"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri."
--- Filipi 2:3
Rendah Hati dalam Relasi dengan Sesama
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Rendah hati disebutkan Paulus, menunjukkan bahwa kesatuan Roh mengalir dari kerendahan hati. Seruan Paulus ini didasarkan pada pengalaman yang umum bagi setiap orang Kristen dalam Kristus, oleh kasih, persekutuan dalam Roh, kelembutan dan belas kasihan. Paulus menasihati jemaat agar tidak bertindak atas dorongan kepentingan pribadi atau keinginan akan pujian kosong dalam bahasa Yunani eritheian yang merujuk pada sikap egois atau ambisi pribadi dan kenodoxian yang berarti kebanggaan tanpa dasar. Kedua kata ini saling terkait yang menunjukkan sikap yang bertentangan dengan kehidupan bersama dalam Yesus Kristus.
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Paulus mengawali dengan kata "dengan tidak mencari" atau "tidak boleh ada satupun". Artinya, tidak boleh ada anggota jemaat yang melakukan sesuatu demi keuntungan diri sendiri atau demi mendapatkan pengakuan yang sia-sia, karena hal itu tidak sesuai dengan panggilan jemaat yang adalah anggota-anggota tubuh Yesus Kristus. Paulus menasihati jemaat agar setiap tindakan mereka jangan bersikap egois atau mencari kepentingan pribadi, sebab sikap itu merusak kasih Kristen yang dapat menyebabkan perpecahan dalam jemaat.
Keluarga kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,Selanjutnya Paulus menekankan pentingnya kerendahan hati yaitu sikap yang menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Dalam pandangan umum masa itu, merendahkan diri dianggap hina dan tidak terhormat. Namun, dalam Yesus Kristus memberikan teladan dengan menjadikan kerendahan hati sebagai sikap yang mulia dan layak dihargai. Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita untuk menanggalkan keakuan dan kesombongan yang hanya akan merusak relasi. Kita juga diingatkan untuk menghargai sesama sebagai anggota tubuh Yesus Kristus, belajar mendengar dan menghargai orang lain, meneladani kerendahan Yesus Kristus dan membangun relasi yang penuh kasih antar sesama.



