Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, Dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan!
Jemaat Kristen di kota Filipi adalah Jemaat pertama yang didirikan Paulus di Benua Eropa. Mereka adalah Lidia, kepala penjara Filipi, sejumlah orang Yunani dan orang-orang Yahudi. Mereka sangat mengasihi Paulus dan sering menopang Paulus dalam pelayanannya. Namun muncul tantangan dari dalam jemaat seperti perselisihan; sikap mementingkan diri dan kecenderungan mencari kehormatan pribadi. Karena itu Paulus memberi nasihat agar mereka hidup dalam persatuan. Persatuan tidak muncul secara otomatis karena semua orang sama tetapi karena semua orang mempunyai pikiran dan kehendak Kristus.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!
Dalam ayat 1-2, Paulus menguraikan empat hal sebagai fondasi kehidupan Kristen yaitu dorongan dalam Kristus, penghiburan kasih, persekutuan Roh Kudus, kasih mesra dan belas kasihan. Sebab itu jemaat harus sehati, sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, sebagaimana tema perenungan firman GMIM di minggu ini. Persatuan bukan sekadar berkumpul bersama, tetapi memiliki hati yang diarahkan kepada Kristus. Kemudian di ayat 3-4, Paulus menunjukkan musuh terbesar persatuan ialah ambisi pribadi (bahasa Yunani: eritheia) artinya mencari keuntungan diri sendiri. Juga kesombongan (kenodoxia = kemuliaan kosong). Sebaliknya yang diharapkan dalam rangka persatuan jemaat adalah sikap rendah hati, menganggap orang lain lebih utama dan memperhatikan kepentingan sesama. Ini bukan berarti merendahkan diri (menjadi minder), tetapi mendahulukan kasih.
Mari kita lihat bersama ayat 5 yang di dalamnya tertulis "...hendaknya pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." Ayat ini menjadi pusat seluruh nasihat. Kita belajar untuk mengenal Kristus dan apa yang menjadi pikiran atau kehendak-Nya untuk berlaku dalam hidup pribadi, keluarga dan jemaat, bukan pikiran dan kehendak diri sendiri. Ketika kita mengikuti pikiran Kristus maka persatuan dan pertumbuhan jemaat akan terjadi.
Ayat 6-8 sering disebut sebagai Christ Hymn atau nyanyian Kristus dalam tradisi gereja. Kristus setara dengan Allah, namun Ia tidak mempertahankan hak-hak-Nya. Justru Kristus telah mengosongkan diri-Nya (ekenosen dari kata kenosis); melepaskan hak-hak kemuliaan-Nya, mengambil rupa hamba, menjadi manusia (dipandang berdosa). Pikiran dan kerendahan Kristus ini semakin nampak atau terbukti lewat ketaatan-Nya meski menderita bahkan sampai mati di salib. Salib adalah bentuk penghukuman yang paling hina di masa itu.
Namun demikian di ayat 9-11 ketaatan Kristus membuahkan kemuliaan abadi: Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan nama di atas segala nama; setiap lutut bertelut, setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jadi persatuan jemaat selalu berpusat dan dipusatkan kepada kemuliaan Kristus.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!
Marilah kita menjadi penjaga dan pengawal persatuan Jemaat mulai dari keluarga kita masing-masing. Bukan dengan mengedepankan kekuasaan dan kewibawaan kita sebagai kepala keluarga tetapi dengan sikap rendah hati dan rela mengutamakan kepentingan orang lain apalagi untuk kebaikan bersama sebagai keluarga atau sebagai satu persekutuan Jemaat. Kehadiran kita sebagai P/KB dalam Jemaat adalah untuk menguatkan, bukan untuk melemahkan. P/KB hadir untuk bergandengan tangan, bukan untuk berjalan sendiri. Dengan begitu maka penampakan gereja di tengah dunia adalah persatuan, kesatuan, keutuhan, kedamaian dan pertumbuhan dinamis, yang semuanya itu dilandasi dan diwarnai oleh kasih Kristus.
P/KB hendaknya memiliki pemahaman bahwa siapapun dalam Jemaat adalah kawan bukan lawan untuk mewujudkan kehidupan Kerajaan Allah, yaitu kebenaran, keadilan, kekudusan dan damai sejahtera. Dalam keluarga misalnya, P/KB GMIM selalu berpikir dan berjuang, bukan saja supaya sejahtera secara ekonomi tetapi terutama sehati sepikir untuk satu tujuan memuliakan Tuhan Yesus.
Mari kita belajar untuk hidup rendah hati mulai dari sikap-sikap mau mendengar, mau mengalah (dalam arti positif), mau memberi hormat terlebih dahulu dan mau melayani. Dalam persekutuan dan pelayanan kita tidak membeda-bedakan orang karena status sosialnya, ekonominya, jabatannya, pendidikannya atau popularitasnya, karena kita semua satu dan sama di hadapan Kristus, melayani demi kemuliaan nama Tuhan. Dengan demikian P/KB hadir dalam Jemaat sebagai pemersatu dan bukan pemecah belah persekutuan. AMIN.
Pertanyaan untuk PA:
- Jelaskan tentang sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan menurut perikop Alkitab saat ini!
- Apa peran P/KB dalam menjaga keutuhan rumah tangga dan membangun persatuan jemaat?



