"(6-1) Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Akulah TUHAN. (6-2) Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. (6-3) Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, (6-4) tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. (6-5) Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. (6-6) Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. (6-7) Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN." (6-8) Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu. (6-9) Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: (6-10) "Pergilah menghadap, katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya." (6-11) Tetapi Musa berkata di hadapan TUHAN: "Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!" (6-12) Demikianlah TUHAN telah berfirman kepada Musa dan Harun, serta mengutus mereka kepada orang Israel dan kepada Firaun, raja Mesir, dengan membawa perintah supaya orang Israel dibawa keluar dari Mesir."
— Keluaran 6:1-12
AKULAH, TUHAN ALLAHMU YANG MEMBEBASKAN KAMU
Sobat Obor,
Mungkin beberapa dari kalian dan juga diri saya sendiri ada yang merasa minder atau tidak percaya diri karena satu dan lain hal. Percaya diri adalah salah satu bekal penting bagi kita dalam menjalani kehidupan. Sayangnya, tidak sedikit yang justru tumbuh dengan rasa ragu terhadap dirinya sendiri. Mereka merasa tidak cukup pintar, tidak cukup menarik, atau tidak sepandai orang lain. Di zaman sekarang, tekanan semakin besar. Media sosial menjadi ruang utama tempat kita melihat dan membandingkan diri dengan orang lain. Foto yang terlihat sempurna, pencapaian yang terus dipamerkan, serta komentar dari lingkungan sekitar perlahan membuat kita merasa tertinggal. Akhirnya, rasa percaya diri menurun dan digantikan oleh perasaan minder dan takut salah. Jika hal ini terus dibiarkan, kita akan kesulitan mengenali potensi yang sebenarnya kita miliki.
Sobat Obor, dalam Alkitab dikisahkan seorang pemimpin besar yang juga mengalami apa yang disebutkan di atas, yaitu ketidakpercayaan pada diri sendiri. Pada waktu membunuh orang Mesir itu, dia begitu percaya diri. Dia pikir dengan menunjukkan keberaniannya saat unjuk kekuatan sendiri akan ada pengakuan: akulah pemimpin. Ternyata besoknya pada waktu dua orang Ibrani berkelahi dan Musa mencoba menegur mereka, Musa mencoba bagaimana membuat mereka menjadi damai dan memarahi yang salah, justru orang yang bersalah menegur Musa. Di situlah dia langsung kehilangan kepercayaan diri.
Kalau kita hanya melihat Musa dari titik dia memimpin Israel keluar maka kita melihatnya sebagai seorang pemimpin yang luar biasa. Tapi kalau kita menyoroti saat dimana Tuhan memanggilnya maka kita akan mempunyai gambaran yang berbeda. Ternyata Musa yang kita anggap gagah dan kuat, percaya diri dan bisa segalanya, pada waktu Tuhan panggil tidak seperti itu. Ini yang coba kita soroti. Kita mungkin masih ingat sewaktu Tuhan memanggilnya dan memintanya untuk membawa Israel keluar dari Mesir, Musa menolak. Inilah kata Musa sewaktu menolak panggilan Tuhan yang dicatat dalam Keluaran 4:10, “Ah, TUHAN, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak. Sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Musa mau meyakinkan Tuhan bahwa dia tidak mampu sampai-sampai dia berkata dari dulu dia memang susah sekali bicara. Jadi inilah kondisi Musa. Tapi coba kita perhatikan jawaban Tuhan pada ayat berikutnya, “Siapakah yang membuat lidah manusia? siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta? Bukankah AKU, yakni TUHAN?” Tuhan ingin mengutus Musa melakukan pekerjaan-Nya tetapi Musa menampik sebab dia merasa minder. Jawaban Tuhan menegaskan bahwa Tuhan tahu kondisinya. Dan alasan ini kembali terulang dalam pembacaan kita saat ini (6:1).
Sobat Obor, berapa banyak di antara kita ketika melihat pelayanan mengalami keraguan seperti Musa? Sebelumnya Musa dengan berani membela kaumnya, namun ia ditolak oleh kaum yang dia bela. Sekarang ia dipanggil Tuhan untuk mengeluarkan kaumnya dari perbudakan, namun ia menolak dengan alasan tidak pandai bicara. Mungkin pikirnya: “Kalau kaumnya yang dia akan bela saja menolaknya, apalagi Firaun?” Musa tidak mau menjadi penolong bagi kaum yang pernah menolaknya. Di satu sisi Musa menunjukkan suatu kegagalan, begitu sangat yakin akan panggilannya, karena merasa memiliki penyokong: dia punya kedudukan, kekuasaan di Mesir. Setelah semuanya tidak ada, dia jadi pribadi yang harus berjalan sendiri. Namun disaat semua penyokongnya sudah tak ada, dia membutuhkan Tuhan. Berapa banyak dari kita yang ketika mendapatkan tugas pelayanan merasa terlalu percaya diri sehingga kita tidak lagi mempersiapkan dengan sungguh-sungguh? Musa melihat dirinya kecil dan dia tidak punya satu kepercayaan diri di dalam Tuhan, maka Tuhan mengatakan: Aku akan menyertai engkau, Aku akan selalu menyertai engkau. Dari Musa kita belajar, Tuhan yang membebaskan Israel, Tuhan juga yang membebaskan Musa dari ketidakpercayaan dirinya. Amin (BFP)



