"Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." โ demikianlah firman Tuhan.
--- Yohanes 10:17-18
KEMATIAN DAN KEBANGKITAN DALAM KEDAULATAN ALLAH
Sobat Obor, Yohanes 10:17-18 menyatakan salah satu bukti paling agung tentang keilahian Yesus Kristus. Ia bukan sekadar mati sebagai korban, tetapi memiliki kuasa untuk menyerahkan nyawa-Nya dan mengambilnya kembali. Otoritas atas kematian dan kebangkitan adalah hak Allah sendiri, sehingga perkataan Yesus menjadi kesaksian jelas bahwa Ia adalah Anak Allah yang ilahi.
Dalam Yohanes 10:17-18, Yesus berkata, "Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali." Menurut D. A. Carson, pernyataan ini menegaskan bahwa kematian Yesus bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan tindakan sukarela yang berlangsung sesuai dengan rencana penebusan Allah. Raymond E. Brown menambahkan bahwa tidak seorang pun dapat mengambil nyawa Yesus di luar kehendak-Nya; Ia menyerahkan diri secara sadar dan taat kepada Bapa. Namun, penyerahan diri itu bukan tanda kelemahan, melainkan wujud otoritas ilahi-Nya. Ketika Yesus berkata bahwa Ia berkuasa mengambil kembali nyawa-Nya, Ia menyatakan kuasa atas hidup dan mati yang hanya dimiliki Allah. Dalam teologi Reformed, bagian ini menegaskan bahwa Kristus adalah Imam Agung yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang sempurna bagi umat pilihan. Penebusan-Nya bersifat efektif karena didasarkan pada ketaatan aktif dan pasif Kristus yang menggenapi kehendak Bapa (active obedience dan passive obedience). Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa pengorbanan-Nya diterima Allah, dosa telah dikalahkan, maut kehilangan kuasanya, dan keselamatan orang percaya dijamin. Dengan demikian, salib dan kebangkitan merupakan satu karya penebusan yang tidak dapat dipisahkan dalam rencana Allah yang kekal.
Sobat obor, Yohanes 10:17-18 mengajarkan bahwa Sebagai pemuda Kristen, jangan meletakkan harapan pada kekuatan diri, pencapaian, atau dunia yang mudah berubah. Letakkan seluruh hidup kepada Yesus, Sang Tuhan yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Karena Ia telah menang atas maut, tidak ada pergumulan yang terlalu besar atau masa depan yang terlalu gelap bagi-Nya. Bangunlah setiap impian, keputusan, dan pengharapan di atas Kristus yang hidup, sebab di dalam tangan-Nya yang berdaulat terdapat arah, pengharapan, dan jaminan hidup yang kekal. Amin (SM)



