GMIM

BINA REMAJA · 2025-09-13

Bina Remaja GMIM, 14-20 September 2025,

Orang Benar Akan Masuk ke Dalam Hidup yang Kekal

Syalom, Damai di hati.

Pembina dan Remaja GMIM apa kabarnya saat ini?

Syukur kepada Allah kita persembahkan sebab kasih dan
setiaNya dalam kehidupan kita sekalian sehingga kita dimungkinkan
ada dalam persekutuan ibadah disaat ini.

Teens, ada ungkapan dari Om Sam Ratulangi bilang bagini
“SITOU T1MOU TUMOU TOU” ada yang tau depe arti? (silahkan
mereka menjawab dan setiap jawaban diberikan apresiasi) “Manusia
Hidup Untuk Memanusiakan Yang Lainnya”. Ini adalah ungkapan yang
tak asing lagi kan ditelinga kita sebagai orang SULUT, tapi apakah kata
yang sering kita dengarkan ini sudah kita lakukan?

Mari kita belajar dari bagian perenungan kita sebagai warga
GMIM diminggu berjalan ini tentang ‘Orang Benar Akan Masuk Ke
Dalam Hidup Kekal’. Dalam Matius 25:31-46 mengisahkan tentang
gambaran akan penghakiman terakhir, dimana Yesus sebagai Hakim
akan memisahkan orang-orang seperti gembala yang memisahkan
domba dari kambing. Pada ayat-ayat ini, Yesus menggambarkan
bagaimana orang-orang akan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka
terhadap sesama, terutama yang lemah dan membutuhkan. Mereka yang
melakukan perbuatan baik terhadap orang lain dianggap seperti domba
dan akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sisi lain, mereka yang
mengabaikan atau tidak membantu orang-orang yang membutuhkan
dianggap seperti kambing dan akan dihukum ke dalam api yang kekal.

Yesus menekankan pentingnya kasih, belas kasihan, dan
pelayanan kepada sesama sebagai tindakan konkret dalam mengasihi
Allah: memberikan makan orang lapar, memberikan minum kepada
yang haus, menyambut orang asing, memberi pakaian kepada orang
yang telanjang, menjenguk orang sakit, dan mengunjungi orang yang
dipenjarakan. Bagi Yesus, percaya kepada-Nya saja belum cukup untuk
masuk ke dalam Kerajaan Allah. Yesus menuntut lebih. Yesus ingin
agar kabar sukacita yang kita dengarkan dan kita pahami dengan sangat
baik, kita terapkan dalam hidup sehari-hari. Yesus tidak mau kita hanya
pandai berbicara tentang kasih, namun saat ada teman, sahabat dan
keluarga yang sedang berada dalam kesulitan meminta bantuan, kita
tidak membantu, bahkan memilih menjauh dan mencemooh.

Bagi Yesus, kasih tak sekadar kata. Kasih melampaui segala
batas yang ada dalam kamus hidup manusia. Kasih harus dibuktikan
dalam tindakan nyata sehari-hari. Dengan berbuat baik kepada sesama,
kita sebenarnya melayani dan mengasihi Kristus sendiri.

“Torang sebagai remaja GMIM yang hidup karena kasih Allah
dan hidup dalam FirmanNya tantu torang suka mo maso sorga toh,
makanya katu musti beking tu bagus-bagus. Kalu nemau orang beking
pa torang noh jangan lagi torang beking pa orang lain supaya ini hidop
yang Tuhan kase penuh makna kasih dan damai. Deng torang yang so
tau mana tu butul musti beking jangan cuma babadiam kama kalu
torang beking torang mo trima tu hidop kekal”.

Dari gambaran penghakiman terakhir yang kita dengarkan dan
renungkan dari bacaan Injil saat ini, kiranya menjadi semacam
pengingat bagi kita semua sebagai pembina maupun remaja untuk selalu
berbuat baik kepada siapapun yang kita jumpai. Perhatian dan bantuan
tidak hanya kita arahkan kepada orang yang dapat membalas kebaikan
kita; justru kepada yang paling hina, kepada yang tidak dapat membalas,
kepada yang paling membutuhkan. Perbuatan-perbuatan baik kita itu
pun hendaknya dilakukan dengan ketulusan, kerendahan hati, dan tidak
bermotivasi keuntungan atau kemuliaan diri.

Mari kita praktekan hidup yang saling membantu dan menopang
sebagai bentuk kita menjadikan kasih Kristus yang nyata dalam
tindakan kita sehari-hari. Amin.

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 14/9/2025