GMIM

PELITA PKB · 2025-09-14

Pelita PKB GMIM 14-20 September 2025

Orang Benar Akan Masuk Ke Dalam Hidup Yang Kekal

Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan!

Matius 25:31-46 adalah bagian terakhir dari rangkaian
pengajaran Yesus mengenai penghakiman akhir. Ini dikenal
sebagai perumpamaan tentang penghakiman terakhir atau
perumpamaan tentang domba dan kambing. Yesus
menggambarkan kedatangan-Nya dalam kemuliaan sebagai Raja
dan Hakim, lalu duduk di atas takhta-Nya. Ia akan memisahkan
semua bangsa seperti gembala memisahkan domba dari
kambing. Domba di sebelah kanan adalah orang benar, dan
kambing di sebelah kiri adalah orang fasik.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!

Dikatakan bahwa Anak Manusia akan datang dan duduk
di atas takhta kemuliaan. Semua bangsa di dunia akan
dikumpulkan di hadapan-Nya. Anak Manusia itu akan
memisahkan seorang dari pada seorang. Hal ini diumpamakan
dengan pemisahan domba dan kambing. Raja (Anak Manusia)
itu akan memberikan Kerajaan yang telah disediakan Allah
kepada mereka yang diberkati. Siapakah mereka yang diberkati
oleh Allah? Mereka adalah orang-orang yang melakukan segala
sesuatu kepada orang yang lemah, yang tidak berdaya, yang
membutuhkan pertolongan mereka. Berbeda dengan orang-
orang terkutuk, Raja tidak memberikan Kerajaan, justru
menyingkirkan mereka ke dalam api yang kekal, tempat bagi iblis
dan para pelayan atau pengikutnya. Mengapa? Karena mereka
tidak berbuat apa-apa untuk memberikan pertolongan kepada
orang yang lemah, yang tidak berdaya, yang menderita, yang
membutuhkan pertolongan mereka. Ditegaskan bahwa orang-
orang terkutuk akan dimasukkan ke tempat siksaan kekal,
sedangkan orang benar ke dalam hidup yang kekal.

Yesus memberi perhatian khusus terhadap orang-orang
yang termarginalisasi atau tersingkirkan dan tertekan di kalangan
Yudaisme dan masyarakat umum; sementara Matius menulis
kitab ini karena memberi perhatian tersendiri kepada orang-
orang Kristen yang teraniaya karena iman kepada Kristus.
Banyak pengikut Kristus mengalami penderitaan karena
dimusuhi dan dibenci oleh sekelompok Yahudi. Pengikut Kristus
dianggap sebagai kelompok sekte Yahudi yang harus
dibinasakan. Hal ini membuat orang Kristen di mana-mana tidak
tenang.

Dalam konteks itulah, Yesus maupun Matius hendak
menekankan bahwa hal terpenting dalam rangka memperoleh
keselamatan bukan bergantung pada identitas religius tetapi pada
perbuatan kasih secara konkret bagi orang yang membutuhkan
pertolongan. Melayani atau membantu orang yang menderita
berarti telah melakukan perbuatan yang melayani Tuhan.
Tindakan kasih kepada sesama berupa memberi makan,
memberi minum, menyambut orang asing, memberi pakaian,
merawat orang sakit, mengunjungi yang di penjara. Orang-orang
beriman yang melakukan perbuatan kasih sedemikian,
merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang diberkati;
orang-orang yang akan menerima Kerajaan; orang-orang yang
akan masuk ke dalam hidup yang kekal. Sedangkan orang-orang
yang tidak berbuat apa-apa untuk memberikan pertolongan
kepada mereka yang tidak berdaya akan dipandang Allah
sebagai orang-orang terkutuk; orang-orang fasik; yang tidak mau
melakukan kehendak Allah dan dilemparkan ke dalam tempat
hukuman atau siksaan kekal.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!

Kita telah memiliki Tuhan Yesus sebagai Raja kekal dan
hakim pada akhir zaman, Ia akan datang dalam kemuliaan dan
menentukan nasib kekal semua manusia. Namun bacaan firman
saat ini mengoreksi pemahaman yang sempit bahwa keselamatan
itu hanya cukup memiliki iman atau identitas religius. Karena
ternyata yang benar adalah selain beriman kita harus memiliki
perbuatan kasih yang nyata. Dan inilah yang akan dijadikan
ukuran penghakiman di akhir zaman. Penghakiman tidak
didasarkan pada pengakuan iman semata, tetapi perbuatan kasih
yang nyata terhadap sesama, terutama mereka yang hina dan
terpinggirkan. Tindakan terhadap orang lain mewakili sikap
terhadap Kristus sendiri. Jadi betapa pentingnya pelayanan kasih.
Sebab iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Yesus
mengidentifikasikan diri-Nya dengan yang lapar, haus, asing,
telanjang, sakit, dan terpenjara. Maka jika kita mengabaikan
mereka sama dengan mengabaikan Yesus sendiri. Status terkutuk
ternyata bukan saja diukur dari berbuat dosa tetapi juga karena
tidak melakukan perbuatan baik yang seharusnya mampu
dilakukan. Konsekuensinya pun tidak main-main yaitu
dimasukkan ke dalam hukuman kekal tempat iblis dan para
pengikutnya. AMIN.

Pertanyaan untuk PA:

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 14/9/2025