rasul Paulus membawanya dari satu kota ke
kota lainnya dalam misi memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias. Secara khusus, perjalanannya dari Makedonia
menuju ke propinsi Akhaya membawanya mengunjungi sebuah kota di sana, yakni kota Korintus, sebuah kota
pelabuhan kosmopolitan yang makmur. Melalui pekabaran Injil yang dilakukan Paulus, banyak orang menjadi
percaya. Itulah sebabnya Paulus memutuskan untuk tinggal di Korintus selama satu tahun enam bulan dan
mengajar firman Allah di tengah-tengah mereka (lih. Kisah Para Rasul 18:11). Sesudah kepergian Paulus dari
Korintus, jemaat di sana menulis surat kepada Paulus dengan beberapa pertanyaan kunci yang membutuhkan
jawaban dari Paulus. Dalam Surat 1 Korintus, Paulus memberikan jawaban atas isu-isu yang muncul di jemaat
Korintus dan berbagai pertanyaan mendesak yang mengikutinya.

Sesudah dibuka dengan salam dan ucapan syukur, Surat 1 Korintus 1:10-17 mulai menunjukkan masalah yang muncul
di jemaat Korintus. Jemaat Korintus berada dalam situasi pelik yang menunjukkan adanya perselisihan yang
mengarah pada perpecahan yang disebabkan oleh rivalitas di antara kelompok-kelompok yang terbentuk di dalam
jemaat. Paulus segera memberi nasihatnya kepada jemaat Korintus yang disebutnya sebagai "saudara-saudara."
Kalimat "aku menasihatkan kamu" datang dari kata kerja Yunani
"parakaleó." Nasihat Paulus ini didasarkan pada hubungan persaudaraan dan persahabatan di
dalam Tuhan yang telah terbentuk bertahun-tahun, serta rasa percaya di antara dirinya dan jemaat. Selain
itu, nasihatnya diberikan bukan semata-mata atas dasar otoritas apostoliknya sebagai seorang rasul,
melainkan diberikan "demi nama Tuhan kita Yesus Kristus," otoritas tertinggi yang di bawahnya Paulus dan
seluruh jemaat tunduk. Nasihat Paulus tersebut ialah "supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di
antara kamu." Frasa "seia sekata" datang dari kalimat Yunani to auto legete pantes yang berarti
sepakat, yang bila dipakai dalam konteks politik berarti bebas dari faksi dan berdamai dalam komunitas. Seia
sekata di sini dipahami sebagai berbicara dengan satu suara dan bukannya dalam perang kata-kata. Tidak
adanya seia sekata adalah alasan terjadinya perpecahan
(schismata) di dalam jemaat. Itulah sebabnya Paulus meminta jemaat supaya erat bersatu
(ete katertismenoi) dan sehati sepikir (en to auto noi). Erat bersatu dan sehati sepikir
menolong jemaat dapat mengetahui manakah yang baik dan benar, tidak baik dan salah. Ini adalah dorongan
Paulus agar tercipta harmoni dalam jemaat.

Kenyataan di jemaat Korintus diberitahukan kepada Paulus oleh orang-orang dari keluarga Kloe, bahwa ada
perselisihan di antara mereka. Kabar ini diterima oleh Paulus dan menunjukkan bahwa pembawa pesan adalah
orang-orang yang kesaksiannya dapat dipercaya. Perselisihan (erides) di sini menunjuk pada
perdebatan panas yang menuju ke arah yang tidak dapat ditolerir lagi. Kabar inilah yang menjadi perhatian
utama Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Perselisihan itu nyata dalam munculnya
kelompok-kelompok di dalam jemaat yang masing-masing berpusat pada figur yang mereka hormati secara khusus:
golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus. Masing-masing kelompok meninggikan
figur yang dipandang memiliki peran penting atau karunia khusus dalam jemaat. Paulus dipandang sebagai
seseorang yang telah menanam dan mendirikan jemaat. Apolos dipandang sebagai seseorang yang terdidik dan
memiliki kemampuan retorika yang mumpuni dalam pengajaran Kitab Suci. Nama Kefas yang adalah nama lain dari
Petrus dikenal sebagai rasul Tuhan Yesus dan sangat mungkin dipakai oleh mereka yang menjadi Kristen dari
latar belakang Yahudi yang merasa sulit untuk bersatu dengan orang-orang Kristen berlatar belakang Yunani.
Pada akhirnya terdapat kelompok yang memakai nama Yesus Kristus sendiri!

Paulus memakai tiga pertanyaan untuk menyadarkan jemaat Korintus yang telah dikuasai oleh semangat perpecahan
hingga melupakan bahwa mereka sebagai satu jemaat telah dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah,
yakni Yesus Kristus sendiri (1 Korintus 1:9). Pertanyaan pertama yang diajukan Paulus adalah "adakah Kristus
terbagi-bagi?" Kata terbagi-bagi
datang dari kata Yunani merizó yang dipakai secara khusus oleh Tuhan Yesus dalam Markus
3:24-26 untuk menggambarkan suatu kerajaan dan rumah tangga yang terpecah-pecah, serta Iblis yang berontak
melawan dirinya sendiri dan terbagi-bagi. Pertanyaan kedua adalah "adakah Paulus disalibkan karena kamu?"
Jelaslah bahwa jawabannya adalah tidak. Tidak ada pemimpin manusia manapun yang dapat disetarakan dengan
Kristus dan karya keselamatan yang dikerjakan melalui kematian-Nya di atas kayu salib, dan Paulus mengajukan
pertanyaan ini sebagai tamparan keras kepada jemaat yang telah mengagungkan figur manusia lalu melupakan
sentralitas Kristus dan karya-karya-Nya. Pertanyaan ketiga adalah "adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?"
Masih ada pemikiran di dalam jemaat Korintus yang memandang adanya koneksi mistis antara mereka dan figur
yang membaptis mereka. Hal ini layaknya orang-orang kafir yang merasa terhubung secara mistis dengan
pemimpin yang melaksanakan ritual di kuil-kuil berhala. Sampai titik ini, Paulus berusaha menyadarkan jemaat
Korintus bahwa mereka dibaptis dalam nama Kristus dan dengan demikian hanya dengan Kristuslah mereka
memiliki hubungan yang khusus dan dipersatukan dalam karya kematian dan kebangkitan-Nya.

Saat mengemukakan tentang baptisan, Paulus mengungkapkan syukurnya bahwa di dalam jemaat Korintus hanya
Krispus dan Gayuslah yang dibaptisnya, "sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa kamu dibaptis
dalam namaku." Krispus adalah pemimpin rumah ibadat di Korintus yang menjadi percaya kepada Tuhan
bersama-sama dengan seisi rumahnya karena mendengar pemberitaan Paulus (Kisah Para Rasul 18:8). Nama Gayus
sendiri disebut Paulus dalam Roma 16:23, yakni dia yang memberi tumpangan kepada Paulus, dan kepada seluruh
jemaat. Paulus juga menyebut keluarga Stefanus sebagai mereka yang dibaptisnya, di mana Stefanus dan
keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya (1 Korintus 16:15). Pernyataan ini
dipakai Paulus dalam menegaskan untuk apa Kristus mengutusnya, yakni untuk memberitakan Injil dan bukan
terutama untuk membaptis. Bila Paulus diutus untuk membaptis, ia akan menghitung jumlah mereka yang
dibaptisnya dan mengingat nama-nama mereka. Pernyataan-pernyataan Paulus berkaitan dengan baptisan sama
sekali tidak dimaksudkannya untuk menunjuk baptisan sebagai sesuatu yang kurang penting, melainkan
menyadarkan jemaat bahwa bukan masalah siapa yang melaksanakan pembaptisan. Siapa yang membaptis dapat saja
orang-orang yang berbeda, namun apa yang terpenting adalah bahwa semua yang dibaptis itu terikat pada Yesus
Kristus saja. Komitmen yang ditunjukkan Paulus dalam memberitakan Injil bukan dengan hikmat perkataan,
melainkan berpusat pada salib Kristus, mempersiapkan jemaat Korintus pada poin selanjutnya dalam suratnya,
yakni salib Kristus sebagai
kekuatan Allah, satu-satunya alasan terbesar yang mempersatukan jemaat.

MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

NAS PEMBIMBING: Efesus 4:3-6

POKOK DOA

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN

HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Panggilan Beribadah: KJ No. 7 "Ya Tuhan Kami Puji Nama-Mu Besar"
Ses. Nas Pembimbing: PKJ No. 221 "Kasih Allah Pengikatnya"
Pengakuan Dosa: NNBT No. 11 "Ya Allahku Kami Mengaku Dosa"
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 39 "Ku Diberi Belas Kasihan"
Pengakuan Iman: KJ No. 280 "Aku Percaya"
Hukum Tuhan: KJ No. 73 "Kasih Tuhanku Lembut"
Ses. Pembacaan Alkitab: KJ No. 50a "Sabda-Mu Abadi"
Persembahan: KJ No. 450 "Hidup Kita Yang Benar"
Nyanyian Penutup: KJ No. 249 "Serikat Persaudaraan"

ATRIBUT

Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu Di Atas Gelombang.

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 1/2/2026