GMIM

Obor GMIM 28 Juli: Batu Sandungan, Yohanes 7:3-5

OBOR PEMUDA · 2026-07-27

Renungan Obor Pemuda GMIM 28 Juli 2026 Yohanes 7:3-5 Batu Sandungan

Yohanes 7:3-5

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi menempatkan seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina di tengah-tengah orang banyak, lalu bertanya kepada Yesus, "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apa pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus.

--- Yohanes 7:3-5

BATU SANDUNGAN

Yohanes 7:3-5 mengajarkan bahwa memanfaatkan kesalahan dan rasa malu orang lain demi mencapai tujuan pribadi adalah tindakan yang menjadikan kita batu sandungan bagi sesama.

Sobat Obor, Yesus kembali ada di bait Allah dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Dua hari berturut-turut Yesus mengajar di bait Allah. Pengajaran Yesus hari pertama dilaporkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka marah dan bersiasat untuk menguji dan menjebak Yesus.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina. Situasi ini bukan persidangan yang dapat mengambil keputusan atas kesalahan seseorang. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika sedang berbuat zina. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apa pendapat-Mu tentang hal itu?" Dikatakan dalam ayat ke-6, mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus.

Sobat Obor, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menggunakan kesalahan perempuan itu untuk mencapai tujuan utama mereka, yaitu menjebak Yesus. Cara yang digunakan, membawa seorang perempuan yang dituduh berzina. Mereka mengatakan tertangkap basah berzina. Apa arti berzina? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berzina adalah berbuat zina. Adapun zina berarti perbuatan bersenggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan. Dari definisi ini kita tahu ada dua pihak, laki-laki dan perempuan. Anehnya yang dibawa ke hadapan Yesus hanya perempuannya, di mana laki-lakinya? Dalam hukum Musa yang dihukum keduanya, laki-laki dan perempuan. Jelaslah bahwa tujuan utama mereka bukan untuk menegakkan hukum Taurat, tapi untuk mempersalahkan Yesus. Mereka tidak peduli dengan perasaan perempuan itu. Mereka tidak peduli dengan proses persidangan, yang ada di benak mereka bagaimana supaya Yesus melakukan kesalahan agar boleh dipersalahkan. Seolah mereka menghalalkan cara keliru asalkan tujuan mereka tercapai.

Sobat Obor, dari kisah ini kita belajar untuk tidak menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan kita. Kurang tepat jika keberdosaan orang lain diumbar supaya tujuan kita terwujud. Berikut semoga kita tidak jadi batu sandungan bagi orang lain, merancang sesuatu dengan motivasi untuk menjatuhkan dan mempersalahkan orang lain. Semoga Tuhan memampukan kita menikmati kehidupan dengan damai dan sejahtera. Amin.

3 Pelajaran dari Yohanes 7:3-5

  • Memanfaatkan kesalahan orang lain demi kepentingan sendiri adalah bentuk ketidakadilan yang tersembunyi.
  • Tujuan yang benar tidak pernah membenarkan cara yang keliru untuk mencapainya.
  • Sobat Obor dipanggil untuk tidak menjadi batu sandungan yang menjatuhkan sesama.

Tentang Penulis

Ditulis oleh Pdt. Frany Prokla Kuron, S.Th di bawah pengelolaan Donald K. Lumingkewas, berafiliasi dengan Dodoku GMIM, media informasi warga GMIM di Sulawesi Utara. Lihat profil lengkap di halaman Tentang.

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 27/7/2026