GMIM

LANSIA · 2025-08-23

Renungan Lansia GMIM, 24-30 Agustus 2025

Hormatilah Pemimpin dan Hiduplah Selalu dalam Damai Seorang dengan yang Lain

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Terpujilah Tuhan Allah karena kita masih menikmati
hari-hari hidup anugerah-Nya. Walau tubuh kita semakin
menua, tetapi hati kita tetap bersemangat karena kasih-Nya.
Perenungan Firman Tuhan pada minggu yang berjalan ini,
dari tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Waktu
itu, jemaat sedang menghadapi banyak tantangan, tetapi
Paulus tetap menguatkan mereka agar hidup dengan rukun,
saling menghormati dan tetap bersukacita. Perikop 1
Tesalonika 5:12-22, mengandung pesan yang sangat praktis
dan penting dalam kehidupan bergereja dan kehidupan sehari-
hari sebagai orang percaya di bawah tema, “Hormatilah
Pemimpin dan Hiduplah Selalu Dalam Damai Seorang Akan
yang Lain.”

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Di tengah dunia yang penuh konflik, ketidakpercayaan,
dan sikap individualis, firman Tuhan mengajak kita untuk hidup
dalam damai dan saling menghormati terutama terhadap
pemimpin rohani yang dipercayakan untuk menggembalakan
kita. Beberapa hal yang merupakan pokok-pokok penting
dalam perikop bacaan kita ini diuraikan berikut. Pertama,
menghormati pemimpin. Pada ayat 12-13 ditulis : “Kami minta
kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati
mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin
kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu, dan supaya kamu
sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena
pekerjaan mereka.” Di gereja kita ada pemimpin-pemimpin
yang Tuhan Allah percayakan, seperti diaken, penatua, guru
agama pendeta dan pelayan-pelayan lainnya, mereka melayani
bukan karena mereka sempurna, tetapi karena Tuhan Allah
yang memanggil mereka dan diperlengaki-Nya.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang percaya?
Sebagai orang percaya yang dapat kita lakukan adalah
mendoakan mereka, mendukung pelayanan mereka,
mendengarkan nasihat serta teguran mereka dalam kasih.
Sebagai warga jemaat lanjut usia mari kita jadi teladan bagi
yang muda, dengan menunjukkan sikap hormat kepada para
pemimpin. Kedua, hiduplah dalam damai dengan sesama .
Pada ayat 13b ditulis “...Hiduplah selalu dalam damai seorang
dengan yang lain." Damai bukan hanya tidak bertengkar, tetapi
hidup dengan hati yang tenang dan saling menerima seta saling
mengampuni. Saling menerima adalah kunci dari menciptakan
hidup damai. Saling menerima diuji ketika ada hal-hal yang
perlu diperbaiki sehingga perlu nasihat atau teguran dan kita
membuka diri menerima nasihat itu. Rasul Paulus
mengingatkan: Kalau ada yang tidak tertib, jangan diam saja,
tetapi tegurlah dengan kasih. Kalau ada yang sedih, hiburlah.
Kalau ada yang lemah, tolonglah dan sabarlah kepada semua
orang. Kita yang sudah berumur pasti banyak pengalaman dan
berhikmat. Kita bisa jadi teladan dalam mengampuni, saling
membantu dan tidak cepat marah.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Ketiga, jaga sikap hati. Hati dimaksud dalam khotbah
ini adalah pusat perasaan, pikiran dan kehendak seseorang.
Hati adalah tempat di mana kita merasakan, memikirkan dan
mengambil keputusan. Hati di mana kita merasa sesuatu,
seperti sukacita, damai, kesedihan, marah atau kasih. Hati juga
tempat kita menentukan sikap dan perilaku, mau mengampuni,
mau menolong, mau bersabar atau malah menjadi marah dan
benci. Dalam Alkitab, hati sering dianggap sebagai pusat jiwa
dan roh manusia, bukan cuma organ tubuh. Jadi, saat Paulus
berbicara tentang “memelihara hati” atau “sikap hati,” dia
mengajak kita untuk menjaga apa yang kita rasakan dan
pikirkan supaya tetap baik, penuh kasih, sabar, dan bersyukur.
Karena dari hati yang baik akan keluar tindakan dan perkataan
yang juga baik. Kalau hati kita damai, maka hidup kita dengan
orang lain juga akan damai.

Pada ayat 16-18 ditulis, “Bersukacitalah senantiasa.
Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal sebab
itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Walau usia makin lanjut, bukan berarti semangat kita padam.
Paulus mengingatkan kita agar tetaplah bersukacita, karena
sukacita bukan tergantung pada keadaan, tetapi karena Yesus
Kristus beserta kita. Tetap berdoalah, walau di rumah, di tempat
tidur, Tuhan Allah mendengar doa kita. Tetap bersyukurlah,
meski tubuh tak sekuat dulu, karena Dia tetap setia.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Keempat, menyalakan api Roh Kudus. Kuasa Roh
Kudus harus senantiasa dikobarkan, jangan dibuat padam agar
selalu mendapatkan kekuatan di tengah badai kehidupan. Lalu
tetaplah menganggap penting tentang apa yang telah
dinubuatkan Tuhan Allah, agar orang percaya dalam
kehidupannya senantiasa berorientasi kepada kekekalan.
Sehingga dalam hidup tidak akan mudah dibodohi dengan
tawaran-tawaran yang ternyata menjerumuskan, melainkan
ujilah segala sesuatu lalu berpegang pada apa yang baik dan
menjauhkan diri dari apa yang jahat.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,

Kita diajak untuk mengingat hal-hal ini: hormatilah
pemimpin yang Tuhan Allah pakai, hiduplah dalam damai
dengan orang lain dan pelihara hati kita agar tetap bersyukur,
berdoalah dan bersukacitalah. Meskipun usia kita sudah lanjut,
hidup kita masih sangat berarti bagi anak cucu, bagi gereja dan
masyarakat. Banyak persoalan yang dihadapi keluarga, gereja
dan di masyarakat yang membutuhkan kehadiran kita dalam
menyelesaikannya. Tuhan Allah tetap punya rancangan damai
sejahtera bagi kehidupan kita diusia lanjut. Selagi kita masih
hidup, kita masih bisa jadi terang dan berkat. Yesus Kristus
memberkati kita semua. Amin.

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 24/8/2025