Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, sebagai orang percaya, kita harus memandang berkat dengan cara yang benar, sesuai dengan kehendak Tuhan. Dunia memiliki kacamata yang berbeda saat memandang berkat. Bagi dunia, berkat biasanya berbicara tentang pemenuhan diri sendiri, sehingga membuat seseorang semakin egosentris, tidak pernah puas, dan pada akhirnya menderita dan tak pernah sungguh-sungguh bahagia karena mengejar berkat demi kepuasan diri sendiri.
Orang percaya harus memandang berkat sebagaimana Tuhan menghendakinya: kita diberkati supaya menjadi berkat bagi orang lain, yakni supaya nama Tuhan semakin diperkenalkan dan diagungkan. Saat Allah memanggil Abraham dan mengutusnya pergi dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madu, Allah memaksudkan agar Abraham menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak ada penekanan egosentris di sana, melainkan sebuah cara pandang yang mendorong Abraham hidup sesuai kehendak Tuhan. Kejadian 12:1-3 berkata, berfirmanlah Tuhan kepada Abram, "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Penekanan dari panggilan dan pengutusan Abraham ada pada kalimat ini, "engkau akan menjadi berkat" dan "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Inilah cara pandang orang percaya terhadap berkat Tuhan atas hidupnya.
Dari Mazmur 67:1-8, kita dapat belajar beberapa poin penting. Pertama, Mazmur 67 adalah ucapan syukur umat Allah kepada Tuhan yang telah mengasihani dan memberkati mereka. Bentuk pemberkatan Tuhan ini nyata ketika "tanah telah memberi hasilnya," yang menegaskan berkat Tuhan atas umat yang menaruh harap hanya kepada-Nya. Namun, poin besarnya bukan sekadar agar umat menikmati hasil tanah, melainkan supaya Tuhan Sang Sumber Berkat diperkenalkan kepada bangsa-bangsa.
Pemazmur berkata, "Supaya jalan-Mu dikenal di bumi dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa" (ayat 3). Kehadiran Allah dan berkat-Nya dalam hidup umat-Nya bukan untuk dinikmati secara eksklusif. Sebagaimana bangsa-bangsa gentar dan mengakui kuasa Allah saat mendengar perbuatan-perbuatan besar-Nya bagi Israel di tanah Mesir dan pembebasan yang dilakukan-Nya, maka gereja di masa kini pun dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan agar orang-orang mengakui Yesus Kristus sebagai Allah yang benar dan hidup. Kehadiran kita sebagai orang percaya adalah untuk menyatakan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan benar. Sebagaimana kata pemazmur, saat umat Allah bersyukur kepada Allah, bangsa-bangsa lain pun akan turut bersyukur. Saat suku-suku Israel bersukacita atas perbuatan besar Tuhan, maka suku-suku bangsa yang lain pun bersukacita dan bersorak-sorai atas perbuatan Tuhan. Hal ini sekaligus menegaskan keadilan Allah yang bukan hanya rindu memberkati umat-Nya, tetapi juga rindu memberkati bangsa-bangsa lain.
Poin kedua yang sama pentingnya adalah bahwa berkat Tuhan mendorong seseorang untuk masuk dalam sebuah proses yang menuntutnya bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Dalam ayat 2, pemazmur membuka dengan doa, "Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita." Ini adalah doa bagi sebuah proses: saat umat mulai menanam dan merawat tanaman mereka, mereka melakukannya dengan penuh doa kepada Tuhan agar Dia membuat hasil panen mereka berhasil. Hal ini mengingatkan kita pada doa imam dalam Bilangan 6:24-26, yang menjadi refleksi harapan bagi mereka yang sedang berjuang dalam hidup, "Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera."
Berkat tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang kita terima secara pasif tanpa usaha. Justru, berkat yang didoakan harus mendorong kita untuk berjuang. Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Korintus 15:10, bahwa meskipun ia ada karena kasih karunia Allah, kasih karunia itu tidak sia-sia karena kasih karunia itu justru mendorongnya untuk bekerja lebih keras. Anugerah Tuhan, bagi Paulus, mendorong seseorang melakukan yang terbaik. Anugerah bukanlah anugerah yang benar jika membuat seseorang menjadi malas dan tidak melakukan yang terbaik.
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan, tidak ada satu hari pun di mana Tuhan tidak memberkati kita. Pemeliharaan-Nya selalu baru, seperti manna yang dicurahkan setiap pagi bagi orang Israel. Berkat terbesar kita adalah keselamatan melalui Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit demi keselamatan kita, dan berkat-berkat lainnya pun dicurahkan-Nya juga bagi kita: talenta, kesehatan dan kekuatan, hikmat dan kepandaian, juga kesempatan bersekolah untuk meraih cita-cita. Ini semua adalah pemberian tangan-Nya. Kita tidak boleh memandang berkat Tuhan dengan remeh. Jika kita diberi kesempatan bersekolah, berjuanglah melakukan yang terbaik agar cita-cita dapat diraih.
Kita melihat perjuangan orang tua yang bekerja keras dalam proses yang menuntut ketekunan, di mana saat hasil itu datang, Tuhan dimuliakan dan orang tua dapat menjadi kesaksian bagi banyak orang, terutama menjadi contoh dan teladan bagi kita. Maka, ketika "tanah telah memberi hasilnya" dalam segala bentuk di hidup kita—baik itu keberhasilan studi, kesehatan, maupun talenta—sadarilah bahwa Tuhan Allah telah memberkati kita. Maukah kita melaksanakan panggilan kesaksian kita di tengah dunia? Mari kita gunakan setiap berkat Tuhan untuk bekerja lebih keras, melakukan yang terbaik, dan menjadi kesaksian, sehingga nama-Nya dimuliakan melalui hidup yang kita jalani. Amin.


