Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan!
Perikop ini dalam konteks bangsa Israel sedang berada di padang gurun setelah mereka keluar dari Mesir dan sebelum menerima Hukum Taurat. Tokoh penting dalam cerita ini adalah Yitro, imam di Midian dan mertua Musa. Sebelumnya Yitro datang mengunjungi Musa bersama istri Musa, Zipora dan kedua anak mereka. Setelah mendengar kesaksian Musa tentang perbuatan dan peristiwa yang diadakan Allah menyelamatkan bangsa Israel, Yitro memuji Tuhan dan memberikan persembahan.
Di sisi lain, Yitro melihat Musa bertugas sendirian dari pagi sampai petang menangani perkara-perkara bangsa Israel yang berjumlah kira-kira lebih dari 1 juta jiwa. Hal ini tidak baik dan terlalu berat, sangat melelahkan dan Musa tak akan bisa bertahan dan sanggup melakukan pekerjaan itu seorang diri. Yitro memberi nasihat bijak agar Musa membuat sistem kepemimpinan dari kelompok terbesar sampai terkecil. Selain Musa sebagai pemimpin utama, diperlukan pemimpin lainnya yang membantu Musa, yaitu pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!
Tugas Musa sebagai pemimpin utama bangsa Israel adalah menyelesaikan perkara, mengajarkan petunjuk dan ketetapan Allah serta memberi keputusan. Masalahnya di sini bukan karena Musa tidak punya kemampuan memimpin tetapi demi kebaikan dirinya maupun kepentingan bangsa Israel. Pelajaran di sini adalah pemimpin yang hebat bukanlah sebagai 'superman' tetapi 'super team', sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yitro. Superman ingin mengerjakan semuanya sendiri, sedangkan superteam mau membangun kerja sama yang baik dengan orang lain untuk satu tujuan yang positif. Pembagian tugas kepemimpinan atau delegasi kepemimpinan menghasilkan pelayanan yang lebih mudah, ringan, cepat, sehat dan berkualitas. Tingkat kepuasan pun akan lebih baik.
Yitro tidak mengambil alih peran Musa. Justru menghendaki Musa menjadi wakil bangsa di hadapan Allah, tetap mengajarkan firman Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan kita ditugaskan untuk memberitakan firman Allah, menggembalakan, mendoakan dan membina jemaat. Menarik bahwa Musa tidak tersinggung saat dinasihati padahal ia nabi besar. Ini menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin sejati. Hal ini mengajarkan kita untuk rendah hati dan tidak sombong sekalipun memiliki kemampuan bahkan kekuasaan lebih daripada orang lain. Pemimpin dan pelayan Tuhan mesti belajar peka dan berjiwa besar ketika diprotes, dikritik oleh orang lain apalagi untuk segala sesuatu yang lebih baik.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!
Hal yang sangat mendasar dan penting dalam perikop ini ialah Musa diminta mencari orang yang memenuhi kriteria atau berintegritas untuk menjadi pemimpin. Ada empat kriteria calon pemimpin yaitu cakap, takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya, dan orang yang membenci pengejaran suap. Cakap dapat berarti memiliki kemampuan memimpin, berkompeten, kuat dan berintegritas. Bukan sekadar pintar tetapi mampu menjalankan tanggung jawab. Sedangkan takut akan Allah berarti menghormati Allah, taat, setia, sadar bahwa semua keputusan yang diambil sesuai dengan firman dan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Takut akan Allah adalah dasar hikmat bagi setiap pemimpin. Kemudian kriteria lainnya adalah orang yang dapat dipercaya. Artinya sejajar dengan kesetiaan dan kejujuran (integritas). Pemimpin harus punya keteguhan atau prinsip mengambil keputusan; konsisten, dapat diandalkan, menjaga kepercayaan.
Kemudian syarat selanjutnya adalah membenci pengejaran suap. Orang yang layak untuk menjadi pemimpin adalah orang yang anti korupsi termasuk suap. Sebab suap sudah menjadi ancaman sejak dulu kala. Orang yang menerima suap atau serupa dengan cinta uang berarti tidak benar, tidak adil, tidak bersih dan tidak jujur, sehingga tidak pantas untuk menjadi pelayan Tuhan bahkan pemimpin. P/KB GMIM harus anti suap, anti korupsi, jangan rakus, jangan serakah, jangan tidak pernah puas dengan penghasilan sendiri dan mau mengambil apa yang bukan miliknya, jangan iri hati, jangan dengki, tapi sebaliknya mari kita belajar bersyukur dengan apa yang Tuhan beri dan percayakan. Hidup jujur, rendah hati, hidup bersahaja, hidup sederhana, hindari gaya hidup materialisme dan hedonisme. Dan jadilah teladan pemimpin sejati dari dalam keluarga sebagai kepala keluarga yang cakap, bertanggungjawab, takut akan Tuhan, tulus hati dan senantiasa diandalkan. AMIN.
Pertanyaan untuk PA:
- Apa yang saudara pahami mengenai orang yang cakap dan takut akan Allah dalam rangka tugas kepemimpinan?
- Berikan contoh dalam jemaat atau masyarakat karakter pemimpin ideal dan jelaskan!



