GMIM

PELITA PKB · 2025-08-24

Pelita PKB GMIM 24-30 Agustus 2025

Hormatilah Pemimpin dan Hiduplah Selalu Dalam Damai Seorang dengan yang Lain

Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati
Tuhan!

Tema kita minggu ini adalah “Hormatilah Pemimpin
dan Hiduplah Selalu Dalam Damai Seorang Dengan
Yang Lain.” Tema ini diambil dari bacaan Alkitab 1 Tesalonika
5:12-22. Surat ini diyakini ditulis oleh rasul Paulus yang
dialamatkan pertama kali kepada Jemaat di Tesalonika, ibu kota
provinsi Makedonia (sekarang berada di Yunani), yang didirikan
Paulus dalam perjalanan misi keduanya (Kisah Para Rasul 17:1-
9). Paulus kemungkinan menuliskan surat ini dari Korintus sekitar
tahun 50-51 Masehi, sebab itu kitab 1 Tesalonika dipandang
sebagai surat tertua dalam Perjanjian Baru.

Namun mereka tengah menghadapi tekanan baik dari
masyarakat Yahudi maupun dari penduduk lokal. Karena
tekanan tersebut, Paulus harus meninggalkan kota itu lebih cepat
dari yang direncanakan (Kisah Para Rasul 17:10). Ia kemudian
mengirim Timotius untuk menguatkan mereka, lalu menulis surat
ini untuk menasihati dan mendorong mereka.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!

Surat ini ditulis untuk memberi penguatan kepada jemaat
yang mengalami tekanan. Jemaat yang baru terbentuk ini terdiri
dari orang Yahudi dan orang Yunani yang percaya kepada
Kristus. Surat ini juga hendak menjawab kebingungan soal
kedatangan Kristus (Parousia). Di bagian akhir, surat ini
bermaksud menasihati tentang cara hidup praktis di tengah
persekutuan jemaat dan masyarakat umum. Hal ini dapat kita
temukan dalam bacaan kita saat ini pasal 5:12-22. Di mana,
Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk saling
menguatkan dan membangun iman sesama anggota jemaat.
Termasuk menghormati atau mendengarkan para pemimpin di
dalam jemaat maupun masyarakat. Sebab kedamaian dalam
komunitas dimulai dari sikap saling menghargai.

Jelas dalam perikop ini, kita melihat dalam upaya-upaya
mewujudkan kedamaian, maka jemaat dipanggil untuk aktif
menolong satu sama lain: menegur yang salah, menghibur yang
sedih, dan menolong yang lemah dengan kesabaran. Jangan
membalas kejahatan, tetapi melakukan kebaikan, bahkan kepada
semua orang, termasuk yang di luar komunitas iman (kasih dan
keselamatan Allah berlaku universal). Menegur yang salah di sini
dalam arti menasihati untuk kebaikan bukan untuk men-judge
(menghakimi).

Selanjutnya kita perhatikan bahwa bagi Paulus, jemaat
Kristen wajib memiliki tiga sikap utama sehari-hari yaitu
bersukacita
, berdoa, dan bersyukur. Dikatakan wajib karena ini
adalah kehendak Tuhan. Paulus juga mau jemaat menghargai
karunia rohani, terutama nubuat, tapi tetap menguji semua itu
dengan firman atau ajaran Kristus. Karunia rohani yang benar
adalah untuk membangun jemaat (berlandaskan kasih) bukan
untuk memecah belah persekutuan; bukan juga untuk
penonjolan diri tapi untuk kemuliaan nama Tuhan. Jemaat harus
selalu berpegang pada apa yang benar dan baik. Terutama
menghindari segala bentuk kejahatan bukan hanya kejahatan itu
sendiri, tapi segala bentuk atau rupa yang menyerupai kejahatan.

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!

Marilah kita membangun komunitas yang saling
mendukung dan menghargai sekalipun ada perbedaan bahkan
kekurangan. Tak ada seorangpun yang sempurna atau tanpa
kekurangan. P/KB harus menjadi pemimpin yang baik dan benar-
benar patut diteladani dalam keluarga. Dan kita menampilkan
cara-cara yang baik dalam menghormati para pemimpin di
dalam jemaat dan masyarakat, walaupun kita tahu para
pemimpin, siapa pun, tak lepas dari keterbatasan. Kita wajib
menopang para pemimpin dalam rangka keutuhan persekutuan
gereja maupun masyarakat. Kita dapat memberi kritikan asalkan
itu masukan yang konstruktif dan dengan ramah. Sebaliknya
para pemimpin berjiwa besar, tidak alergi menerima kritikan
demi pelayanan yang lebih baik, dan tidak memandang orang-
orang yang menyampaikan kritikan sebagai musuh yang harus
disingkirkan.
Dalam mewujudkan kedamaian, P/KB GMIM
mempraktikkan kasih yang aktif dan sabar, selalu tampil sebagai
pembawa damai dan kebaikan bukan provokator. Hidup kita
sehari-hari diwarnai dengan sukacita, doa dan rasa syukur
sebagai tanda kehidupan rohani yang sehat dan kuat. Suka
menghargai potensi karunia orang lain. Paling utama firman
Tuhan selalu jadi pegangan pedoman sehingga kita bijak
menyikapi segala sesuatu dan mawas diri agar dalam segala hal
tidak terjerumus pada segala bentuk kejahatan. AMIN.

Pertanyaan untuk PA:

Bagikan:

Artikel Terkait

Bagikan Artikel Ini

Artikel Terkait

Terakhir Diperbarui: 24/8/2025