GMIM

BINA REMAJA · 2025-08-23

Bina Remaja GMIM, 24-30 Agustus 2025,

Hormatilah Pemimpin dan Hiduplah Selalu Dalam Damai Seorang dengan yang Lain

Kapan Tuhan Yesus datang kembali? Ini menjadi pertanyaan
semua orang Kristen sejak masa lampau hingga kini. Tidak ada
seorangpun yang tahu secara pasti, sebab ini merupakan misteri Allah.
Namun, reaksi orang terhadap pertanyaan tersebut berbeda-beda.
Demikian halnya Jemaat di Tesalonika. Mereka adalah orang-orang
yang bertobat dan meninggalkan penyembahan berhala dan menjadi
penyembah Tuhan. Jemaat menghadapi tekanan dan penganiayaan,
sebab itu mereka ingin sekali Tuhan segera datang agar mereka bisa
hidup di sorga. Keinginan ini membuat mereka menjadi lemah, malas
dan tidak lagi giat bekeija dalam Injil. Setiap hari mereka hanya
menunggu-nunggu kedatangan Tuhan.

Rasul Paulus mengirimkan surat dan menasihati mereka untuk
hidup benar seperti yang Tuhan kehendaki. Menanti kedatangan Tuhan
yang kedua kali tidak boleh dilakukan secara pasif, bermalasan dan
menunggu saja. Menanti Tuhan harus dilakukan secara aktif, tekun
mengerjakan setiap tugas dan tanggungjawab seperti yang Tuhan
kehendaki. Iman harus berbuah dalam tindakan. Sebab, kita tidak
pernah tahu kapan Tuhan datang, tapi satu hal yang pasti, Tuhan mau Ia
mendapati kita beriman dan hidup benar ketika Ia kembali sebagai
Hakim atas semesta.

Termasuk dalam kehidupan kita, sebagai remaja kristen. Kita
sedang menanti Tuhan datang kembali. Penantian ini harus diisi dengan
perbuatan baik yang memuliakan Tuhan, menjadi berkat bagi pelayanan
gereja dan orang banyak, serta berdampak positif dalam kehidupan
bermasyarakat dan berbangsa. Remaja gereja harus hidup
bertanggungjawab, kudus dan bermanfaat.

Ada dua hal yang ditekankan. Pertama, hormati pemimpin.
Nasihat ini mengingatkan kita, pentingnya memiliki sikap menghormati
orang lain, apalagi mereka yang memandu kita untuk melakukan apa
yang benar. Menghormati adalah tindakan sopan yang lahir dari sikap
menghargai nasihat dan menerima didikan. Jadi, kita tidak bisa
menghormati jika bertindak egois, sombong, keras hati dan menolak
nasihat. Sikap seperti ini justru merugikan diri sendiri, sebab kita pasti
gagal bertumbuh bijaksana dan bertambah dan kebajikan.

Kedua, hidup damai dengan orang lain. Sekarang ini tindak
kejahatan merajalela. Kasus kekerasan, bully, pelecehan, perdagangan
manusia (prostitusi Online) dan banyak lagi yang lain. Di tengah
keadaan ini, Tuhan mau kita menjadi pembawa damai. Membawa damai
bukan sebatas bersikap tenang dan tidak bertengkar dengan orang lain.
Melainkan menjadi pelaku kebenaran sehingga keberadaan kita dapat
menjadi teladan bagi orang lain. Melalui tindakan nyata, kita menjaga
kekudusan hidup dalam Tuhan. Kita meneladankan cara hidup yang
tidak membalas jahat dengan jahat, bersukacita dalam segala keadaan,
bertekun dalam doa serta selalu mengucap syukur.

Untuk dapat melakukan semua itu, kita membutuhkan
pertolongan Tuhan. Perbuatan baik tidak bisa dilakukan dengan
mengandalkan kemampuan sendiri sebab ada banyak tantangan dan
godaan yang membuat kita jatuh. Firman Tuhan menasihati, “jangan
padamkan Roh”. Hidup kita harus dipimpin Roh Tuhan, supaya kita
bisa menguji segala sesuatu berdasarkan pada kehendak Tuhan dan
berpegang pada yang baik dan menjauhkan diri dari segala kejahatan.

Kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan datang kembali. Kita
juga tak perlu berdebat tentang hal ini, sebab kedatangan Tuhan adalah
rahasia Tuhan. Tetapi yang penting dan wajib kita lakukan adalah
mempersiapkan diri setiap waktu agar ketika Tuhan datang, Ia
mendapati kita layak untuk kehidupan kekal. Mempersiapkan diri bukan
tentang fisik dan materi, melainkan kualitas hidup beriman yang
menjadi garam dan terang di tengah dunia. Amin.

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 24/8/2025