ALASAN PEMILIHAN TEMA
Menurut KBBI kata merdeka artinya bebas dari
perhambaan, penjajahan; berdiri sendiri; tidak terikat, tidak
bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.
Merenungkan arti kemerdekaan dalam rangka memperingati Hari
Kemerdekaan RI ke-80 tahun biasanya hanya dilihat dari
perspektif politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamaan
dan kebebasan beragama. Namun, dalam Universal Declaration
of Human Rights (UDHR) atau Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pasal 3
menyatakan; "Everyone has the right to life, liberty and securify of
person." (Setiap orang berhak atas hidup, kebebasan, dan
keselamatan sebagai individu.) Jadi hak hidup dan hak kebebasan
adalah nilai universal yang harus dihormati oleh seluruh bangsa-
bangsa di dunia.
Sebenarnya nilai universal itu bersumber dari Alkitab,
bahwa manusia diciptakan Tuhan Allah dengan kehendak bebas,
tapi harus bertanggungjawab. Manusia bebas berkuasa atas
ciptaan Tuhan Allah yang lain; diberi mandat untuk mengelolanya
(Lih. Kejadian 1-2). Manusia adalah makhluk merdeka yang
mengemban tanggungjawab terhadap Tuhan Allah, bukan bebas
tanpa batas. Pemberontakan Adam dan Hawa di Taman Eden
mengubah semuanya (Kej 3). Manusia kehilangan kemuliaan
Allah, terbelenggu dosa dan mejadi hamba dosa. (band. Roma
3:23).
Perenungan minggu ini dari Yohanes 8:30-36 akan
menyoroti dari perpektif tema:“Kebenaran yang
Memerdekakan”.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Tradisi gereja menyebut Yohanes anak Zebedeus, murid
Yesus Kristus , sebagai penulis injil Yohanes, meski dalam isi kitab
ini tidak tertulis secara jelas (eksplisit). Penulis diidentifikasi
sebagai "murid yang dikasihi Yesus" (Yoh 21:24). Injil ini ditulis
pada akhir abad pertama (antara tahun 90 - 100 M), dengan
tujuan jelas, "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak
Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam
nama-Nya." (Yoh 20:31) dan memberikan penguatan iman
kepada jemaat Kristen yang menghadapi tekanan dan pengajaran
sesat.
Ada dua konteks yang harus dipahami yang melatari dalam
Injil Yohanes. Pertama, konteks di masa Yesus Kristus. Yesus
Kristus sedang berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang
menolak-Nya, walaupun ada juga kelompok kecil yang percaya
dan menerima Dia. Kedua, konteks penulisan Injil Yohanes, di
mana jemaat Kristen yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah
Mesias , dikucilkan. Mereka adalah orang-orang Yahudi dan juga
sebagian kecil orang-orang bukan Yahudi. Di sisi lain, jemaat juga
menghadapi gempuran ajaran sesat yang menyangkal Yesus
Kristus sebagai Tuhan. Pada kedua konteks tersebut, pemerintah
Romawi yang berkuasa melakukan penjajahan secara politik dan
agama, sehingga umat Tuhan berada dalam keadaan tertekan dan
teraniaya.
Injil Yohanes 8:30-36 mencatat pengajaran Yesus Kristus
yang disampaikan-Nya kepada umat dalam kondisi “terjajah dan
teraniaya.” Ada dua penekanan dalam ajaran yang disampaikan-
Nya:
Pernyataan Yesus Kristus ini mendapatkan reaksi dari
kelompok Yahudi (ayat 33). Sebagai keturunan Abraham, mereka
merasa istimewa. Mereka bukan budak dan memandang diri
secara eksklusif. Yesus Kristus melihat hal ini sebagai sebuah
kekeliruan. Orang Yahudi melihat penjajahan secara politik, tetapi
Yesus Kristus meluruskan pandangan mereka bahwa penjajahan
juga terjadi karena diperbudak dosa. Hal itu bukan berarti Yesus
Kristus memandang rendah iman Abraham, namun menolak
pemikiran orang Yahudi yang mengganggap hubungan darah itu
meloloskan mereka dari jerat dosa (band. Yoh 6:37-40). Bukan
Abraham yang menyelamatkan, melainkan Yesus Kristus.
Selanjutnya, Yesus Kristus menegaskan, "sesungguhnya
setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa" (ay. 34).
“Hamba” dari kata Yun. doulos berarti budak. Artinya, perbuatan
dosa menunjukkan seseorang diperbudak oleh dosa. Semua
manusia telah jatuh dalam dosa, maka semuanya butuh
dimerdekakan (band. Roma 3:23). Sebutan “hamba dosa”
menunjukkan kondisi manusia berdosa yang tidak punya hak atas
dirinya. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan
dirinya sendiri. Pembebasan hanya terjadi melalui penebusan
Yesus Kristus.
Meskipun lahir sebagai keturunan Abraham, perbuatan
dosa menjadikan semua orang, termasuk orang Yahudi, sebagai
budak dosa. Dosa membuat mereka tidak mendapat bagian
dalam perjanjian Tuhan Allah dengan Abraham (Lih. Kejadian
15). Hal ini menegaskan keselamatan bukan warisan keluarga.
Memang dalam hal iman, ada praktik mewariskan dan mewarisi
dari generasi tua ke generasi muda. Orangtua mewariskan iman
dan anak-anak mewarisi iman. Namun keselamatan tidak
diwariskan. Keselamatan adalah anugerah yang dikerjakan Yesus
Kristus bagi tiap orang yang percaya kepada-Nya, agar tidak
binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yoh 3:16).
Kemerdekaan atau kebebasan manusia untuk beraktivitas,
membuat keputusan dan bertindak bukanlah kemerdekaan untuk
berbuat sesuka hati. Siapa berbuat dosa menjadi budak dosa,
tetapi orang yang beriman kepada Yesus Kristus dan taat
sekalipun menderita, ia hidup dalam kemerdekaan. Merdeka tidak
boleh hanya dipahami dalam arti bebas, lepas dan senang, tapi
juga berkaitan dengan keputusan melakukan yang benar
sekalipun menderita.
Merdeka dalam ajaran Yesus Kristus adalah hidup yang
tidak diperbudak dosa. Merdeka berarti mendapatkan kasih
karunia Tuhan Allah yang membebaskan orang percaya dari dosa
dan maut. Kebebasan yang sesungguhnya adalah keterikatan
yang sungguh-sungguh kepada Tuhan Allah di dalam dan melalui
Yesus Kristus. "Kata Yesus "Akulah jalan dan kebenaran dan
hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau
tidak melalui Aku." (Yoh 14.6) Sehingga terlahir dari keturunan
manapun, semua orang dapat disebut sebagai anak-anak Allah
ketika ia dengan sungguh-sungguh percaya dan menjadi murid
Yesus Kristus. Orang yang telah dimerdekakan oleh Yesus Kristus
memiliki tanggungjawab untuk turut serta dalam upaya nyata
membawa pembebasan bagi orang lain, agar tidak jatuh dalam
jerat dosa (band. Galatia 5:13).
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
NAS PEMBIMBING
Galatia 5:13
POKOK-POKOK DOA
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:
HARI MINGGU BENTUK III
NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Kemuliaan Bagi Allah: KJ No. 337 “Betapa Kita Tidak Bersyukur"
Nas Pembimbing: PKJ No. 175 “Satu Tanah Air”
Pengakuan Dosa: KJ No. 28 ”Ya Yesus Tolonglah”
Pemberitaan Anugerah Allah: NKB No. 78 ”Kasih Tuhanku Lembut”
Persembahan: NKB No.133 “Syukur Pada-Mu Ya Allah”
Nyanyian Penutup: KJ No.336 “Indonesia Negaraku”
ATRIBUT
Warna dasar hijau dengan gambar salib di atas perahu.

