Hitung dan Catatlah Segenap Umat
Satu pertanyaan yang muncul, mengapa Allah perlu menghitung jumlah bangsa Israel? Ada satu hal yang harus kita perhatikan dengan jelas dari catatan Bilangan 1:1-54. Allah tidak sedang menghitung banyaknya orang, melainkan menyebut tiap kaum keluarga Israel. Allah tidak menghitung pengikut, tapi menyebut peran dan tanggungjawab orang yang mengikutinya. Ini bukan soal jumlah yang hadir, melainkan yang mau tunduk menjalankan peran. Ada pola jelas : disebutkan = diberi peran = bertanggungjawab.
Apa yang disaksikan dalam cerita Bangsa Israel ini menjadi bahan koreksi bagi orang percaya dalam menjalani hidup, termasuk sebagai remaja gereja. Ketika banyak orang datang ke gereja/ibadah agar kehadirannya "dihitung" (dilihat orang), firman Tuhan justru menyatakan Tuhan tidak hanya melihat kehadiran, tetapi memberikan peran dan tanggungjawab. Artinya, ada tugas untuk melakukan firmanNya dalam hidup. Jadi umat Tuhan itu, bukan sekadar datang ke gereja, tapi juga hadir menjadi gereja di semua lingkungan. Hadir sebagai garam dan terang di lingkungan bergaul, di sekolah, di keluarga, dan di mana saja berada. Bagian ini menolak cara hidup generasi muda yang "suka dilihat tapi tidak mau taat".
Selanjutnya mari perhatikan dari cerita Bilangan ini, Suku Lewi tidak dihitung bersama Suku-suku lain. Suku Lewi di hitung sendiri. Bukan karena ada hierarki dalam pandangan Allah, melainkan karena Tuhan tidak menyamakan peran. Masing-masing ada tugasnya. Ada yang dicatat untuk berperang, ada yang dicatat untuk melayani di rumah Allah. Berbeda tapi sama-sama punya peran dan tanggungjawab. Suku Lewi tidak lebih rendah dari suku lain, demikian juga sebaliknya.
Hal ini mengajari orang percaya untuk tidak membandingkan hidup dengan yang lain. Ada yang kebagian di atas panggung, ada yang dibelakang layar. Ada yang dilihat orang, ada yang tersembunyi tak dikenal. Tapi semuanya sama-sama dilihat Tuhan. Sama-sama dipakai Tuhan. Yang membuat berbeda adalah, respon sebagai orang percaya terhadap peran dan tanggungjawab yang Tuhan beri. Adakah kita berlaku setia, atau malah terjebak dalam cemburu dan iri yang menimbulkan perpecahan.
Firman Tuhan menyatakan dengan tegas Tuhan menolak mental inferior (lebih rendah) dan superior (lebih tinggi) dalam melayani Tuhan. Sebab yang Tuhan lihat bukan tepuk tangan orang atas penampilan kita, melainkan ketaatan melakukan tanggungjawab. Ini yang seringkali kita lupa saat pelayanan berhasil dan mendapat pujian orang. Persoalan yang banyak terjadi di hari-hari ini bukan karena kekurangan pelayan bertalenta untuk bekerja, tapi kebanyakan pelayan menuntut pujian lebih atas hasil kerjanya.
Sebagai remaja gereja, ini pesan firman yang harus dilakukan:
- Pastikan dirimu "dihitung dan dicatat". Jangan menjadi pribadi yang sekadar hadir, yang penting ada. Ambil peran dan kerjakan tanggungjawab dengan benar. Layani Tuhan dengan hidupmu. Taati Tuhan di masa mudamu.
- Kejar kualitas bukan panggung. Jangan bersaing karena berebut tempat untuk dilihat dan dipuji orang. Lakukan tugas dengan segenap hati, agar pelayananmu berkualitas.
- Kembangkan diri untuk kepercayaan baru dari Tuhan. Tuhan menjamin, siapa yang setia pada perkara kecil, akan mendapatkan kepercayaan besar. Selalu ada promosi dari Tuhan. Kita tidak tahu kapan waktunya datang, tapi kita perlu mempersiapkan diri agar layak. Amin