GMIM

BINA REMAJA · 2026-02-07

Bina Remaja GMIM, 8-14 Februari 2026,

Hitung dan Catatlah Segenap Umat

Satu pertanyaan yang muncul, mengapa Allah perlu menghitung jumlah bangsa
Israel? Ada satu hal yang harus kita perhatikan dengan jelas dari catatan Bilangan 1:1-54. Allah tidak sedang menghitung banyaknya
orang, melainkan menyebut tiap kaum keluarga Israel. Allah tidak menghitung pengikut, tapi menyebut peran dan tanggungjawab orang yang mengikutinya. Ini
bukan soal jumlah yang hadir, melainkan yang mau tunduk menjalankan peran. Ada pola jelas : disebutkan =
diberi peran = bertanggungjawab.

Apa yang disaksikan dalam cerita Bangsa Israel ini menjadi bahan koreksi bagi
orang percaya dalam menjalani hidup, termasuk sebagai remaja gereja. Ketika banyak orang datang ke
gereja/ibadah agar kehadirannya "dihitung" (dilihat orang), firman Tuhan justru menyatakan Tuhan tidak
hanya melihat kehadiran, tetapi memberikan peran dan tanggungjawab. Artinya, ada tugas untuk melakukan
firmanNya dalam hidup. Jadi umat Tuhan itu, bukan sekadar datang ke gereja, tapi juga hadir menjadi
gereja di semua lingkungan. Hadir sebagai garam dan terang di lingkungan bergaul, di sekolah, di
keluarga, dan di mana saja berada. Bagian ini menolak cara hidup generasi muda yang "suka dilihat tapi
tidak mau taat".

Selanjutnya mari perhatikan dari cerita Bilangan ini, Suku Lewi tidak dihitung
bersama Suku-suku lain. Suku Lewi di hitung sendiri. Bukan karena ada hierarki dalam pandangan Allah,
melainkan karena Tuhan tidak menyamakan peran. Masing-masing ada tugasnya. Ada yang dicatat untuk berperang, ada yang dicatat untuk melayani di
rumah Allah. Berbeda tapi sama-sama punya peran dan tanggungjawab. Suku Lewi tidak lebih rendah
dari suku lain, demikian juga sebaliknya.

Hal ini mengajari orang percaya untuk tidak membandingkan hidup dengan yang
lain. Ada yang kebagian di atas panggung, ada yang dibelakang layar. Ada yang dilihat orang, ada yang
tersembunyi tak dikenal. Tapi semuanya sama-sama dilihat Tuhan. Sama-sama dipakai Tuhan. Yang membuat berbeda adalah, respon
sebagai orang percaya terhadap peran dan tanggungjawab yang Tuhan beri. Adakah kita berlaku setia, atau
malah terjebak dalam cemburu dan iri yang menimbulkan perpecahan.

Firman Tuhan menyatakan dengan tegas Tuhan menolak mental inferior (lebih
rendah) dan superior (lebih tinggi) dalam melayani Tuhan. Sebab yang Tuhan lihat bukan tepuk tangan
orang atas penampilan kita, melainkan ketaatan melakukan tanggungjawab. Ini yang seringkali kita lupa
saat pelayanan berhasil dan mendapat pujian orang. Persoalan yang banyak terjadi di hari-hari ini bukan
karena kekurangan pelayan bertalenta untuk bekerja, tapi kebanyakan pelayan menuntut pujian lebih atas
hasil kerjanya.

Sebagai remaja gereja, ini pesan firman yang harus dilakukan:

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 8/2/2026